
Syaza malas melayani pertanyaan teman-temannya mengenai dahinya yang bertampal dan kaitannya dengan Arif. Syaza hanya tersenyum sambil menyelesaikan kerjanya yang tertinggal.
Daniel yang keluar dari ruangannya terlihat Syaza yang sedang mengetik di komputer. Dia terkejut melihat dahi gadis itu yang bertampal.
Belum sempat Daniel menghampiri Syaza, dia dipanghil masuk oleh Arif. Dia merasa Syaza meliriknya ketika dia melintasi meja gadis itu untuk ke ruangan Arif.
Syaza merapikan barangnya. Dia melangkah ke toilet untuk merapikan diri sedikit. Setelah memastikan segalanya sempurna, dia bergegas keluar dari kantornya.
Dia menyetir mobilnya membelah kesesakan jalan raya menuju ke Taipan USJ. Setelah satu jam terperangkap dalam kesesakan, akhirnya dia sampai juga ke tempat pertemuannya dengan Najwan seperti yang telah mereka janjikan. Syaza terpaksa memarkirkan mobilnya di tempat parkir mobil yang berbayar karena hampir 5 menit dia berkeliling di sekitar kawasan tersebut, tapi masih tiada tempat parkir mobil yang kosong. Kakinya berjalan cepat menyeberangi jalan menuju ke Restoran Sare Haji Samuri yang berhadapan dengan tempat parkir mobil tersebut. Sambil berjalan, matanya melihat ke dalam restoran tersebut sambil mencari-cari tubuh Najwan. Akhirnya matanya menangkap tubuh seorang pria yang sedang fokus meneliti sesuatu. Syaza tersenyum lega. Dia berhenti seketika sebelum memasuki restoran tersebut. Tangannya menarik perekat luka yang di tempel pada dahi. Syaza tidak mau Najwan bertanya padanya tentang luka yang ada pada dahinya itu. Dia menarik sedikit rambut depannya untuk menutupi kesan luka tersebut.
"Hai, Naj ! Sudah lama menunggu ?" Syaza menegur Najwan yang masih tidak merasa akan kehadirannya di situ. Dia terus duduk di depan pria itu sambil tersenyum.
"Aku juga baru sampai. Kamu mau makan apa ? Kita makan sate saja ya ?" Tanya Najwan sambil melambaikan tangan pada pekerja restoran itu. Syaza hanya mengangguk setuju. (Orang mau mentraktir, kita mengikut sajalah !) Desis hatinya.
"Saya mau 10 tusuk sate ayam dan 10 tusuk sate daging. Kamu mau minum apa, Syaz ?"
"Sya mau es kelapa."
"Saya mau es leci kang. Oke, itu saja. Cepat sedikit ya dik ! Perut Abang sudah sangat lapar ini !" Najwan berkata pada pekerja tersebut sambil mengusap-usap perutnya. Syaza tertawa kecil melihat perilaku temannya itu. Dia merasa pekerja itu berlalu pergi sambil tersenyum simpul.
__ADS_1
"Oke... Tadi pagi kamu bilang ada hal penting mau dibicarakan denganku. Sekarang, katakan ! Aku mendengarkannmu." Najwan menyandarkan badannya pada kursi sambil memandang Syaza di depannya. Matanya merasa ada luka kecil di dahi Syaza ketika gadis itu menyisir rambutnya ke belakang.
"Syaz, ada apa dengan dahiku itu ? Aku lihat seperti luka. Kamu baik-baik saja ?" Tanya Najwan ingin tahu. Dipanjangkan lehernya meninjau dahi gadis itu.
Syaza memegang dahinya yang tidak ditutupi rambut lagi. Kenapa dia bisa lupa pada luka di dahinya saat itu. Dia segera menarik rambut depannya kembali menutupi kesan luka.
"Kepalaku terbentur pada sudut meja di kantor waktu aku tunduk mengambil tas di dalam laciku," jelas Syaza berbohong, melindungi apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku laihat lebam itu bukan seperti terbentur pada sudut meja ! Tapi tidak mengapa... Kita kembali ke topik awal kita. Sekarang ceritalah padaku hal penting itu !"
Syaza memandang Najwan yang tidak sabar untuk mendengar apa yang ingin dikatakannya. Perasaannya tiba-tiba jadi bercampur aduk sama pantaskah dia meminta tolong dari pria itu atau tidak. Setelah bersholawat dalam hati, Syaza membuka mulutnya untuk bercerita, namun belum sempat dia memulainya, makanan yang dipesan tadi sudah sampai ke meja mereka.
"Kamu boleh cerita sambil kita makan sate ini," ujar Najwan sambil mengambil satu tusuk sate ayam lalu disuapkan ke dalam mulutnya cepat-cepat.
"Naj, sebenarnya aku mau minta tolong padamu dalam satu hal penting," Syaza meluahkan kata-katanya dalam debar.
"Pertolongan apa yang kamu minta dariku ? Kamu mau minta aku jadi peguammu ? Ceritakan dulu apa masalahnya, nanti aku pertimbangkan." Najwan mengambil sate daging dan dicelupkan ke dalam sambal kacang lalu digigitnya perlahan-lahan.
"Naj, aku bukan mau minta tolong kamu jadi peguammu. Tapi, aku mau minta tolong kamu bersandiwara sebagai teman priaku, bisa tidak ?" Ujar Syaza. Tiba-tiba dia merasa sangat segan untuk memandang wajah Najwan.
__ADS_1
"Apa !" Najwan hampir menyedot es kelapa Syaza yang berada di depannya. Tiba-tiba dia merasa tercekik setelah mendengar kata-kata gadis itu.
"Aku tahu permintaanku ini terlihat sangat lucu... Tapi aku terpaksa. Hanya kamu yang bisa menolongku," ucap Syaza lembut. Dia rasa inilah pertama kalinya dia bersuara selembut itu ketika bersama teman prianya. Bibirnya menyedot es kelapa untuk menghilangkan rasa segan yang muncul.
"Apa judul film kamu itu, Syaz ? Sepertinya berapa bayaran yang akan aku terima kalau aku setuju ?" Najwan melawak untuk menghilangkan rasa terkejutnya.
Dia tidak menyangka gadis di depannya itu akan meminta bantuan akan sesuatu hal yang tidak pernah difikirkannya.
"Naj ! Aku tidak main-main soal hal ini. Aku sudah sangat terdesak sekarang ! Hanya kamu yang bisa aku mintai tolong. Kamu kan tahu aku tidak punya pacar," ujar Syaza lagi. Dia berharap pria itu mau membantunya.
"Oke ! Sekarang bisakah kamu memberitahuku asalan apa kamu minta tolong aku untuk menjadi pacarmu ?" Tanya Najwan serius.
Syaza menceritakan masalah yang membebaninya belakangan ini. Najwan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal setelah mendengar cerita Syaza.
"Tolong, Naj ! Kamu hanya bersandiwara jadi pacarku. Itu saja !"
"Syaz, beri aku sedikit waktu untuk memikirkan semua ini. Nanti aku akan memberitahumu apa keputusanku. Hal ini tidak bisa dibuat main-main. Oke, kita sudah selesai makan, kan ? Aku mau pergi bayar makanan ini. Kamu pulang dulu," ujar Najwan seraya bangun dari kusinya.
(Pantaskah aku tolong dia ? Tapi, kalau aku tidak tolong... Kasihan juga ! Nanti temanku yang tomboi itu dipaksa menikah) kata hatinya.
__ADS_1
"Naj ! Terima kasih karena traktir aku makan ini," ucap Syaza pada pria itu yang baru melangkah ke kasir. Dia melangkah lesu menuju ke mobilnya.
Syaza menyetir mobilnya menuju ke Pelating Jaya. Dia teringat peristiwa tadi. Dari raut wajah Najwan, dai tahu pria itu terlihat keberatan untuk menolongnya. Syaza sadar dia harus mulai memikirkan rencana kedua jika rencana pertamanya itu gagal.