
"Entahlah, Nyonya... Mungkin waktu dia telepon saya pagi tadi saya baru saja selesai minum obat. Kepalaku sedikit pening."
"Lega rasanya kalau seperti itu. Okelah ! Saya mau permisi dulu. Besok kalau belum sehat juga, tidak usah datang kerja," kata Ny. Maznah.
"Tunggulah minum dulu, nyonya !" Kata Syaza lembut. Dia malu sendiri karena tidak menyediakan minuman untuk atasannya.
"Tidak usah repot-repot. Saya ada pertemuan sebentar lagi. Lagipula kamu kan sedang tidak sehat !" Syaza hanya tersenyum.
"Saya permisi dulu ! Luka di dahi jangan lupa dioles obat. hati hati !"
Syaza berdiri di depan pintu apartemennya. Matanya mengikuti kelibat tubuh Ny. Maznah yang memasuki lift. Dia kembali ke dalam kamar lalu merebahkan diri di atas kasurnya lagi.
Manakala Daniel di kantor merasa heran karena Syaza tidak kelihatan selama setengah hari. Dari pagi sampai waktu istirahat siang Syaza tidak ditemuinya.
"Aliah, kamu tahu tidak kemana Syaza pergi ? Dari pagi sampai sekarang aku tidak melihatnya ?" Tanya Daniel ketika mengambil surat kabar Malay Mail yang terletak di atas meja sofa. Tangannya menyilak helaian demi helaian tapi satu berita pun tidak menarik perhatiannya. Penumpuannya lebih pada persoalan tentang ketiadaan Syaza.
"Kamu memang sudah ketinggalan kereta api, Tuan Daniel !" Daniel mendengar aliah berkata dalam nada mengejek.
__ADS_1
Digaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dahi Daniel berkerut-kerut memikirkan kata-kata Aliah.
Aliah ketawa terkekeh-kekeh melihat kerutan pada wajah pria berdarah campuran di depannya itu.
"Syaza izin sakit hari ini, Daniel ! Tadi pagi dia telepon aku beritahu dia tak bisa datang kerja," jelas Aliah.
Daniel berjalan ke ruangannya. Tangannya segera menekan nomor telepon Syaza tapi panggilannya itu tidak dijawab oleh Syaza. Dia mengulangi perbuatannya itu tapi hasilnya tetap sama.
"Apa parah sakitnya sampai tidak mengangkat panggilanku ini ?" Mulutnya mengomel.
(Lamanya waktu berjalan hari ini !) Dia mengomel dalam hati. Dia berencana untuk pergi ke apartemen Syaza setelah pulang kerja nanti untuk melihat sendiri keadaan gadis itu.
"Daniel, apa kamu baik-baik saja ?" Arif menyoal Daniel. Gelagat Daniel terlihat serba salah di pandangan matanya.
"Aku baik-baik saja, kenapa kamu bertanya seperti itu ?" Daniel menulis sesuatu di jadwalnya.
"Tidak apa-apa, aku cuma bertanya saja !"
__ADS_1
"Arif, Syaza memberitahumu tidak kenapa dia ambil cuti sakit hati ini ? Dia kan asisten kamu !" Tanya Daniel sambil memandang Arif yang sedang asyik menulis sesuatu di atas selembar kertas. Mungkin dia akan mendapat jawaban dari pria itu kenapa Syaza mengambil cuti sakit hati ini.
"Aku tak dapat bicara dengannya langsung hari ini. Pagi tadi aku telepon dia tapi dia tidak mengangkatnya," jelas Arif menyembunyikan resah dan rasa bersalahnya. Dia melihat dahi Daniel berkerut-kerut seolah-olah memikirkan sesuatu.
"Aku juga mengalami hal yang sama kamu. Dia langsung menolak panggilanku tadi. Risau aku dibuatnya. Parah sekali ya sakitnya sampai tidak mau menjawab panggilan dariku ?" Daniel mengomel kesal.
Arif hanya diam mendengar Omelan Daniel. Dia tak mau berkomentar lebih lanjut. Takut jika dia salah bicara, pasti pria di depannya akan mencurigai sesuatu. Namun, ada satu Kecemasan yang ada di benaknya sejak ia pertama kali bekerja di perusahaan ibunya hingga sekarang. Tentang hubungan orang ini dengan Syaza. Apakah mereka hanya teman atau lebih ?
"Daniel, apa hubunganmu dengan Syaza? Maksudku, seberapa dekat kamu dengannya?" Akhirnya muncul pertanyaan yang tersimpan di benaknya. Dia ingin tahu yang sebenarnya. Selama waktu ini ia memperhatikan bahwa Syaza dan Daniel bisa bercanda dan selalu pergi makan bersama. Dibandingkan dengan dia, meskipun Syaza dan dia selalu bersama untuk bekerja tetapi tampaknya memiliki batas Itu membatasi keintiman di antara mereka.
"Aku bersamanya hanya seorang teman, tetapi sangat dekat. Aku tidak tahu mengapa dia suka pacaran dengannya. Mungkin itu karena sikapnya yang apa adanya dan blak-blakan tidak seperti gadis lain yang pernah saya kenal ?" Ujar Daniel sambil melihat jam di pergelangan tangannya. Dia tahu bukan itu yang sepatutnya dia mau bicarakan. Entah mengapa dia tidak sanggup untuk menceritakan perasaannya yang sudah mulai mencintai Syaza karena takut akan ditertawakan oleh Arif.
"Aku kira kamu dengan dia ada hubungan spesial sebab kalian sangat mesra. Tapi benar kata kamu tadi... Walaupun Syaza itu tomboi, tapi aku rasa ada sesuatu yang istimewa pada dirinya yang membuat kita tertarik untuk berteman dengannya."
Dani merasa dari nada kata-kata Arif itu, menunjukkan pria itu juga sudah terpikat pada Syaza. Timbul sedikit rasa cemburu di hatinya tapi dia terpaksa memendamnya saja dalam hati karena dia tahu Syaza bukan miliknya dan takkan menjadi miliknya. Dia mesti sadar akan kenyataannya.
"Okelah, Daniel ! Sekarang sudah pukul lima, aku rasa kita bicara lagi tentang rencana-rencana tadi itu besok pagi. Aku ada sedikit urusan hari ini, harus pulang cepat," jelas Arif sambil mengemas file yang bertimbun-timbun di atas mejanya. Daniel berjalan keluar dari ruangan arif. Banyak rekan kerjanya sudah berangsur pulang. Jam di tangannya baru menunjukkan pukul 5.05 menit tapi banyak yang sudah pulang. Daniel menggelengkan kepala sambil melangkah ke ruangannya.
__ADS_1