
Syaza yang baru meletakkan tas pakaian di dalam kamar lalu menuju ke dapur apabila hidungnya menghirup bau masakan yang paling dirinduinya selama ini. Ditengoknya masakan yang terletak di atas dapur itu. Masak opor ayam kesukaannya serta tumis kangkung dengan rebon(ebi). Hari ini dia pasti akan menambah nasi dua tiga piring.
"Jaja, teman Jaja itu anak orang berada ya ? Umi lihat dia seperti tak terbiasa waktu dia masuk tadi ! Dia itu kerja apa ?" Teguran dari uminya mengejutkan Syaza yang sibuk mengaduk masakan opor ayam di atas kompor.
"Memang dia anak orang berada, umi. Keluarga dia ada kantor pribadi dia juga kerja pengacara. Apa ? Umi tak suka dia ?" Soal Syaza cemas. Janganlah umi membuat keputusan untuk menolak 'pria pilihannya' itu awal-awal. Kalau tidak, hancurlah rencana yang telah dia dan Najwan atur selama beberapa hari ini. Dilihatnya wajah umi yang sedang sibuk Mencampur air.
"Siapa bilang umi tak suka dia ? Mungkin dia letih sebab itu umi lihat dia seperti itu. Nanti Jaja bawa dia masuk kamar Abang Ammar. Mungkin dia mau Istirahat sebentar," kata Hajah Hawa sambil menyusun gelas di atas nampan tapi belum sempat dia berkata menyuruh Syaza membawa nampan yang berisi teko air sirup ke ruang tamu, dia melihat Syaza melangkah ke ruang tamu dengan segelas air sirup di tangannya.
"Dasar anak ini ! Seperti itukah melayani tamu yang baru datang ke rumah. Lagipula itu kan calon suaminya. Jaja ! Jaja ! Kapankah kau mau benar-benar jadi perempuan yang anggun sedikit sifatnya. Bagaimanalah bocah laki-laki itu bisa terpikat denganmu ?" Hajah Hawa mengomel perlahan. Dia menggeleng kepala melihat gelagat anak perempuan itu.
"Aik ! Cuma segelas ? Mana cukup ! Aku sangat haus nih," ucap Najwan datar. Air surup di dalam gelas itu diteguknya perlahan-lahan. Syaza memiringkan bibirnya sambil merebahkan punggungnya di atas kursi berhadapan dengannya.
"Sebentar lagi aku bawakan air sirup satu ember untukmu. Setelah itu kau boleh berenang disitu," usik Syaza. Walaupun Najwan terlihat kelelahan, tapi dia masih bisa ketawa setelah mendengar kata-katanya.
__ADS_1
"Amboi, dasar pelit ! Kalau seperti itu aku batalkan saja rencana kita itu," ujar Najwan membalas usikan Syaza. Dia lalu bangun dengan santainya berjalan ke luar rumah.
Syaza terkejut melihat perbuatan pria itu. (Naj ini, sensitif sekalu ! Masa sudah sampai tahap ini dia mau batalkan rencana yang telah diatur hanya karena segelas sirup ?) Hatinya risau tiba-tiba. Kakinya melangkah ke depan pintu untuk melihat pria itu. Syaza mengelus-elus dadanya tanda lega ketika melihat Najwan yang nyengir-nyengir sedang melangkah ke arahnya sambil memegang satu bungkusan plastik.
"Kau ini, Naj ! Aku kira kau benar-benar mau batalkan rencana kita tadi."
"Aku memang ada fikiran seperti itu tadi tapi tidak tega ketika melihat wajah umi kamu yang sangat berharap untuk menjadikan aku menantu dia."
Najwan memelototkan matanya ketika mendengar kata-kata gadis itu, dan akhirnya ketawa tercetus dari keduanya.
"Syaz ! Aku sanggup mengikuti arahannya daripada harus dipaksa menikah. Tak bisa aku bayangkan seperti apa kalau kau jadi istriku. Rasanya tiap hari aku makan nasi di warung sebab kau tak bisa memasak, pakai baju juga yang sudah selesai dilaundry sebab kau tak kau tak bisa mencuci... Dan kalau bertengkar, pasti aku denganmu... Keduanya babak-belur sebab kau kan punya sabuk hitam dalam olahraga taekwondo," usik Najwan sambil ketawa. Syaza melirik kesal ke arahnya.
"Kau kira aku sangat parah ya, Tuan Najwan ? Sampai semua pekerjaan perempuan aku tak tahu... Tolong sedikit !" Ujar Syaza.
__ADS_1
"Syaz, sebenarnya tadi aku membelikan buah tangan untuk umi kamu tapi lupa mau bawa keluar. Kan kau memberitahuku tadi kalau menginginkan anaknya, harus ambil hati ibunya dulu. Nih, ambillah !" Najwan memberi bungkusan yang berisi kerupuk pada gadis itu sambil tersenyum menyindir.
Syaza mengambil bungkusan yang diulurkan sambil tersenyum malu.
"Terima kasih, Naj. Merepotkanmu saja !"
"Tak mengapa. Aku tak repot. Bukan aku yang membuat kerupuk itu. Aku cuma beli saja," jawab Najwan lalu duduk di sofa ruang tamu rumah itu.
"Okelah, Naj... Aku ke dapur dulu. Sebenarnya sebentar lagi kita akan makan siang. Karna itu aku hanya membawakan segelas air. Kau istirahat dulu ya... Nanti kalau sudah siap, aku akan panggil kau."
Najwan mengganggukkan kepala. Syaza berjalan menuju arah dapur. Najwan membaringkan badannya di sofa lalu memejamkan matanya.
"Assalamualaikum !"
__ADS_1