
Daniel tersenyum ketika melihat komputer di meja Syaza sudah dipasang menandakan gadis itu sudah sampai. Dia mengatur kaki ke dalam ruangannya. Dia yang menahan rindu yang menggebu-gebu dalam dada selama beberapa hari itu sudah tidak sabar untuk menemui gadis pujaan hatinya itu.
Matanya melirik gelagat Syaza yang sedang sibuk berbicara dengan Arif waktu di dalam ruang rapat. Tiba-tiba dia merasa sangat cemburu ketika melihat pria itu sering merenung Syaza dengan pandangan yang sukar dimengerti.
(Kenapa hatiku sering diselimuti rasa cemburu ketika dia bersama atau jalan dengan pria lain) bisik hati Daniel.
(Syaza, walaupun pasti kau akan terkejut dengan apa yang akan kuberitahu kelak, tapi aku tidak perduli asalkan hatiku tidak tersiksa lagi dengan memendam perasaan seperti ini) hati Daniel berbisik lagi.
Daniel semakin resah memikirkan hasrat hatinya yang ingin diluahkan pada Syaza. Mungkinkah Syaza akan marah mendengar luahan perasaannya atau gadis itu akan ketawa terbahak-bahak. (Pantaskah aku berterus terang ? Satu membiarkan perasaan ini begitu saja. Ah, rumitnya keadaan jika itu berkaitan dengan hati dan perasaan !).
Syaza berjalan ke arah ruang istirahat untuk membuat Milo panas. Fikirannya masih bingung memikirkan gelagat Arif dan Daniel yang bersikap aneh sejak dia kembali bekerja hari itu. Arif dengan sikapnya yang suka merenung tajam dan selalu menyuruhnya masuk ke ruangannya walau sekedar untuk mencari file yang memang ada di depan mata. Daniel juga asyik keluar masuk ruangan hanya untuk sekedar ngobrol dengannya. (Apa yang telah terjadi di kantor waktu aku cuti kemarin ?) Tanya hatinya keliru.
__ADS_1
"Syaz, tahu tidak kedua pemuda itu sebenarnya ada hati padamu. Tapi, aku heranlah tomboi seperti kau ini juga ada orang yang minat. Ada dua orang malah. Kau pakai minyak pengasih ya ?"
Kata-kata Aliah itu disambut ketawa oleh Syaza. (Apa benar yang dikatakan Aliah ini. Daniel dan Tuan Arif menyimpan perasaan terhadapku ?) Hatinya bertanya. (Tak mungkin ! Aku ini tidak cantik atau lemah lembut seperti gadis-gadis lain).
Syaza yang sedang melamun sambil menghadap komputer terkejut ketika satu roket kertas terjatuh di atas mejanya.
Kepalanya segera didongakkan untuk mencari pengantar roket kertas itu. Melihat Daniel yang sedang berdiri di depan pintu ruangannya sambil nyengir memperlihatkan lesung Pipit itu, Syaza sudah bisa menebak siapa pengirimnya.
"Kelihatan melamun ? Sudah sampai mana !" Laungan kecil dari Daniel disambut dengan cebikkan bibirnya.
"Jawaban kau itu seperti mau menutupi rasa malu saja. kau teringat seseorang yang istimewa ya sampai aku harus mengejutkanmu dengan roket kertas buatanku tadi ?" tanya Daniel walaupun dalam hatinya berharap semoga tebakannya itu tidak tepat. Tangannya segera menarik kursi lalu duduk menghadap gadis itu yang sedang mengetik sesuatu di komputer.
__ADS_1
"aku mana ada waktu untuk memikirkan apa yang kau bilang barusan. Bagiku, aku mau memfokuskan perhatianku pada kerjaku sekarang. Oh ya ! kau duduk relaks disini, kau tak ada kerja ya ?"
Daniel nyengir-nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Err... sebenarnya aku ada sedikit kerja mau bicara sama Ny. Maznah. Okelah, aku pergi dulu, sampai jumpa istirahat siang."
syaza tersenyum sinis sambil menggeleng kepala melihat gelagat teman kerjanya, merangkap teman baiknya itu yang sedang berjalan menuju ke ruangan Ny. Maznah.
Ponselnya berdering ketika Syaza menyusun kertas kerja yang baru selesai difotocopy.
"Halo, Naj ! apa kabar ? ada hal apa kau telepon aku nih ?" tanya Syaza setelah mendengar suara Najwan.
__ADS_1
"Apa ? aku mau traktir aku dan Daniel pergi makan steak malam ini ? ada berita baguskah sampai kau berbesar hati mau traktir dinner untuk kita ?" usulnya sambil sedikit ketawa.
"apa ? kau menang satu kasus besar ! okelah nanti aku beritahu Daniel. kalau semuanya oke, aku akan telepon kau lagi. Bye !"