
Siang itu Daniel membawa Syaza makan siang di restoran kari kepala ikan yang terletak di jalan Ampang.
Daniel memerhatikan wajah Syaza yang sedang duduk didepannya. Entah mengapa wajah gadis tomboi itu juga yang sering menenangkan hatinya jika dia mengalami masalah.
"Permisi, sudah sampai kemana Tuan Daniel Thamrin kita ini melamun ?" Daniel terkejut ketika lengannya ditepuk kuat. Dia melihat Syaza ketawa kecil setelah menuturkan kata-katanya. Belum sempat dia membalas usikan Syaza, makanan yang dipesan sudah dihidangkan di depan meja mereka.
Mereka menikmati hidangan siang itu dengan berselera sekali. Daniel yang awalnya menggunakan sendok, bangun ke wastafel untuk mencuci tangan. Dia ingin menemani Syaza untuk makan menggunakan tangan.
Syaza asyik menyuap isi ikan ke dalam mulutnya. Sesekali dia melirik Daniel yang makan begitu berselera di depannya. (Imut, juga pria mixed blood ini jika dia makan menggunakan tangan !) Syaza tersenyum simpul melihat temannya itu berkeringat menikmati kari kepala ikan.
Setelah 15 menit menikmati makanan yang terhidang, akhirnya mekera berdua tersandar kekenyangan.
"Daniel you must tell me about your date last Saturday. I want to know whether interesting or not ?"
"I will tell you at the office but not at this place. Let's go back." Daniel berjalan ke arah kasir untuk membayar dan meninggalkan Syaza yang terpaksa berjalan mengejar pria itu.
Sampai di kantor, Syaza terus mengikuti Daniel ke ruangannya. Dia sudah tidak sabar untuk mengetahui tentang kencan itu.
"Daniel, sekarang kamu harus memberitahuku. Dari tadi aku tidak sabar mau dengar ceritamu itu !" Kata Syaza sambil menarik kursi lalu duduk di depan Daniel.
__ADS_1
"Kamu ini, Syaz ! Seperti wartawan paparazzi. Semua ceritaku, kamu pengen tahu. Seharusnya kamu minta kerja sebagai wartawan, bukannya asisten pribadi. Jabatan kamu sekarang tidak sesuai dengan sikapmu yang sangat suka dengan berita sensasi dan terkini," sindir Daniel sambil melirik jarum jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan hampir pukul dua.
"Aku pikir, kali aku tidak bisa berbagi cerita denganmu, Syaz. Aku minta maaf ! Sekarang hampir pukul dua lebih... Kamu tidak pergi sembahyang ?" Tanya Daniel pura-pura serius. Dia melihat wajah Syaza berubah seketika. Gadis itu begitu ceria tadi, kini sudah bermuka masam.
"Terserah kamu sajalah, Daniel ! Aku minta maaf padamu karena aku selama ini terlalu sibuk soal tentangmu. Aku keluar dulu," ucap Syaza lalu cepat bangun.
"Oh ya, Daniel ! Satu lagi, kamu tak perlu mengingatkanku tentang kewajibanku yang satu itu," Hatinya begitu tergores dengan kata-kata Daniel tadi. Dari gaya bicara pria itu, menunjukkan bahwan selama ini dia sangat suka mencari tahu tentang orang lain. Daniel sudah lupa kalau selama ini kepadanyalah pria itu berbagi rahasia dan masalah ataupun meminta pendapat.
Daniel kaget dengan kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Syaza sebelum gadis itu keluar dari ruangannya. Dia menepuk dahi menyadari kekhilafannya. Rencananya hanya untuk bercanda tapi rupanya disalah artikan oleh Syaza. Pasti marah gadis itu dengan kata-katanya tadi. Daniel bangun lalu melangkah ke pintu ruangan. Di balik pintu yang terbuka sedikit, dia melihat Syaza tidak ada di mejanya. (Dia sembahyang sepertinya ?) Hatinya berbisik.
Daniel kembali ke meja ketika ponselnya berbunyi nyaring. Dia melihat nama Elaine tertera pada skrin.
"Aku baik !"
"Elaine, aku minta maaf. Aku akan menghubungimu nanti oke ! Aku ada meeting dengan bisku sekarang. Sampai jumpa !" Daniel memutuskan panggilannya dengan Elaine.
Dia terpaksa membuat alasan untuk menghindar dari berbicara dengan wanita itu. Sejak pertama kali dia keluar bersama Elaine, hatinya sudah tidak menyukai wanita itu. Penampilan Elaine waktu pertemuan pertama mereka pada Sabtu sore lalu sangat berbeda dengan Elaine yang hampir akan ditabraknya Minggu lalu. Sikap wanita itu juga berubah lincah ketika mereka berkunjung ke disko pada malam Minggu lalu. Dia rasa menyampah dan mual dengan sikap dan perilaku Elaine yang berubah liar tiba-tiba. Dia tidak menyangka wanita yang sangat anggun dengan penampilan sopan ketika mau ke kantor berubah pada wanita yang terlalu sosial pergaulannya. Di hadapannya, Elaine dengan cepat meneguk dua gelas arak. Dan karena kendali arak itu Elaine dengan gaya gairah menariknya untuk menari bersama. Tubuhnya di peluk secara rakus oleh wanita itu. Malah, bibirnya hampir di cium mesra oleh bibir Elaine jika dia tidak menghindarinya. Baginya, semua itu sudah tidak menjadi daya tarik lagi padanya. Peristiwa itu sudah dilaluinya ketika dia baru menyelesaikan sekolah di London dua tahun lalu. Hampir kebanyakan disko di sana sudah dikunjunginya dan hampir setiap malam dia berpesta. Sudah banyak gadis menjadi temannya ke pesta atau ke disko. Tapi, hanya satu perkara yang dia tidak sanggup lakukan dari dulu sampai sekarang, yaitu meniduri gadis-gadis yang menemaninya hampir setiap malam untuk berhibur.
Daniel sadar sekarang sudah waktunya dia membuat perubahan dalam hidup. Kalaupun dia ingin keluar dengan seorang wanita, itu karena dia ingin mencari seorang wanita yang ingin dijadikan sebagai teman hidupnya. Tapi ciri-ciri yang ada pada kebanyakan wanita yang keluar dengannya sekarang tidak memenuhi kriterianya, termasuk Elaine. Oleh karena itulah mencoba menghindar dari berhubungan lagi dengan wanita yang bernama Elaine.
__ADS_1
"Syaz, kamu marah dengan kata-kataku tadi ya ?" Syaza yang sedang menuang air hangat kedalam cangkir terkejut. Dia melirik ke arah Daniel yang sedang tersenyum memandangnya.
"Eee... Tak kuasa aku mau marah. Kamu kira aku ini jiwang-jiwang ? Tolong sedikit !" Syaza mencebikkan bibirnya. Mulutnya meneguk air hangat dengan perlahan-lahan. Dia malas memandang lama wajah Daniel. Hatinya masih merasa dengan kata-kata Daniel tadi.
"Tidak marah konon ! Kamu kira aku kenal kamu baru hari ini ? Dari reaksi kamu ini aku tahu kamu marah. Aku minta maaf, oke ! Malam nanti aku traktir kamu makan malam karena membuatmu kecil hati. Setelah itu aku akan ceritakan cerita yang kamu mau tahu itu. Kamu mau tidak ?"
Syaza yang sedang bersandar di dinding ruangan pantry mendengar Daniel berkata lembut. (Mau memujukkulah ! Mamat satu ini ada saja idenya untuk memujukku kalau aku marah padanya. Ada pengalaman memujuk pacarlah katanya) Syaza mengomel dalam hati. Namun, dia tahu pria di sebelahnya itu memang seorang teman yang baik dan tidak pernah menyakiti hatinya.
"Benarkah ? Kamu mau mentraktirku nanti malam ? Terima kasih ! Hemat uangku tapi tentang cerita kencanmu itu, terima kasihlah. Aku sudah malas mau dengarnya, simpan saja cerita itu dalam peti simpananmu. Wartawan paparazzi sepertiku ini hanya mau dengar yang latest," ucap Syaza sambil ketawa sedikit memandang Daniel.
Daniel melorotkan matanya yang sayu itu. Dia melihat Syaza sedang ketawa terbahak-bahak. Daniel seketika mencubit pipi tembem gadis itu.
"Aduh... Sakitlah ! Mencuri cubit ya ! Kamu mau kena ini !" Syaza menjerit kecil sambil mengusap pipinya yang dicubit Daniel. Dia berbalik lalu mencubit pipi pria itu juga. Tangannya segera mengambil cangkir di atas meja lalu berjalan cepat menjuju mejanya. Dia mendengar Daniel menjerit memanggilnya. Syaza duduk di mejanya sambil ketawa. Dia melihat Daniel juga ketawa sepertinya ketika pria itu melangkah masuk ke dalam ruangannya.
"Syaz, kamu ini ada affair sama si Daniel itu ? Aku merasa kamu dengan Daniel duduk lama-lama di dalam pantry. Setelah itu ketika keluar, sama-sama ketawa." Suara teguran Amira yang tiba-tiba berdiri didepan mejanya membuat tawanya kembali lagi.
"Sekarang kamu juga pintar menggosip seperti Kak Aliah kita itu ya ?" Ucap Syaza melucu.
"Aku cuma tanya karena aku lihat kamu sama Daniel terlihat sangat akrab. Seperti pasangan, tapi tidak cocok!"
__ADS_1
"Amboi ! Kamu ini sudah berbicara terlalu jauh, Kak Amira ! Kembali sana keempatku. Aku ada banyak kerja ini !" Syaza berkata serius walaupun sebenarnya dia merasa lucu dengan tebakan Amira tadi. Dia sebenarnya malas melayani usikan-usikan yang tidak berfaedah seperti itu. Syaza Sadar semua teman kerjanya menunggu waktu untuk mengejek jika mereka melihat dia terlalu akrab dengan teman kerja pria yang single. Dan sekarang, yang menjadi mangsa adalah Daniel dan mungkin tidak lama lagi akan bertambah lagi seorang calon, yaitu Tuan Arif. Syaza sadar semua itu karena sikapnya yang suka mengelak ketika berbicara tentang hati dan perasaan. Dan mungkin juga karena sifat tomboinya.