
Syaza ketawa dengan kata-kata peria itu. Terngiang kembali di kotak fikirannya kenangan pertemuan mereka hampir dua tahun lalu. Dia tidak menyangka setelah kejadian tersebut mereka berdua menjadi sahabat baik hingga hari ini. Memang betul kata orang dunia ini kecil. Mereka sama-sama mengena dan terkena.
"Iyalah ! Kita berebut tempat parkir mobil, setelah itu berebut mau masuk lift dan akhirnya bertemu kembali di Prima Holdings Company. Lucu sekali kalau diingat kembali peristiwa itu. Kamu ingat tidak ayat yang sama-sama kita gunakan untuk mengenakan kita ?"
"Siapa cepat dia dapat, maaf ya... Sampai jumpa lain waktu !" Mereka bersuara serentak dan akhirnya ketawa tercetus dari mulut mereka.
"Syaz, kita mau makan dimana nih ?" Tanya Najwan setelah tawanya reda. Dia melihat jarum jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan hampir ke pukul 6 sore. Jarinya mengurut leher yang kelelahan sewaktu mobilnya berhenti karena kemacetan jalan raya.
"Aku ikut saja, kalau bisa dekat kawasan sini saja. Terus, tak usah kita terjebak lama dalam kemacetan ini," kata Syaza sambil melihat keadaan di luar. Nasib baiklah hari ini dia tidak menyetir mobil. Kemacetan jalan raya yang terjadi sore ini agak parah. Ada kecelakaan sepertinya ? Dia menerka sendiri.
Najwan menyetir mobilnya menuju ke Bangsar setelah hampir 15 menit mereka terjebak dalam kemacetan jalan raya yang parah itu.
Syaza tersenyum setelah mobil yang disetir Najwan berhenti di depan sebuah restoran makanan barat. Ini restoran kesukaan Daniel. (Najwan juga suka datang ke sini ya ?) Dia bertanya dalam hati.
"Kenapa kamu tersenyum sendiri, Syaz ? Apa ada yang salah ya ?" Tanya Najwan heran. Dia memilih tempat duduk yang berhadapan dengan TV. Syaza hanya tersenyum.
"Saya mau steak saus lada hitam dengan jus wortel susu," ujar Najwan pada pelayan restoran itu.
"Kamu mau makan apa, Syaz ?" Dia bertanya pada gadis yang duduk berhadapan dengannya itu yang masih tersenyum memerhatikan dirinya sejak tadi.
"Saya juga mau steak saus lada hitam yang sama tapi airnya saya mau es Milo," Syaza berkata pada pelayan itu. Dia merasa Najwan memandangnya dengan pandangan heran.
__ADS_1
"Naj, kenapa kau pandang aku seperti itu ?" Soalnya ingin tahu.
"Tidak apa ! Cuma aku sedikit heran kenapa kamu asyik senyum saja sejak kitta sampai di restoran ini tadi," jelas Najwan sambil memandang ke sekeliling restoran itu.
"Naj, kamu memangnya selalu datang ke restoran ini ya ?"
"Aku selalu datang ke sini kalau mau makan steak saus lada hitam yang sedap. Kenapa kamu tanya seperti itu ?"
"Kamu pernah datanga dengan Daniel tidak ?" Tanya Syaza sambil memandang layar TV yang sedang menunjukkan channel telenovela dari Amerika Latin.
"Aku tak pernah datang ke sini dengan Daniel, tapi kenapa kau tanya soalan seperti itu ?"
"Aik ! Kau tidak tahu ya ? Aku dan dia kan memang kembar... Karena itu kami punya banyak persamaan, tapi kalau kamu mau tahu kami ini bukan kembar identik tapi kami kembar sepusat sepusing."
"Hah ! Kembar sepusat sepusing ? Aku tak pernah dengar ada kembar seperti itu."
"Syaz, aku dengan Daniel kembar sepusat sepusing... Lain ibu, lain bapak ! Kenapa kau ini ? Seperti tu pun kau tak bisa tebak," Najwan berkata sambil tersenyum sinis.
Syaza menutup mulut menahan tawanya yang kuat. (Naj ini pintar sekali menciptakan peribahasa sendiri. Kalau Daniel dengar pasti pria itu akan ketawa juga).
"Syaz, aku rasa semua yang kau bilang itu hanya kebetulan saja. Restoran steak ini memang terkenal dengan steaknya yang sedap di Kuala Lumpur ini... Jadi tak heran kalau Daniel juga selalu datang ke sini. Oh ya ! Aku mengajakmu jalan karena ada hal mau aku bicarakan denganmu..." Ujar Najwan terhenti sambil matanya menonton TV. Syaza memandangnya heran.
__ADS_1
"Syaz, setelah aku pulang dari bertemu denganmu hari itu, aku mulai memikirkan kembali permintaanmu. Terus, setelah aku berfikir secara matang-matang, aku mengambil keputusan untuk menolongmu," jelasnya lagi.
Syaza merasa lega dengan kata-kata pria itu. Dia bernasib baik karena Najwan mau menolongnya. Kalau tidak, Tidak peduli berapa banyak dia menikah Dengan keponakan laki-laki dari pria yang sangat dibenci dan dendam sampai sekarang.
"Terima kasih, Naj !"
"Tak apa-apa... Tapi sekedar bersandiwara saja ya ! Jangan ketika aku sudah ikut kamu pulang nanti umi kamu berkenan juga denganku dan terus memaksaku menikah denganmu, sudahlah ! Tak sanggup aku jika punya istri sepertimu itu. Sangat brutal ! Tak sesuai denganku. Kalau kau seperti teman-teman wanitaku yang lain itu, tak mengapa. Kamu kan tak punya tangan yang terampil," usik Najwan sambil menyisir rambutnya ke belakang. Dia nyengir apabila melihat lirikan tajam di balik kacamata yang dipakai oleh gadis itu.
"Eleh... Kamu kira umiku sangat kejam ya ! Lagipula buat apa dia paksa kamu menikah denganku, aku tidak mengandung anakmu. Kamu ini bicara tanpa berfikir dulu !" Ujar Syaza kesal.
"Dan satu lagi, kamu kira aku ini sangat jahat ya ? Kalau aku pakai baju-baju yang seperti tak cukup kain yang selalu pacarmu pakai itu... Entah aku lebih cantik dan seksi dari mereka," sambung Syaza sambil melirik pria itu.
Najwan nyengir mendengar kata-kata gadis di depannya itu.
"Maaflah, Syaz ! Aku cuma bercanda tadi. Tajuk, aku tak bisa bayangkan kalau kamu pakai blaus tanpa lengan dan rok ketat selutut itu. Seperti apa jadinya ? Cobalah kau pakai sekali saja depanku, Syaz. Biar kita sama-sama lihat apa kau lebih seksi dari mereka atau kau akan lebih tersiksa," usik Najwan sambil ketawa.
"Oh ! Kau tak habis mengejekku ya ? Tunggu sebentar !" Syaza berkata kesal sambil melirik kaki Najwan di bawah meja. Dia menggerakkan kakinya perlahan-lahan lalu menginjak kaut kaki pria itu.
"Adoi, sakitlah Syaz ! Teganya kau diam-diam memukul kakiku. Eh, bukan diam-diam pukul... tapi diam-diam menginjak kakiku !" Najwan mengaduh sambil meraba-raba kakinya yang dikeluarkan dari sepatu.
"Anda layak mendapatkannya ! Lain kali sindir-sindir aku lagi. Okelah ! Makanan pun sudah sampai. Pakai lagi sepatumu itu, nanti para pelanggan restoran ini lari termasuk aku karena bau busuk kakimu itu," ujar Syaza sambil ketawa mengejek.
__ADS_1