
(Memang cantik warna permata ini, tapi kenapa dia begitu janggal ketika terpakai pada jari manisku ?) Syaza menahan sebak yang melanda hatinya. Tiba-tiba matanya melihat Daniel sedang berjalan ke arahnya sambil tersenyum. Dia segera menyimpankembali cincin itu lantas mengukirkan senyuman untuk membalas senyuman pria itu.
"Syaz, mari keluar makan siang. Aku traktir kau makan KFC, mau tidak ?" Tanya Daniel sambil duduk di depan wanita itu. Matanya menangkap raut wajah yang mendung walaupun si pemiliknya menutupinya dengan senyuman.
"Maaf, Daniel. Aku tak bisa menemanimu hari ini. Aku tak berselera untuk makan," Syaza berkata perlahan sambil menyandarkan dirinya pada kursi. Masalah yang mengganggu hidupnya belakangan ini membuat selera makannya semakin berkurang.
"Aik ! KFC kan makanan kesukaanmu, kenapa hari tak ada selera ? Ada masalah ? Mau berbagi denganku ?"
"Tak ada apa-apa ! Kau pergi makan siang saja. Aku kira akan istirahat sebentar di dalam kamar mushola."
Daniel memerhatikan Syaza berjalan meninggalkannya menuju ke belakang kantor.
__ADS_1
(Syaz, kenapa kau tak mau memberitahu aku apa masalah kau ?) Kakinya diatur keluar sambil kepalanya masih memikirkan sikap wanita itu yang jadi semakin pendiam sejak belakangan ini.
Syaza mengusap wajahnya di depan cermin di dalam toilet. Banyak teman kerja menegurnya karena wajahnya yang semakin tidak ceria sekarang. Kalau dulu kata mereka wajahnya selalu terlihat ceria dan mata bundarnya selalu terlihat hidup tapi sekarang...
(Ah, kalau mereka tahu betapa berat masalah yang melanda diriku sekarang ini ! Ceria dan gembiraku kini sudah hilang ketika itu dirampas oleh permainan takdir).
Anita sering menasehatinya ketika Syaza menangis merintih mengenang nasib diri.
*Flashback on
*Flashback off
__ADS_1
Arif melihat Syaza yang sedang menundukkan wajahnya sambil menulis sesuatu di dalam komputer. Matanya merasakan perubahan adanya perubahan pada diri wanita itu sekarang. Rambutnya yang dulu selalu dipotong pendek sekarang sudah panjang sedikit. Cara bicaranya pun sudah tidak seagresif dulu.
(Namun, mengapa tidak ada lagi senyuman manis yang sering terukir dibibirmu, kasihku ? Dan dimanakah hilangnya lirikan tajam matamu padaku selama ini ? Kau memang tampak berbeda sejak dua Bulang belakangan ini) tebaknya dalam hati.
"Syaza, malam ini aku ada pertemuan di Four Seasons Hotel Jakarta dengan Tuan Kelvin. Saya mau kamu menemaniku, bisa tidak ?" Arif membuka percakapan ketika melihat Syaza sudah berhenti menulis. Hatinya berharap semoga Syaza setuju untuk pergi menemaninya malam ini karena dia tahu wanita itu selalu menolak jika diajak keluar makan malam bersama. Sudah beberapa hari ini dia merencanakan keluar dengan wanita itu untuk menyampaikan hasrat yang disimpan dalam hatinya selama ini. Dan bagaikan pucuk dicita ulampun tiba ketika dia menerima telepon dari Kelvin tadi malam. Dia baehasil membujuk temannya itu untuk ikut berpura-pura untuk keberhasilan rencananya itu.
Syaza memandang wajah Arif yang sedang menunggu jawabannya. Hatinya serba salah ketika memikirkan janji temu itu. Kalau ditolak sangat terlihat kalau dia tidak menjalankan tanggung jawabnya sebagai pekerja.
Hati Arif melonjak gembira ketika Syaza mengangguk setuju. Tidak disangka rencana yang ditaurnya itu berhasil juga akhirnya.
"Syaz, beritahu saja alamat rumahmu. Aku akan menjemputmu nanti," kata Arif pada Syaza ketika gadis itu mau berjalan ke arah pintu.
__ADS_1
"Tak apalah, Tuan Arif. Aku akan pergi sendiri pakai mobilku. Pukul delapan, kan ? Sampai jumpa disana ya !"
Arif hanya menganggukkan kepala mengiyakan kata-kata Syaza itu. Rasa kecewa dalam hatinya timbul karena tidak bisa berdua-duaan dengan wanita itu di dalam mobil ditutupinya dengan senyuman yang terukir dibibir.