
Arif menerangkan dengan terperinci segala peristiwa yang terjadi kemarin antara dia dan Syaza yang menyebabkan gadis itu tidak masuk kerja hari ini.
Ny. Maznah terkejut mendengar cerita dari anaknya. Dia menyandarkan badannya pada kursi sambil merenung marah ke Arif.
"Arif, Arif tahu apa yang Arif lakukan itu satu perbuatan yang salah di mata undang-undang walaupun Arif tidak berniat melakukan itu. Syaza bisa menuntut Arif karena menyebabkan dia cedera. Kenapa Arif tidak bisa kontrol emosi sedikit ? Kalau mau menjadi ketua yang baik, kita harus kontrol semua emosi kita. Tak boleh marah sesuka hati dan harus selalu sabar. Arif faham tidak apa yang mama omongkan ini ?"
Arif mengangguk faham. Hari inidia terpaksa menadahkan telinga mendengar ceramah gratis dari mamanya. Dia sadar apa yang mamanya omongkan itu semua benar.
"Arif sudah minta maaf pada Syaza ?"
"Kemarin, Arif sudah minta maaf tapi Syaza tidak bicara apapun ! Tadi setelah Arif tahu dia ambil cuti sakit, Arif menghubunginya... Tapi dia tidak mau menjawab panggilan Arif," jelas Arif.
"Arif mau mama tolong ?" Tanya Ny. Maznah menebak. Dia merasa kasihan melihat raut wajah Arif yang kelihatan khawatir.
Arif mengangguk perlahan. Dia berharap mamanya dapat menyelesaikan masalah antara dia dengan Syaza.
"Nanti mama coba bicara dengan Syaza. Arif jangan khawatir ! Pergi kembali ke ruangan Arif ! Mama mau keluar !" Arah By. Maznah lalu mengambil briefcase Dan ponselnya. Dari ekor matanya, dia melihat Arif keluar ruangannya dengan langkah lesu. (Arif... Arif... Bagaimana mau ambil alih Perusahaan mama kalau tak bisa kontrol emosi) Ny. Maznah menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Ny. Maznah berhenti di meja Aliah. Dia memerhatikan perilaku gadis itu yang sedang bicara melalui telefon sambil ketawa. Dia tidak menyadari kehadirannya karena sedang asyik mengobrol.
"Ya ampun, asyik mengobrol !" Tegur Ny. Maznah dalam nada sindiran. Dia melihat Aliah terkejut melihatnya. Gadis itu segera meletakkan telefon.
"Sekarang waktu kerja, kan ? Kenapa kamu bermain telefon sekarang. Saya menggaji kamu bukan untuk bersenang-senang seperti ini !" Ny. Maznah berkata tegas. Gadis itu terlihat ketakutan menganggukkan kepala.
"Bisa kasih saya alamat rumah Syaza ! Cepat sedikit ya !" 2 menit kemudian, Aliah menulis alamat rumah Syaza dia atas sekeping kertas dan memberikannya pada Ny. Maznah.
"Terima kasih ! Ingat, waktu kerja untuk kerja. Mau bermain atau mau bercinta tunggu di luar jam kerja. Dan satu lagi, jangan main telefon kantor untuk urusan pribadi ! Faham !" Tegur Ny. Maznah lantas berlalu pergi. Aliah memonyongkan bibirnya mengejek kata-kata wanita itu ketika bayangan wanita itu hilang dari pandangannya.
Syaza terbangun dari tidurnya ketika terdengar bungu bel yang di tekan berulang kali. Dia memakai kacamata yang diletakkan di atas samping meja lalu melihat jam tangannya.
Kakinya melangkah ke ruang tamu untuk melihat siapa yang menekan bel pintu apartemennya. Syaza mengintip melalui lubang kecil pada pintu apartemennya. Dia terkejut ketika melihat Ny. Maznah sedang berdiri di luar. Syaza tergesa-gesa merapikan dirinya yang tidak terurus. Dia merasa canggung kalau Ny. Maznah melihat dia dalam kondisi parah seperti itu. Setelah memastikan dirinya dalam kondisi baik, perlahan-lahan dia membuka pintu.
"Assalamualaikum, Syaza !" Ny. Maznah memberi salam sambil tersenyum. Dia melihat gadis itu tersenyum malu. Wajahnya itu nampak pucat.
"Wa'alaikum salam, Ny. Maznah ! Mari masuk," Syaza menyambut ramah.
__ADS_1
"Maaflah, karena lama buka pintu. Saya di dalam toilet tadi," ujar Syaza berbohong. Ny. Maznah juga masih memandangnya sambil tersenyum.
"Mari masuk, Nyonya," Syaza mempersilahkan Ny. Maznah dengan hormat.
"Besar juga luka di dahimu ini !" Syaza terpaku ketika tangan Ny. Maznah menyilak rambutnya yang terjuntai untuk melihat kesan luka di dahinya.
(Apa Tuan Arif sudah memberitahu dia ?) Syaza menebak dalam hati.
"Syaza, saya minta maaf untuk anak saya. Arif sudah memberitahu semuanya pada saya. Dia menyesal atas perbuatannya terhadapmu kemarin."
"Nyonya maznah, saya..."
"Tolong maafkan dia ya, Syaza ! Saya sangat mohon padamu ! Dia di kantor sudah seperti orang kebingungan."
Syaza terharu menxenhar rayuan wanita di depannya. Dia seperti melihat wajah uminya yang sayu memohon belas kasih dari ayahnya waktu dia dipukul kasar oleh pria itu 8 tahun silam.
"Saya tak marah padanya karena dia melempar file pada saya. Saya tahu dia tak sengaja. Sebenarnya saya cuma sedikit kecil hati karena ada kata-katanya yang mengiris hati saya. Itu saja," jelas Syaza perlahan.
__ADS_1
"Oh, begitu. Jadi kamu tidak marah padanya ya ? Tapi dia bilang pada saya, kamu tak mau bicara dengannya waktu dia telepon kamu tadi pagi."