Cinta Syaza

Cinta Syaza
Episode 12


__ADS_3

*Flashback on


"Mana anak bertuah kamu itu ? Sudah sesore ini belum pulang juga !" Syaza yang baru menaiki tangga rumah kayu itu berhenti melangkah apabila mendengar suara Harau ayahnya memarahi umi. Dia coba memasang telinga untuk mendengar apa yang dipertengkarkan oleh umi dan ayahnya.


"Sepertinya watak dia itu kalau dibiarkan lama-lama nanti jadi seperti kamu. Jadi perempuan yang tak punya Mariah !"


"Apa maksud Abang ni ? Saya tak pernah curang terhadap Abang. Saya bersumpah, bang ! Kenapa Abang ungkit masalah yang telah lalu ?"


"Kau pikir aku ini bodoh... Akan percaya semua yang kau katakan itu. Kalau tidak ada bukti, aku tak bicara."


"Abang percaya kata-kata si Mail itu ? Abang juga tahu kalau dia memang ada niat mau menghancurkan rumah tangga kita."


"Ah, aku tak percaya ! Aku dan dia berteman sudah sangat lama, sudah seperti adik-kakak. Mail tidak mungkin menipu aku. Kau jangan pandai-pandai buat cerita palsu. Aku tahu kau tuduh dia untuk menutupi kesalahan yang kau buat kan."


"Sampai hati Abang tuduh saya seperti itu."


"Hei, jangan menangis didepanku ! Aku pulang karena mau minta uang, beri aku lima ratus rupiah."


"Saya mana ada uang sebanyak itu, bang ! Sakalipun ada itu cuma untuk iyuran sekolah di Jaja dan belanja sehari-hari."


"Kalau begitu, kasih semua uang yang ada ke aku. Cepat sedikit !"

__ADS_1


"Kau mau ku pukul dulu baru kasih aku uang kayanya... Tunggu sebentar !"


Syaza merasa jantungnya berdetak kencang apabila mendengar gertakan lelaki itu. Dia mengintai dari lubang kecil yang ada didinding rumahnya, namun hanya belakang badan ayahnya yang kelihatan. Tiba-tiba dia mendengar jeritan kecil dari mulut uminya. Syaza segera lari maniki tangga rumahnya. Tidak dihiraukan apa yang sedang terjadi. Yang ada dihatinya kini adalah menyelamatkan umi.


"Ayah, jangan pukul umi !" Syaza merayu apabila melihat umi sedang dipukul menggunakan ikat pinggang di depan matanya. Dia terus meluru pantas memeluk uminya.


"Oh, sudah pulang anak satu ini ! Aku pikir sudah ikut jantan sampai lupa mau pulang kerumah. Watak kamu ini seperti ibumu kayaknya. Perempuan sundal !" Syaza memeluk umi dengan erat. Air mata mengalir deras di pipi mendengar kata-kata ayahnya itu. Sampai hati ayahnya berkata demikian kepada wanita yang sangat disayanginya itu.


"Hawa, cepat beri aku uang ! Kalau tidak kau dan anakmu ini belasah cukup-cukup !"


"Saya tak bisa kasih uang itu, bang ! Kalau Abang mau pukul aku, pukulah. Tapi... Saya tidak akan kasih Abang uang lagi," umi berkata dalam nada bergetar. Syaza tidak berani memandang wajah ayahnya saat itu. Dia berdebar-debar menunggu tindakan selanjutnya dari ayahnya.


"Oh, kau keras kepala ya ! Memang kau mau aku pukul !" Syaza melihat umi ditarik paksa dari pelukannya. Di depan matanya dia melihat umi di cambuk menggunakan ikat pinggang berulang kali. Syaza berlari kencang lalu merebut ikat pinggang dari pegangan ayahnya. Tetapi tenaganya tidak dapat melawan kekuatan lelaki itu dan akhirnya tubuhnya terpental jatuh ke lantai. Syaza meraba dahinya yang berdenyut-denyut. Terlihat di telapak tangannya ada sedikit darah dan setelah itu dia tidak sadarkan diri.


"Umi, umi tak apa-apa kan ?" Syaza bertanya perlahan. Matanya melihat mata wanita yang sangat disayanginya itu digenangi air mata. Dia bersyukur karena uminya tidak mengalami luka yang parah. "Jaja benci ayah, umi ! Ayah jahat ! Jaja takkan memaafkan segala perbuatan ayah terhadap kita. Jaja akan ingat sampai kapanpun."


*Flashback off


Syaza tersadar dari lamunannya apabila pintu kamarnya diketuk. Dihapus air mata yang mengalir dipipinya.


"Syaz, you sudah tidur ?" Kedengeran suara Anita di luar pintu kamarnya.

__ADS_1


"Belum, masuklah !"


"Aku lihat lampu kamar you masih menyala, terus aku ingat mau berbincang denganmu kalau kamu belum tidur," terang sahabatnya itu.


"Mata aku belum mengantuk."


"Kamu habis menangis ya, Syaz ?" Syaza melihat Anita memandangnya tajam.


"Eh, mana ada ! You ni main serkap jarang aje," Syaza berdalih. Bibirnya mengukirkan senyuman kapada Anita untuk menutupi masalah yang ditanggungnya selama ini.


"Ada problem ke ? You want to share your problem with me ?" Kata Anita memujuk. Dia tahu Syaza mencoba menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang menjadi beban hingga menyebabkan sahabatnya itu menangis. Syaza yang dikenalnya sejak di kampus bukanlah selemah itu. Gadis tomboi ini selalu ketawa dan gembira dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Tidak pernah sekalipun dia melihat Syaza bersedih.


"Sebenarnya, aku merindukan keluargaku, terutama umi. Sudah enam bulan aku tidak pulang kampung," kata Syaza.


"Hah ! Sudah enam bulan kamu tidak bertemu dengan umi kamu ? Jadi, yang selalu mengambil cuti panjang itu kamu pergi kemana ?" Tanya Anita keheranan.


"I selalu pergi bercuti kemana-mana yang I rasa pengen pergi," terang Syaza lagi.


"Apa kamu ada masalah sampai enam bulan kamu tidak menengok ibu bapa kamu ? Ceritalah padaku... Siapa tahu I can solve your problem," Anita memujuk lembut. Dia melihat Syaza menghapus air mata yang bergenang di kelopak matanya.


"Kamu mau tahu juga, Nita ? Oke, sekarang aku akan cerita semuanya. Aku harap kamu tidak bosan mendengarnya karena masalah yang akan aku ceritakan ke kamu ini panjang sekali," kata Syaza sambil ketawa yang dibuat-buat.

__ADS_1


"Kamu kan tahu aku ini pendengar yang setia merangkap kaunselor tak bertauliah. Lagipula apa gunanya menjadi sahabat sejati kalau tidak bisa berbagi masalah sahabatnya. So, ceritalah tapi kalau boleh di persingkat sedikit ya," Anita berkata sambil ketawa kecil. Dia berbaring mengiring menghadap Syaza.


__ADS_2