Cinta Syaza

Cinta Syaza
Episode 29


__ADS_3

Daniel memandang gadis yang berdiri di sebelahnya. Dia merasa sejak mereka makan siang bersama tadi sampai sekarang, Syaza tidak banyak bicara. Wajah gadis itu terlihat masih pucat. Jelas terlihat dimatanya ada kesan luka dan sedikit lebam di dahi Syaza. Hatinya mendesak kuat untuk bertanya pada Syaza tentang luka yang dilihatnya sudah ada didahi gadis itu sebelum Syaza mengambil cuti sakit semalam.


Keadaan sepi berlanjut hingga mereka melangkah masuk ke kantor.


"Syaz, boleh aku tanya sedikit ?"


"Tanya apa, Daniel ? Tentang luka di dahi aku ini ya ?"


Soal Syaza sambil memegang kesan luka yang terdapat di dahinya. Dia tahu banyak temannya sibuk mengorek cerita tentang luka itu. Janjinya pada diri sendiri dan arif untuk tidak menceritakan hal yang sebenarnya pada siapapun akan dipegangnya sampai kapanpun.


Mereka berhenti sebentar di ruang tunggu. Daniel mengambil surat kabar The Star, kalau menyilak helaian demi helaian. Sesekali dia melirik Syaza dengan ekor matanya. Dia sudah tidak sabar menunggu penjelasan dari gadis itu.


"Sebenarnya aku malas mau cerita semua ini, kalau aku cerita tentu kamu menertawakanku. Sebenarnya..."


"Hei, Syaz ! Baru kembali ya ? Kamu tahu tidak semua orang heboh di dalam tuh !"


Syaza terkejut ketika ditegur kuat oleh Aliah yang berjalan cepat ke arahnya. Kata-kata yang ingin diluahkan pada Daniel tadi terhenti tiba-tiba. Dia merasa pria itu juga bereaksi sepertinya.


"Tentang apa ? Kita semua mau dapa bonus ya ?" Tutur Syaza. Dia terkekeh-kekeh ketika melihat gelagat Aliah yang serba salah itu.


"Ini tak ada sangkut-pautnya dengan kerja lah ! Tapi tentangmu ! Marilah masuk lihat sendiri," ujar Aliah sambil menarik tangan Syaza mengikutinya.


Daniel mengikuti dua gadis itu memasuki kantor. Dia juga ingin tahu apa yang sedang terjadi di dalam kantor itu yang melibatkan Syaza.


"Syaza, sejak kapan kamu jadi ratu bunga ? Siapa pria beruntung yang dapat pikat kau ?" Soal Amira dengan senyuman terukir di bibir.

__ADS_1


"Syaz, tak sabar aku mau tahu siapa pria malang yang coba memikat hatimu itu ?" Tanya Mail, anak kantor menyindirnya. Bibir pria yang baru mendapat keputusan SPM itu terukir senyuman sinis.


Syaza heran dengan teguran dan senyuman aneh yang dilemparkan teman-teman kerja yang bertemu dengannya waktu dia berjalan masuk ke dalam ruang kantor itu. Dia juga melihat Kak Sal Yang sedang bicara melalui telepon tersenyum sinis padanya.


"Kejutan !" Jerit Aliah sambil jarinya menuding ke arah meja Syaza.


"Bungan, punya siapa ? Kenapa di taruh di mejaku ?" Tanya Syaza bingung melihat ada sebuket bunga mawar putih di atas mejanya. Dia memandang Aliah untuk meminta penjelasan.


"Pergilah lihat sendiri ! Aku kembali ke mejaku dulu."


Aliah berlalu pergi, membiarkan Syaza yang kebingungan di depan mejanya. Punggungnya dilabuhkan pada kursi sambil memandang tidak percaya buket bunga mawar yang berwarna putih itu. Hatinya serba salah juga mau melihat atau tidak kard yang dilekatkan pada bunga itu.


"Hei, Syaz ! Kamu sangat lucu. Wanita lain aku lihat sangat bahagia apabila dapat bunga... Tapi kamu ini aku lihat seperti muram saja," Daniel menegur. Walaupun hatinya sedikit cemburu, tapi gelagat Syaza yang terdiam sambil memandang bunga itu menggelitik hatinya. Mungkin pengirim bunga itu sama sepertinya yang terpikat dengan Syaza karena melihat keikhlasan yang ada dalam diri gadis itu. Nampaknya sekarang dia sudah ada saingan untuk memiliki cinta gadis itu dan pria itu sudah mendahuluinya.


"Okelah, aku masuk ke ruangan dulu. Lihatlah siapa pengirimnya, setelah itu kalau tidak suka bunganya kamu kasih saja pada siapa di dalam kantor ini yang gila sangat ke bunga," ujar Daniel lalu melangkah ke ruangannya. Dalam hatinya timbul satu perasaan yang sukar dimengerti ketika melihat keadaan tadi. Cemburukah dia ? Tapi siapa Syaza baginya untuk dia berperasaan sedemikian. Gadis itu belum menjadi miliknya. Agaknya siapakah pria yang berusaha memikat hati gadis itu sehingga rela menghantar sebuket bunga yang sangat besar dan cantik ?


#


Syaza...


Aku sangat sangat minta maaf atas apa yang telah aku lakukan padamu hari itu.


Tolong maafkan aku...


Dan,

__ADS_1


Aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi lain kali.


Please... Bisakah aku berteman kembali denganmu... ?


Please...


A.S


Bibirnya mengukirkan senyuman tipis setelah membaca tulisan yang tertera pada kard yang lucu itu. Hanya dia yang tahu siapa pengirim bunga misteri yang hanya mencatatkan nama singkatnya itu. Syaza mengambil bunga mawar itu lantas menciumnya. Dia tidak menyangka pria itu rela mengirim bunga sekedar untuk meminta maaf padanya. Bunga mawar putih itu diletakkan kembali ke sudut mejanya. Dia mau menyelesaikan sedikit kerja yang tertinggal sebelum bertemu dengan Arif.


Interkom dari ruangan Arif mengejutkan Syaza dari keasyikannya mengetik di komputer.


"Syaza, masuk sebentar !" Arahan dari bosnya itu tidak dapat Syaza elakkan lagi. Dia melihat mawar putih itu sambil tersenyum. (Cantik) bisik hatinya. Syaza mengatur langkah ke arah ruangan arif lalu pintu ruangan itu diketuknya perlahan.


"Masuk, Syaza !" Suara pria itu jelas kedengeran di telinganya.


Syaza berjalan perlahan memasuki ruangan itu. Terngiang kembali di kotak fikirannya peristiwa pahit yang berlaku pada dirinya dua hari lalu di dalam ruangan ini.


"Duduklah, Syaza ! Aku ada sedikit hal mau bicara denganmu," arif berkata lembut. Dia mencuri pandang gadis di depannya itu yang ragu-ragu untuk duduk.


"Tuan arif mau bicara apa ? Saya ada kerja di luar itu, tak bisa lama-lama di sini," ujar Syaza berpura-pura serius. Matanya merenung tajam ke arah pria itu.


"Kamu masih marah padaku, Syaza ! Jadi sia-sialah aku hantar bunga itu tadi !" Kuah Arif dalam nada kecewa. Matanya melihat Syaza yang hanya berdiam diri dan tidak ada senyuman terukir di bibir gadis itu.


"Aku tidak menyuruhmu hantar bunga padaku. Kamu ingat segala perbuatanmu hari itu bisa d bujuk dengan kiriman bunga ? Kamu salah sebenarnya ! Aku keluar dulu," ujar Syaza lantas bangun dari kursi. Hatinya seperti tergelitik kelucuan melihat reaksi pria itu yang nampak terkejut dengan kata-katanya.

__ADS_1


Syaza menahan ketawa. Sambil memegang gagang pintu dia berpaling melihat Arif yang memandangnya dengan pandangan kecewa. Dia merasa kasihan melihat muka cemberut bosnya itu.


"Tuan Arif, aku cuma bercanda saja. Tapi untuk pengetahuanmu, aku ini sebenarnya tidak minat dengan bunga. Dan lagi, terima kasih untuk bunganya. Itu sangat bagus," ucap Syaza sambil tersenyum. Dia merasa pria itu memelototkan matanya tanda kesal. Syaza sedikit ketawa lantas mendorong gagang pintu.


__ADS_2