Cinta Syaza

Cinta Syaza
Episode 53


__ADS_3

Arif memandang gadis itu memohon pengertian dan persetujuan. Dia tidak menghiraukan pandangan mamanya yang memandang ke arahnya dan Syaza. Tangan wanita itu masih digenggam erat dan seakan-akan tidak ingin dilepaskannya.


Syaza merasa jantungnya bedetak kencang setelah mendengar kata-kata Arif. Tangannya sudah terasa kram karena sudah lama digenggam erat oleh Arif. Hatinya berdebar-debar menunggu reaksi dari Ny. Maznah. Menurutnya, sebentar lagi akan terjadi angin ****** beliung di dalam ruangan ini. Dia rasa pasti Ny. Maznah akan mengamuk.


"Syaza, saya sebenarnya menyukaimu sebagai pekerja saya yang berdedikasi dan bertanggung jawab dan sekarang jika kamu menerima lamaran anak saya, saya akan merasa lebih bahagia. Saya juga tidak memandang sifat luarmu sebagai satu kriteria untuk membuat pilihan. Yang penting saya tahu hatimu begitu jujur dan ikhlas. Bagi saya kebahagiaan anak saya adalah kebahagiaan saya juga."


Kata-kata Ny. Maznah yang memecahkan kesunyian antara mereka bertiga mengejutkan Syaza. Dia tidak menyangka hati wanita itu begitu tulus dan jujur. Tapi semua itu tidak penting sekarang ini karena keadaan uminya yang lebih dikhawatirkan selain statusnya sekarang yang menjadi halangan.


"Maafkan saya... Nyonya, Tuan Arif. Saya tidak bisa menerima lamaran tadi. Saya keluar dulu." Dia menarik tangannya dari genggaman Arif dan berjalan cepat keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


Dia merasa kasihan pada Arif, tapi dia bukanlah seseorang yang mudah menerima cinta dari pria dan tidak mudah untuk mencintai seorang pria.


Syaza memandang ruangan Daniel yang sepi. Syaza tahu dia pasti akan rindu dengan teman baiknya yang bernama Daniel Thamrin itu. Perasaannya jadi sedih tiba-tiba memikirkan reaksi Daniel ketika mendapat kabar dia sudah berhenti bekerja ketika pria itu kembali dari perjalanan dinasnya nanti.


"Daniel, maafkan Syaz ! Syaz pergi tanpa mengucapkan kata perpisahan padamu. Moga suatu hari nanti kita akan dipertemukan kembali. Selamat tinggal, sahabatku."


Syaza mengesat air mata yang bergenang sambil melangkah untuk yang terakhir kalinya meninggalkan Prima Holdings company itu.


Daniel memandang meja wanita yang di rindunya itu yang selalu duduk melakukan kerjanya. Sudah dua bulan Syaza meninggalkan Prima Holdings Company Dan kerinduannya pada wanita itu semakin bertambah dari hari ke hari. Dia teringat saat dia mengetahui pengunduran diri Syaza waktu dia baru kembali dari perjalanan dinasnya.

__ADS_1


#FLASHBACK ON


"Good morning, Aliah !" Ucapnya gadis penerima tamu itu dengan nada riang. Jika banyak yang mengatakan hari Senin adalah Senin padat tapi baginya pagi Senin ini adalah waktu pagi yang amat dinantinya sejak empat hari lalu. Ada satu hal penting yang perlu dilakukannya pada hati itu.


Daniel berjalan melintasi meja wanita yang telah berhasil mencuri hatinya itu. Dia tersenyum memikirkan kejutan yang akan diberikan pada wanita itu sebentar lagi. Tangannya segera meletakkan beg file dan tidak sampai satu menit setelah itu, dia sudah berada di meja Syaza. Punggungnya disandarkan pada kursi wanita itu sambil tangannya membuka-buka kalender yang terletak di atas meja. Hampir lima menit menunggu, Daniel menjadi heran dan bertanya-tanya.


"Mana si Syaz nih ? Biasanya dia tak pernah terlambat. Sudah pukul 9.15 menit, masih belum datang juga... Apa dia sakit ?" Kata Daniel perlahan. Timbul perasaan bimbang di hatinya ketika memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu.


"Daniel, kau tak ada kerjaan kah ? Tak bisa lihat wajahnya, duduk di bekas kursi dia pun kau lakukan ya ?" Teguran sinis dari Aliah yang berjalan melintasi meja Syaza mengejutkan Daniel dari lamunannya. Dia memasang muka datar sambil memainkan ponselnya. Senyuman sinis yang terukir dari bibir Aliah dibiarkannya begitu saja.

__ADS_1


"Aliah, apa Syaza cuti hari ini ? Sudah lewat nih... Tapi tak kelihatan juga dia ?" Daniel akhirnya melontarkan pertanyaan setelah lama menunggu di situ.


__ADS_2