
Kalau penyakit uminya bisa dipindahkan, dia rela menjadi penggantinya daripada melihat tubuh wanita yang amat disayanginya itu terbaring tak sadarkan diri seperti sekarang ini. Terngiang-ngiang kata-kata dokter yang merawat sakit uminya.
"Pasien punya penyakit lemah jantung, sekarang dia masih belum sadarkan diri tapi..."
"Tapi apa, dok ?" Syaza bertanya tidak sabar.
(Ya Allah ! Jangan sampai terjadi yang tidak-tidak pada umi. Hanya dialah tonggak hidupku saat ini. Jika terjadi apa-apa pada umi... Bagaimana aku akan menjalani kehidupan pada masa yang akan datang ?)
"Kalau pasien sadar nanti... Jangan biarkan dia terlalu banyak pikiran dan senantiasa senangkan hatinya."
Syaza mengusap airmata yang mengalir di pipi. Dia bersandar lemah pada dinding mengenang cobaan yang datang bertubi-tubi kada dirinya belakangan ini.
"Ya Allah... Berilah aku ketabahan untuk menghadapi semua cobaan ini."
__ADS_1
Dia tahu kalau dia terpaksa mengambil keputusanyang berat demi untuk berada di sisi uminya.
#Beberapa hari kemudian...
Dia melangkahkan kaki ke Prima Holding company. Bibirnya mengukirkan senyuman pada semua teman yang menyapa walau hatinya diselimuti rasa duka karena hanya beberapa jam lagi dia akan berhadapan dengan semua ini sebelum surat pengunduran dirinya akan diserahkan pada Ny. Maznah.
"Nyonya, boleh saya bertemu sebentar ?" Syaza bertanya lembut setelah Ny. Maznah membolehkannya masuk ke ruangannya. Matanya melirik arif yang sedang memandangnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
(Hish... Makhluk ini juga ada dalam ruangan ini ?) Kata hati Syaza kurang senang.
"Nyonya, saya sebenarnya mau menyerahkan surat pengunduran diri saya. Ini suratnya... Saya harap nyonya bisa terima surat keputusan saya."
Kelihatan Arif yang terkejut mendengar kata-kata Syaza.
__ADS_1
Ny. Maznah menerima sampul surat berwarna coklat cair yang diulurkan oleh asisten pribadi anaknya itu. Tangannya mengeluarkan surat itu dari sampul lalu segera membaca isi yang tertulis di dalamnya. Tidak berapa lama kemudian surat itu diserahkan juga pada anaknya.
Arif memandangi surat tersebut dengan pandangan kecewa. Syaza lalu menjelaskan pada Ny. Maznah tentang masalah yang menimpa keluarganya.
"Nyonya, saya minta maaf karena mengambil keputusan yang sangat mendadak ini... Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa karena semuanya diluar rencana saya."
"Saya faham masalahmu dan saya tidak bisa menghalangi keputusan kamu."
"Terima kasih, nyonya. Saya keluar dulu."
"Nanti dulu, Syaza ! Kau harus dengar apa yang akan aku bicarakan padamu di depan mamaku !"
Tarikan kuat dari Arif pada pergelangan tangannya mengejutkan Syaza yang baru hendak beranjak ke depan pintu. Wajahnya dirasakan pucat pasi karena takut dan gemetar. Dia malu pada Ny. Maznah karena perbuatan Arif telah melampaui batas di depan bosnya.
__ADS_1
"Kau duduk dulu, biar aku selesaikan kata-kataku yang belum selesai aku omongkan waktu malam itu." Syaza terpaksa duduk kembali di sofa ruangan Ny. Maznah.
"Aku sebenarnya sudah jatuh cinta pada pandangan pertama waktu aku diperkenalkan padamu dulu karena wajahmu mirip dengan kekasihku yang telah meninggal dunia waktu kami belajar bersama di Inggris. Dari hari ke hari aku mulai menyimpan niat untuk memilikimu. Awalnya dulu memang aku menganggapmu adalah kembaran Nini, gadis yang sangat aku cintai itu... Tapi lama-lama aku sadar kamu adalah kamu dan tidak bisa disamakan dengan orang lain. Aku tak pernah mempermasalahkan sifat tomboimu. Bagiku, kalau aku sudah cinta seseorang aku akan terima segala kelebihan dan kekurangannya. Dan aku semakin ingin menjadikanmu milikku ketika aku mencelakaimu tempo hari. Aku merasa sangat bersalah dan kebaikanmu yang sudi memaafkanku menyebabkan cintaku padamu menjadi lebih mendalam. Syaza, maukah kau menjadi teman hidupku ?"