
Hari ini sudah genap dua bulan Syaza menjadi asisten pribadi, merangkap setiausaha kepada Arif. Dia bersyukur karrna pria itu begitu baik dan bertanggung jawab dengan tugasnya. Dan yang paling Syaza hormat kepada bosnya itu karena sepanjang beberapa kali mereka bekerja bersama hingga malam hari, pria itu tidak pernah sekalipun mencoba melakukan perkara yang tidak baik padanya.
Syaza melabuhkan badan pada kursi. Dia memejamkan mata seketika sambil mengingat kembali segala peristiwa yang berlaku sepanjang dua bulan ini. Sahabatnya, Anita, sudah bertunangan dengan Kamil yang dicintainya. Masih terbayang di ruang matanya akan majlis pertunangan Anita yang berlangsung meriah di kampung Anita di Kuala Pilah seperti majlis pernikahan. Dalam waktu empat bulan lagi dia terpaksa tinggal seorang diri di apartemen yang disewanya bersama Anita sekaranga karena gadis itu akan melangsungkan pernikahannya.
"Hoi ! Berkhayal samapai kemana ? Cepat jawab telepon yang berbunyi itu... Berisiklah !" Jeritan kuat Aliah menyentap terus lamunan Syaza. Tangannya cepat mengambil ponsel yang terletak di atas meja sambil melirik tajam ke Aliah. Dijawabnya panggilan itu apabila melihat nomor telepon kampungnya tertera pada skrin telefon.
"Assalamualaikum, Mir !" Syaza membuka obrolan.
"Kak Jaja sehat ! Umi dan abah sehat ?"
"Alah ! Untuk apa Kak Jaja tanya keadaan Mir. Kak Jaja tahu tentu Mir sehat sekarang ini... Kalau tidak takkanlah bisa ngobrol dengan Kak Jaja sekarang. Awat Mir telefon Kak Jaja ?"
"Apa ? Umi pesan suruh Kak Jaja pulang akhir bulan ini ? Ada perkara mau dibicarakan ?"
"Mir, tolong beritahu umi, nanti Kak Jaja akan telefon umi. Sekarang Kak Jaja sedang kerja. Tak boleh bicara lama-lama."
"Sampaikan salam ke umi dan abah. Assalamualaikum... Sampai jumpa !"
Syaza menyandarkan badan pada kursi. Hatinya bertanya-tanya tentang pesan umi yang disampaikan oleh adiknya, Ammir. (Kenapa aku disuruh pulang ke kampung akhir bulan ini ? Tidak mungkin karena soal itu lagi ?) Syaza memijit-mijit kepalanya yang pening.
Dia melihat banyak rekan kerjanya sudah berangsur pulang. Dia menoleh ke ruangan Daniel. Dia selalu bersaing dengan Daniel ketika mereka meninggalkan kantor tersebut. Tapi sudah dua hari pria itu cuti.
"Bosan juga kalau tak ada lawan untuk berdebat." Dia mengomel perlahan sambil tangannya cepat mengemas semua file yang baru selesai disimak tadi.
"Syaza, kamu belum pulang ?" Teguran Arif di belakangnya mengejutkan Syaza yang sedang sibuk mengemas. Dia mengelus dada sambil memandang lelaki itu yang sedang berdiri dengan briefcase titangannya.
__ADS_1
"Saya sudah mau pulang, Tuan Arif !"
"Oke ! Saya pulang duluan. Sampai ketemu lagi besok, sampai jumpa !"
Hampir pukul tujuh malam Syaza sampai ke rumahnya. Dia meletakkan tas di atas meja rias lalu merebahkan dirinya di atas kasur. Dia terlelap seketika. Tiba-tiba pinggangnya merasa dicucuk seseorang. Syaza menjerit kegelian. Dia membalikkan dirinya dan terlihat Anita sedang tertawa kecil sambil duduk di birai kasur.
"Oii, anak dara ! Sore-sore seperti ini malah tidur, sudah lama datang ya ?" Tanya Anita. Kebetulan dia baru saja ke rumah dan melihat Syaza sedang terbaring lena di atas kasur sewaktu dia melewati kamarnya.
"Pukul tujuh tadi. Aku ingat cuma berbaring, tak sengaja sampai terlelap. Kamu baru sampai ?"
Anita mengangguk. Dia langsung bangun ketika melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Dia segera mengambil handuk lalu melangkah ke dalam kamar mandi meninggalkan Anita yang hanya tersenyum melihat tingkahnya itu.
Tepat jam setengah delapan, Syaza dan Anita berselera menghadap mie instan sambil menonton berita di TV.
"Memang benar ! Tak perlu masak terlalu lama. Pasti orang yang malas masak yang mau masak mie instan ini," Syaza yang sedang mencuci mangkok bersuara.
"Orang yang pokai !" Ucap mereka berdua serentak sambil ketawa.
"Syaz, tolong ambilkan satu buah Apel hijau di dalam kulkas." Syaza yang baru saja selesai menyusun mangkok-mangkok yang telas selesai dicuci di rak piring mangkok, lalu membuka kulkas mengambil sebuah apel hijau dan segugus anggur.
Mereka berdua asyik menonton cerita Maid In Manhattan ketika dengan tiba-tiba Syaza menjerit kecil sambil menepuk dahinya.
"Kenapa kamu sangat kalut ? Terkejut aku dibuatnya !" Anita mengurut dadanya. Dia mengambil bantal sofa lalu merebahkan diri sambil matanya tetap dihadapkan ke kaca TV.
"Aku ingat mau telefon umi malam ini. Asyik lihat cerita ini sampai lupa," kata Syaza lalu melangkah ke kamar tidurnya. Dia mengambil ponselnya dan menekan nomor telepon kampung.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, umi !" Syaza memberikan salam ketika terdengar suara wanita yang sangat di sayangi dan dirindukannya itu.
"Apa kabar semua disana ? Sehat ?" Dia berkata lembut.
"Syukur Alhamdulillah ! Jaja disini juga sehat walafiat, umi !"
"Umi, tadi sore Mir ada telefon Jaja. Dia beritahu Jaja, umi pesan suruh Jaja pulang akhir bulan ini, awal sekali umi ?" Soalnya ingin tahu. Tidak sabar dia untuk mengetahui sebab-musabab uminya berpesan demikian.
"Pak Dhe Mail mau melamar Jaja. Umi mau Jaja pulang. Ashman anak Pak Dhe Jaja itu ingin ketemu dengan Jaja." Syaza terkejut mendengar kata-kata uminya itu.
"Syaza pulang ya ! Tidak baik hampakan hasrat orang," suara umi yang memujuk lembut menusuk kehatinya. (Apa yang akan aku lakukan ?) Syaza menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Tiba-tiba dia tersenyum sendiri.
"Jaja... Jaja... Kenapa Jaja diam ?" Syaza mendengar uminya memanggil.
"Umi, kalah Jaja bilang sesuatu umi jangan marah ya !"
"Sebenarnya Jaja sudah ada pilihan sendiri..." Dia coba berbohong. (Semoga umi percaya kata-kataku) kata hatinya.
"Hah ! Umi mau Jaja bawa dia pulang kampung ? Umi mau ketemu dia dulu ?" Syaza hampir terkejut dengan kata-kata uminya itu. Lain yang dia inginkan, lain juga uang terjadi.
"Oke, dua Minggu lagi Jaja pulang dengan dia. Kirim salam dengan semua orang di rumah ya !" Dia akhirnya terpaksa berpura-pura setuju dengan arahan uminya itu walaupun permintaan wanita itu amat mustahil untuk ditunaikannya.
"Wa'alaikum salam !"
Syaza merenung ponselnya. Dia masih terkejut dengan apa yang dia bicarakan dengan uminya melalui telepon tadi. (Aduh ! Masalah ! Masalah ! Kenapa mulut aku ini sangat gatal bicara ke umi kalau aku sudah ada pilihan sendiri. Sekarang umi sudah ingin bertemu dengan teman pria ciptaan aku. Padan dengan muka aku ! Mau menghindar dari satu masalah, tapi satu masalah lain yang datang. Itulah kenapa orang tua bilang, tak baik membohongi ibu bapak... Inilah akibatnya) hatinya mengomel kesal.
__ADS_1