
Suara serak seorang pria yang berdiri di depan pintu mengejutkan Najwan yang baru saja terlelap. Dia langsung bangun lalu menjawab salam dengan perlahan. Dilihatnya seorang pria yang berumur 60-an itu yang sedang melangkah ke arahnya sambil tersenyum. Najwan mengulurkan tangannya menyalami pria itu.
"Kamu ini pasti Najwan ? Paman ini ayah tiri Jaja. Tadi Ammir datang ngasih tahu paman kalau Kak Jaja membawa teman. Karna itulah paman pulang ! Sebenarnya paman ada sedikit kerja di ladang tadi. Kau sudah makan belum ?" Tanya Haji Hamzah ketika melihat Najwan memandangnya keheranan.
Najwan hanya tersenyum mendengar kata-kata pria yang memperkenalkan dirinya sebagai bapak tiri Syaza. Kalau mengikuti kata hati mau saja dia ketawa mendengar pria itu bicara panjang lebar tanpa berhenti, tapi semua itu terpaksa ditahan karena menghormati pria itu.
"Jaja, Abah sudah pulang ini. Cepat hidangkan makanan. Sebentar lagi kita makan bersama-sama !" Laung Hajah Hawa waktu dia melangkah ke ruang tamu setelah mendengar salam dari suaminya.
"Abang mandilah dulu. Badan sudah berkeringat. Malulah sedikit sama Najwan itu," katanya lagi sambil menepuk bahu suaminya. Najwan yang duduk di sofa memandang mereka sambil nyengir.
Mereka berdua menuju ke dapur meninggalkan Najwan seorang diri.
"Naj, makan siang sudah siap. Mari !" Syaza menarik pelan tangan pria itu menuju ke ruang makan. Sikapnya itu mengejutkan Najwan. (Sepertinya dia mau menunjukkan ke uminya kalau dia benar-benar sayang dan jatuh cinta padaku ?) Hati Najwan bertanya-tanya.
"Makanlah, Naj... Jangan malu-malu. kata orang kalau kita malu nanti kita yang rugi." Najwan hanya mengangguk perlahan mendengar kata-kata Paman Hamzah. (Aku bukannya malulah Paman tapi segan ) Najwan berlucu sendiri dalam hati.
__ADS_1
"Jaja, ambilkan lauk untuk dia. Kasian dia lauk itu sangat jauh."
Syaza meletakkan sepotong ayam masak opor ke piring Najwan. Dia merasa Najwan nyengir-nyengir seakan-akan mengejeknya. (Mentang-mentang sedang sandiwara, dia ambil kesempatan dalam kesempitan mau mengejekku. Tunggu nanti kalau ada waktu aku akan mengejekmu balik) kata hati Syaza kesal.
#sore hari...
Suara Adzan yang sayup-sayup menyandarkan Najwan dari lenanya. Dia cepat bangun ketika keadaan sekeliling berbeda. (Dimana aku sekarang ?) Hatinya bertanya resah. Matanya memandang jam loceng di atas meja kecil yang menunjukkan hampir pukul 5 sore. (Patutlah ! Adzan yang kudengar tadi rupanya menunjukkan sudah masuk waktu Asar. Tapi aku sebenarnya dimana ini ?) Hatinya bertanya-tanya.
Dia duduk bersila memikirkan apa yang terjadi sebelum dia terlelap tadi.
Najwan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sewaktu dia kembali memasuki kamar tidur, dia menyadari kalau suasana di rumah itu begitu sunyi. "Mana semua orang dalam rumah ini ?" Najwan bertanya-tanya.
Selesai berganti baju, Najwan keluar ke ruang tamu. Kedengaran suara orang yang sedang bersenda gurau di halaman depan rumah.
"Mir, kau jangan mengejek Kak Jaja ! Nanti Kak Jaja tak kasih uang jajan, baru tahu kau ! Sekarang kau panjat pohon rambutan ini. Kak Jaja sudah tak sabar mau makan buah yang sedang matang di atas itu," Syaza bersuara kesal sambil kepalanya mendongak memandang buah rambutan yang sudah matang dia atas pohon.
__ADS_1
"Dulu Kak Jaja tak pernah menyuruhku memetikkan buah. Dulu Kak Jaja sendiri yang panjat ?"
"Amboi, pandai jawab juga dia. Kau ini memang menyebalkanlah, Mir. Masa kau tak faham-faham... Tadi Kak Jaja bawa pulang teman. Kalau dia lihat Kak Jaja gelantungan di atas pohon itu, nanti dia pingsan gimana... Dan lagi dia langsung pulang ke KL tinggalkan Kak Jaja." Syaza mengambil putik rambutan pada dahan yang rendah kalau melemparkannya ke arah adik tirinya. Akhirnya, mereka perang lempar putik rambutan tanpa mereka sadari Najwan sedang memerhatikan mereka dari balik pintu rumah.
Najwan tersenyum melihat gelagat Syaza dan adiknya berbalas lempar putik rambutan. Dia lalu menghampiri mereka.
"Boleh abang ikut main juga ? Terlihat asyik juga peperangan putik rambutan ini."
Syaza dan Ammir terkejut ketika disapa oleh Najwan secara tiba-tiba.
"Tuan Abang Oii ! Peperangan ini sudah tamat. Kedua pemimpin kelompok sudah angkat bendera putih."
Ammir nyengir-nyengir memandang Najwan setelah mendengar kata-kata Syaza. Dia berjalan memasuki rumah untuk memberi peluang pada 'pasangan kekasih' itu berbicara.
"Aku dengar apa yang kau bicarakan dengan Ammir tadi. Seram juga kau sebab bisa panjat pohon. Apalagi sifat dan wataknya yang aku tak tahu dan kau tak pernah cerita padaku... Bisakah kau memberitahuku ?"
__ADS_1
Syaza melabuhkan punggungnya di atas panggok yang berada di bawah pohon rambutan itu sambil sesekali matanya memandang ke arah jalan raya. Angin yang bertiup sepoi-sepoi menenangkan perasaannya. Pertanyaan dari Najwan tadi diabaikannya begitu saja. Tiba-tiba timbul satu ide dalam fikirannya. Syaza tersenyum sendiri.