Cinta Syaza

Cinta Syaza
Episode 51


__ADS_3

Syaza secepatnya lari menuju mobilnya setelah menuturkan kata-katanya itu. Dia merasa raut wajah Najwan yang terkejut setelah ditampar tiba-tiba olehnya. Airmata yang Coba ditahannya sewaktu didepan pria itu mengalir cepat setelah dia memasuki mobilnya.


Najwan meraba pipinya yang terasa sakit setelah ditampar oleh Syaza secara tiba-tiba tadi. Selama hubungannya dengan banyak wanita, ini pertama kalinya dia diperlakukan sedemikian oleh seorang wanita. Dan yang lebih terasa menyakitkan, tamparan itu adalah dari bekas teman baiknya yang kini sudah sah bergelar istrinya. Najwan semakin kesal terhadap Syaza.


Tangannya segera menekan nomor ponsel Syaza.


"Mudah-mudahan dia akan angkat panggilanku ini. Perhitunganku dengannya belum selesai. Perempuan itu harus membayar atas perbuatannya yang menjatuhkan martabatku tadi."


Syaza menjawab panggilannya.


"Syaza, mulai sekarang... Kau terima hukuman gantung tanpa status dariku. Hiduplah kau dengan penderitaan yang aku kasih ini."


Sebelum wanita itu membalas kata-katanya kembali, Najwan segera memutuskan panggilan. Dia merasa puas karena sakit hatinya telah terbalas kini. Dia malas memikirkan akibat dari perbuatannya itu. Senyuman terukir di wajahnya ketika melihat Melinda sedang berjalan ke arahnya dengan gaya yang menggoda.

__ADS_1


"Sayang, kita pergi ke disko setelah ini ya ? Boleh, ya ? Aku sudah lama tak menari denganmu." Najwan hanya mengangguk mendengar rengekan manja Melinda.


Arif yang sudah sampai di tempat parkir mobil merasa heran memikirkan perityang dilihatnya dari jauh tadi. Waktu dia mengikuti Syaza yang meninggalkannya tadi, dia melihat wanita itu sedang bertengkar dengan Najwan di depan pintu hotel. Dan yang lebih mengejutkannya ialah ketika dia melihat dengan jelas tangan Syaza menampar pipi pria itu.


(Sebenarnya apa yang telah terjadi hingga mereka berdua bisa berselisih paham begitu parah ? Kenapa sahabat yang begitu baik sebelumnya ini bisa menjadi musuh ?).


Syaza yang menghentikan mobilnya di tepi jalan waktu menjawab panggilan Najwan tadi memandang ponselnya dengan perasaan tidak percaya.


Hatinya yang sudah terluka semakin pedih dan berdarah sekarang.


"Ya Allah ! Beratnya cobaan yang kau berikan padaku sekarang. Umi, Jaja rindu umi ! Tolong Jaja, umi !"


Suara deringan ponselnya yang nyaring mengagetkannya dari tangisan.

__ADS_1


"Astaghfirullah haladzim !" Syaza beristighfar. Dia menjawab panggilan setelah dilihatnya nomer telepon rumahnya di kampung tertea pada layar telepon.


"Halo, assalamu'alaikum !"


"Wa'alaikum salam, kak Jaja. ini Ammir !" Suara adik laki-laki yang dirinduinya itu kedengaran gelisah.


"Ada apa Mir telefon kak Jaja malam-malam ?"


"Hah ! Umi masuk rumah sakit ? Kapan ? Umi sakit apa ?"


"Oke, mungkin malam ini kak Jaja akan langsung pulang ke kampung. Kalau ada apa-apa, cepat telepon kak Jaja ya ! Bye, assalamu'alaikum !"


Syaza terus menyetir mobil laju pulang ke apartemennya terlebih dahulu. Setelah mengemas sedikit pakaian, Syaza lalu memandu mobil pulang ke kampung. Bujukan Anita supaya dia pulang keesokan hatinya tidak dipedulikannya. Kalau dia punya sayap, rasanya sekarang juga dia ingin terbang cepat untuk berada di samping uminya yang dirawat di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2