Cinta Syaza

Cinta Syaza
Episode 42


__ADS_3

#subuh... kampung halaman syaza


Syaza mengusap mukanya dengan telapak tangan setelah dia selesai berdoa. Matanya melirik jam yang berada di dinding kamarnya yang sudah menunjukkan pukul 5.30 pagi. "Belum bangun juga si Naj ini ? Dia tidak sembahyang subuh ya ? Kalau Umi dan Abah tahu dia tidak tunaikan kewajiban yang satu itu, pasti dia batal unguk jadi menantu. Payah nih !" Kata Syaza perlahan.


Tanpa pikir panjang Syaza berjalan perlahan menuju ke kamar Abang Ammar. Dia menoleh ke kamar umi yang sudah terang benderang, menandakan penghuni kamar itu sudah bangun. (Jangan sampai umi melihag aku masuk ke kamar Abang Ammar nih... Kalau tidak masalah besar) Syaza berharap semoga uminya tidak melihat perbuatannya yang masuk ke kamar yang digunakan oleh Najwan.


Syaza mengetuk perlahan pintu kamar Abang Ammar, tapi tiada balasan yang kedengaran. Tangannya menekan gagang pintu yang kebetulan tidak terkunci itu perlahan-lahan. (Eee... Kenapa makhluk ini terlihat seksi. Kalau tidak kes Naya) hatinya tersentuh. Matanya dipejamkan sedikit waktu berjalan masuk ke dalam kamar itu.


"Amboi, lelapnya dia tidur ! Pantas saja subuhnya akan terlewat kalau tidak dikagetkan," Syaza mengomel perlahan ketika melihat Najwan sedang lelap tidur berselimut.


"Naj, bangunlah ! Waktu subuh sudah mau habis. Cepat sedikit !" Syaza bersuara perlahan sambil menepuk kaki pria itu penuh hati-hati.


"Mammy, jangan ganggu... Naj ngantuk sekali nih. Sebentar lagi Naj bangunlah."


Syaza ingin ketawa ketika mendengar kata-kata Najwan. Tangannya menepuk kaki pria itu lagi.

__ADS_1


"Ini bukan mammy-mu tapi mumi yang datang mau mencekikmu. Cepat bangun !"


Najwan yang masih setengah Sadar cepat-cepat bangun dari tidurnya ketika mendengar kata-kata aneh itu. Dia sangat terkejut ketika melihat satu sosok berpakaian serba putih sedang berdiri di depannya. (Hah, ada hantu mumi di dalam kamar ini ?) Dia ingin menjerit tapi belum sempat dia berbuat sedemikian, matanya melihat sosok itu tiba-tiba menyalakan lampu.


(Ya Allah ! Syaza rupanya. Aku kira hantu mumi tadi. Dasar teman jahil !) Dia mengomel dalam hati ketika melihat Syaza sedang tersenyum manis dalam mukenanya.


"Kau ini, Syaz ! Bikin aku panik saja. Dikira hantu mini yang menjelma di depan aku tadi," Najwan mulai bersuara setelah rasa terkejutnya berangsur hilang.


"Kenapa kau masuk kamar ini ? Sudah gak sabar untuk menunggu 'malam pengantin' kita ya ?" Usilnya sambil tersenyum. Dia merasa raut wajah Syaza yang tersipu malu.


Najwan memandang Syaza yang menghilang di balik pintu. (Ayu dan sopannya dia dalam mukenanya itu. Sungguh berbeda dari penampilannya sehari-hari. Tapi kenapa dia seperti segan melihat aku tadi, seperti orang yang baru kenal saja ?) Najwan menggaruk-garuk kepala memikirkan reaksi Syaza yang aneh itu sambil bangun mengambil handuk.


"Pantas saja dia seperti itu ! Dia segan melihat badanku yang seksi ini rupanya." Dia akhirnya tersenyum sendiri.


Setelah selesai menunaikkan sholat subuh, Najwan menyisir rambutnya kalau berjalan keluar dari kamar. Hidungnya yang mencium aroma kopi dan sambal ikan bilis membuat perutnya berasa lapar tiba-tiba.

__ADS_1


Najwan menahan sabar sambil keluar berjalan-jalan di halaman rumah itu. Dia bernasib baik karena kakinya yang keseleo kemarin sore berangsur pulih.


"Abang Naj, mari sarapan dulu ! Semua sdush siap !" Suara Ammir memberhentikan langkahnya yang semakin mendekati panggok yang berada di bawah pohon rambutan. Tanpa menunggu lama lagi dia berjalan memasuki rumah. (Perut sudah lapar apa yang mau ditunggu lagi!) Bisik hatinya.


"Najwan, mari sarapan dulu. Enak makan panas-panas nih... Kalau sudah dingin tidak sedap juga."


Dia nyengir mendengar ajakan Haji Hamzah sambil melabuhkan punggungnya di atas kursi. Semua orang sudah berada di meja makan kecuali Syaza. (Dimanakah dia ?) Hatinya bertanya-tanya sendiri.


"Amboi, semua orang makan tidak tunggu Jaja... Tega sekali !"


Kemunculan gadis itu dari arah dapur sambil membawa sepiring kuah menjawab pertanyaan yang ada dalam fikiran Najwan. Dia terpaku memandang Syaza yang berbaju kurung Kedah dan kain batik sedang tersenyum sambil duduk di sebelahnya.


"Naj, kau mau makan apa ? Nasi uduk atau pastel kuah ?" Tanya Syaza lembut melihat Najwan yang belum mengambil makanan dari tadi. Dia merasa mata pria itu fokus memandangnya.


(Apa ada sesuatu yang salah denganku hari ini sampai dia merenungku seperti itu ? Apa karena pakaian yang aku pakai ini... Tapi aku bukannya pakai yang seksi) dia mengomel dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2