Cinta Syaza

Cinta Syaza
Episode 19


__ADS_3

Senin datang lagi. Suasana Prima Holdings Company kembali berisik dengan suara pekerja-pekerjanya. Syaza baru saja sampai ke kantor. Dia melihat Daniel sedang berjalan ke ruangannya dengan wajah yang ceria, mungkin dimabuk cinta ? Dia memandang ruangan Arif yang bersebelahan dengan ruangan Ny. Maznah. Semalam dia sudah berfikir secara rasional, dan akhirnya dia memutuskan untuk menerima uluran persahabatan dari pria itu. Syaza tahu dia harus mengenal pribadi Arif terlebih dahulu, baru dia bisa menilai sikap pria itu yang sesungguhnya.


Matanya melihat jarum jam di pergelangan tangan yang sudah menunjukkan pukul 9.00 pagi. Ditelitinya jadwal untuk melihat janji temu Ny. Maznah pada hari itu.


"Aliah, bos sudah datang ?" Tanya Syaza setelah kembali dari ruang kantin. Tangannya meletakkan cangkir yang berisi Nescafe di atas meja.


"Sudah ! Tuan Arif kita itu juga sudah datang."


Syaza mencebikkan bibirnya. (Eee... Gadis mulut murai ni ! Aku tidak tanya soal pria itu juga), dia mengomel dalam hati.


Langkah kakinya diatur menuju ke ruangan Arif. Dia menguatkan semangat untuk berbicara dengan pria itu. Pintu ruangan Arif diketuk perlahan.


"Masuk !" Suara tegas pria yang memberi izin kedengeran di telinganya. Syaza mendorong gagang pintu ruangan dengan hati-hati. Dia tidak tahu mengapa dengan tiba-tiba dia merasa sangat segan untuk bertemu dengan Arif.


"Syaza ! Mimpi apa kamu semalam sampai Sudi mau menemuimu pagi ini ?" Arif yang sedang menekan sesuatu pada PDAnya tersenyum simpul memandang Syaza yang sedang berdiri di depan pintu ruangan itu.


"Boleh I bicara sebentar denganmu, Tuan Arif ?"


"Tentu ! Silahkan duduk." Arif segera menutup PDAnya. Badannya di sandarkan pada kursi sambil memerhatikan wajah Syaza. Dia tidak sabar menunggu kata-kata dari Syaza.


"Sebenarnya aku mengambil keputusan untuk menerimamu sebagai sahabatku dan aku bersedia untuk jadi asisten kamu," jelas Syaza sambil tersenyum nipis.

__ADS_1


"Berarti, kamu sudah tidak marah lagi padaku ? Terima kasih Syaza ! Aku janji akan jadi seorang sahabat dan bos yang paling baik," ujar Arif dalam nada gembira.


"Itu saja permintaanku. Bisa tidak kamu jangan merenung aku seperti itu... Aku tidak nyaman."


"Maaf karena membuatmu merasa seperti itu, sebenarnya aku heran kenapa gadis secantik kamu ini menyembunyikan kecantikannya di balik sikap dan pakaianmu yang seperti ini ?" Tanya Arif heran.


"Tuan Arif, aku sebenarnya merasa nyaman dengan penampilan aku sekarang. Aku tak perlu mengontrol kecantikanku setiap saat seperti setengah temanku diluar itu yang asyik melihat wajah di cermin. Takut make up luntur, konon !" Jelas Syaza selamba. Dia melihat Arif ketawa kecil dengan penjelasannya tadi.


"Aku suka dengan sikapmu yang tidak berpura-pura ini. Kamu tahu, itu adalah alasan kenapa aku suka berteman denganmu !"


"Okelah, aku keluar dulu. Kamu boleh panggil aku jika perlukan bantuan. Sekarang ini kamu kan bosku," kata Syaza sambil berjalan keluar dari ruangan bos barunya itu. Dia merasa lega setelah menyelesaikan masalahnya dengan Arif. Harapannya semoga mereka tidak akan mengalami masalah lagi di masa-masa yang akan datang.


"Hai, kamu ngapain berduaan dengan Tuan Arif di dalam ruangan tadi ?" Syaza yang sedang meneguk air Nescafenya yang hampir dingin itu tersentak dengan pertanyaan Aliah yang baru saja keluar dari kamar mandi. Syaza begitu meluat dengan perempuan bermulut becok itu.


"Aku berkenan dengan dia tadi, kita sedang mengenal diri masing-masing. Aku tak sangka penampilanku yang seperti ini pun ada orang yang suka. Jangan cemburu ya !" Kata Syaza. Matanya melihat gadis itu menarik muka masam. (Padan dengan muka engkau ! Asyik menyibuk Aje), Syaza ketawa dalam hati.


Daniel yang sedang berjalan keluar dari ruangan Ny. Maznah melihat Syaza yang sedang tersenyum nipis. Dihampirinya meja gadis itu.


"Hai Syaz ! Terlihat senang ? Ada berita bagus apa ?"


"Bukan apa-apa ! Masa aku Pengin bahagia sedikitpun tidak boleh ? Ada apa denganmu ? Kamu belum menceritakan padaku tentang kencanmu Sabtu kemarin."

__ADS_1


Belum sempat Daniel menjawab pertanyaan Syaza, ponselnya tiba-tiba berbunyi.


"Aku minta maaf karena tidak bisa bicara denganmu sekarang. Kita keluar makan siang bersama siang ini. Nanti aku akan cerita padamu semuanya tentang kencanmu itu !" Ujar Daniel lalu bergerak cepat masuk ke ruangannya sambil bicara pelan dengan seseorang di ponselnya. Syaza di tinggal yang terkejut dengan perlakuannya itu.


Sepanjang hari hingga waktu siang Syaza sibuk berbicara dengan Arif tentang susunan pertemuan yang perlu dilakukan oleh bos barunya itu. Syaza fokus menulis segala pertemuan Arif di dalam jadwal tanpa menyadari sepasang mata milik pria itu sedang memandangnya tajam.


"Syaza, aku mau mengajakmu makan siang denganku siang ini. Mau nggak ?" Arif bersuara setelah sepi mennguasai ruangan itu. Dia melihat Syaza tersenyum sinis sambil tangan gadis itu masih menulis jadwalnya.


"Tuan Arif mau mengajakku makan siang dimana ? Makan siang di McDonald lagi ?" Syaza bertanya sambil ketawa kecil. Dia teringat akan peristiwa yang terjadi pada mereka Minggu lalu.


" Kamu mengejekku ya ? Kamu kira aku sangat suka makan burger untuk makan siang ? Sebenarnya hari itu, aku sengaja makan disitu karena mau mengikutimu saja !" Arif tersenyum simpul setelah menuturkan kata-katanya.


"Dan aku bernasib baik akhirnya ketika bisa berbicara denganmu. Tapi aku tak menyangka karena perbuatanku yang tidak sengaja ketika menyebrang jalan membuatmu sangat marah padaku !"


" Itu tahu ! Lain kali jangan buat sesuatu yang kurang manis seperti itu... Aku tidak suka !"


"Tentang ajakan makan siang denganmu nanti, aku minta maaf Tuan Arif. Aku sudah janji dengan Daniel mau makan siang dengannya."


"Tida apa-apa, aku faham. Mungkin tidak ada rezeki hari ini untuk makan siang denganmu. Oke ! Obrolan kita sudah berakhir. Kamu boleh keluar sekarang," kata Arif perlahan.


"Aku keluar dulu." Syaza bangun lalu melangkah keluar dari ruangan itu. Dari nada kata-kata Arif, dia tahu pria itu kecewa dengan penolakannya.

__ADS_1


__ADS_2