
*Beberapa hari kemudian...
*
Syaza meneliti surat perjanjian yang diberikan oleh Najwan. Memang terlihat jelas Najwan membuat syarat-syarat ini semua lebih untuk melindungi dirinya. Gadis tomboi' yang terpaksa dinikahinya tanpa rasa cinta. Anita yang menjadi saksi di pihak Syaza hanya bisa menggeleng-geleng kepala ketika membaca syarat-syarat yang terkandung di dalam surat perjanjian itu.
"Aku akan terangkan dengan jelas syarat-syarat yang tertulis di dalam surat perjanjian ini kalau kau masih belum faham."
"Pertama, pernikahan ini hendaklah dirahasiakan dari semua orang. Kedua, kau takkan menerima walau sedikit pun harta yang dimiliki olehku dan keluargaku. Ketiga, kau tak boleh minta hakmu sebagai istri dariku, yaitu dalam arti kata lain aku takkan memberinya dari segi lahir ataupun menyentuhmu dari segi batin. Keempat, kau tak boleh mengatur hidupku. Aku bebas untuk berbuat apa yang aku suka."
"Kalau kau setuju dengan syarat-syarat tadi, kau bisa tanda tangani surat perjanjian ini," kata Najwan. Dia berharap gadis itu akan menolak syarat-syarat itu dan ini berarti pernikahan antara mereka tidak akan terjadi.
"Najwan, kalau aku melanggar syarat-syarat ini, apa yang akan terjadi ?"
__ADS_1
"Kau berarti bersedia menyandang status janda ! Atau namamu akan menjadi perbincangan orang-orang," Najwan berkata sinis. Tidak sekelumit pun rasa kasihan timbul di hatinya melihat raut wajah Syaza yang berubah satu.
(Kau sendiri yang mencari masalah, sekarang kau tanggunglah akibatnya) hatinya berkata geram.
"Syaz, kau jangan tanda tangani surat ini. Semua ini tak adil untuk pihakmu. Apa gunanya pernikahan jika itu berlandaskan surat perjanjian. Kau takkan bahagia." Kata-kata yang keluar dari mulut temannya itu membuat hati Syaza sebak tiba-tiba.
(Apalah dayaku, Nita... Semua ini terpaksa kulakukan demi menjaga nama baik keluargaku. Entah kebahagiaan aku kurasakan atau tidak, hanya Allah yang mengetahui segalanya. Aku ikhlas !) Hati Syaza merintih.
"Tak mengapalah, Nita... Biarlah aku tanggung akibatnya," ujarnya dalam nada sayu.
(Semoga kau bahagia atas penderitaan ku ini, Naj !)
"Najwan, kau memang kejam pada Syaza. Suatu hari nanti kau akan menyesal atas apa yang kau lakukan ini !" Anita berkata keras sebelum dia keluar bersama Syaza pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Setelah seminggu surat perjanjian itu ditanda tangani, Syaza dan Najwan akhirnya dinikahkan di kantor KUA. Tidak ada majlis apapun yang di adakan untuk meramaikan mereka walau dia selamat sekalipun.
Syaza merebahkan dirinya di atas kasur setelah pulang dari KUA. Air mata yang sepanjang hari itu coba ditahannya, akhirnya mengalir bagai bendungan sungai yang pecah. Dia tahu saat dua bergelar istri dari pria yang kejam itu, kebahagiaan hidupnya bagai direnggut pergi.
Hajah Hawa yang berada di luar kamar hanya memerhatikan anak gadis tunggalnya itu yang menangis terisak-isak di atas kasur. Sepatutnya saat ini anaknya itu sedang berbahagia di samping suaminya, tapi kenyataan yang sebenarnya adalah sebaliknya.
Syaza melihat kalender yang terletak di atas meja. Seingatnya hari ini tepat dua bulan dia resmi menjadi istri dari Najwan, pria yang pernah menjadi teman baiknya sebelumnya. Sejak berlangsungnya ikatan pernikahan antara mereka hubungan baik itu sudah berubah menjadi permusuhan. Kata-kata Najwan setelah mereka disahkan menjadi suami istri masih terngiang-ngiang di telinganya.
*Flashback on
"Ikatan suami istri antara kita hanya sah di atas kertas. Aku tak bisa menerimamu dalam hatiku dan hidupku sampai kapan pun. Itu janjiku padamu. Dan aku mau kasih tahu kamu satu hal, mulai saat ini persahabatan kita putus. Aku tak pernah kenal kau dan begitu juga sebaliknya."
Cincin pernikahan permata ungu Amethys dikeluarkan dari dalam kotaknya.
__ADS_1
*Flashback off