
*beberapa menit kemudian...
Matanya memandang sekitar. Pelanggan yang bernama Tuan Kelvin yang telah menetapkan janji temu dengan bosnya masih belum juga muncul sedangkan sudah 10 menit dia dan pria itu sampai.
"Tuan Arif, Tuan Kelvin tak jadi datang sepertinya ? Sudah 10 menit kita tunggu tapi bayangan dia pun tak nampak," katanya perlahan sambil tangannya merapikan file.
Syaza terkejut ketika tiba-tiba tangannya dipegang oleh Arif. Terkejut dia seketika dengan perbuatan pria itu yang sungguh tidak disangka. Dia lantas menarik kembali tangannya dari pegangan Arif, namun tangan pria itu tetap tidak melepaskan pegangannya. Wajah bosnya itu dipandangnya dengan perasaan kesal.
"Tuan Arif, kenapa denganmu ? Tolong lepaskan tanganku ! Nanti tak baik kalau Tuan Kelvin lihat."
Teguran Syaza hanya dipandang biasa oleh pria di depannya itu. Tangannya masih juga dipagang erat.
"Syaza, Tuan Kelvin takkan datang !"
"Apa maksud Tuan Arif ?"
"Sebenarnya aku yang rencanakan semua ini. Aku cuma mau pergi makan malam berdua denganmu. Tuan Kelvin itu temanku, aku merencanakan dengan dia untuk bikin semua ini."
__ADS_1
"Apa ? Semua ini Tuan Arif yang mengatur ? Kenapa Tuan Arif sampai hati berbohong padaku ?" Dia membentak sambil coba menarik tangan dari pegangan pria itu. Hatinya tiba-tiba sakit dan perasaan hormatnya pada pria itu terasa semakin terkikis.
"Maafkan aku ! Aku tak bermaksud mau menipumu. Aku hanya mau ngasih tahu kamu sesuatu waktu kita makan malam nanti."
"Aku mau pulang ! Lepaskan tanganku !" Matanya merenung tajam ke arah pria itu. Dia coba untuk bangun tapi perbuatannya itu terhalang karena pegangan kuat Arif pada tangannya.
"Syaza, aku takkan lepaskan tanganmu sampai kau dengar apa yang mau aku omongkan ini ! Sebenarnya aku sudah jatuh cinta padamu ! Aku... "
"Permisi ! Maaf karena mengganggu kalian berdua. Aku cuma mau menyapa saja !"
Teguran dari satu suara pria di belakangnya menghentikan kata-kata bosnya itu dengan tiba-tiba. Syaza segera menarik tangannya cepat dari pegangan pria itu lalu berbalik. Namun, kehadiran Najwan dan Melinda di belakangnya itu menambah lagi kejutan yang ada di dalam dirinya setelah mendengar luahan hati Arif. Senyuman sinis yang terukir dari bibir pria yang sudah lama tidak ditemui itu dirasakan seperti menyindir dirinya.
"Sebenarnya aku dengan pacarku sudah mau pulang. Baiklah, kita pergi dulu. Nanti lama-lama disini ganggu kencan kalian berdua lagi. Syaz, semoga senang malam ini, bye !"
Kata-kata terakhir dari Najwan itu terasa menusuk hatinya. Dia mengikuti langkah Najwan dan Melinda yang berjalan keluar dari restoran tersebut. Tangan Najwan dilihatnya memeluk erat pinggang Melinda yang berpakaian gaun pendek berwarna gold itu.
Arif merasa mata Syaza yang merenung tajam ke arah Najwan dan teman wanitanya yang baru berlalu pergi meninggalkan meja mereka.
__ADS_1
(Kenapa dengan dia ini ? Seperti ada sesuatu saja dia dengan pria itu ?) Fikir hati Arif.
"Tuan Arif, aku menghargai Tuan sebagai atasan tapi aku tak sangka Tuan bisa berbuat hal seperti ini. Tuan mengambil kesempatan atas tugasku sebagai asisten pribadi untuk semua ini. Aku pulang dulu. Selamat tinggal !"
Syaza pergi meninggalkan Arif yang hanya memandangnya dengan wajah yang masih melongo.
"Aik ! Masa sudah mau pulang ? Baru pukul 9, teman priamu itu tak kau ajak jalan-jalan menikmati angin malam ?"
Teguran pria yang amat dibencinya disamping pintu masuk hotel itu menghentikan langkah Syaza. Dia berbalik menghadap Najwan. Matanya merenung tajam ke arah pria yang telah bergelar suaminya dua bulan lalu.
"Kenapa kau sok perhatian ini, kenapa ? Terserah aku mau pulang awal atau tidak. Tak usah kau sindir-sindir. Kau jaga dirimu sendiri saja, sudahlah !" Syaza berkata kesal.
"Masa iya aku mau sama kamu... Kau sanggup cari pria lain untuk buktikan padaku kalau kau sebenarnya laku di pasaran. Malang sekali nasib si Arif itu ya ? Perempuan tomboi yang jadi teman wanitanya ini rupa-rupanya istri orang yang tidak diinginkan oleh suaminya. Kasihan sekali !"
"Cukup, Najwan ! Apa kau belum puas, hah !"
"Itu memang kenyataannya, kau adalah istriku tapi aku tak menginginkannya ! Kau harus ingat itu !"
__ADS_1
Suara Najwan yang menyindir pedas merobek perasaan dan hatinya. Kesabaran yang selama ini ada pada dirinya sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Kakinya melangkah cepat ke arah Najwan yang sedang memandang sinis ke arahnya. Dan tanpa aba-aba, pipi pria itu menjadi sasaran telapak tangannya.
"Najwan, aku tak seburuk yang kau sangkakan itu. Kau kira aku tak punya hati dan perasaan sampai kau bisa menghinaku sesuka hati. Ingat, Najwan ! Suatu hari nanti kau akan merasakan apa yang aku rasakan sekarang."