Cinta Syaza

Cinta Syaza
Episode 47


__ADS_3

"ada apa dengan Naj nih ? Mau di taruh dimana muka mummy kalau teman-teman mummy tahu anak laki-laki kebanggaan mummy tertangkap basah. Dengan perempuan yang seperti pria itu seperti dia juga."


Nyonya Habibah menangis terisak-isak di bangku di luar pengadilan agama. Tidak disangkanya anak yang selalu dipuji setinggi langit depan teman-teman perkumpulan wanitanya itu kini telah mencoreng arang ke mukanya.


Najwan hanya mendiamkan diri sambil menunduk memandang lantai. Omongan mummy nya itu hanya berlalu di tepi telinganya bagai badai angin yang bertiup. Matanya yang ditutupi kacamata hitam sesekali melirik Syaza yang sedang duduk di bangku selang 5 meter darinya. Hatinya mendongkol geram memikirkan peristiwa yang terjadi beberapa hari lalu. Pertolongan yang diulurkannya pada gadis itu rupanya menjeratnya dalam satu masalah yang terasa berat untuk dipikul. Kalau teman-temannya tahu dia berada di pengadilan ini bukan karena membela kasus tapi dia sendiri yang menghadapi tuduhan, alangkah malunya. Sudah pasti akan keluar cerita kontroversi panas sesama mereka 'pengacara tampan tertangkap basah dengan seorang gadis tomboi'.


Akhirnya, setelah sidang selesai, mereka telah didapati bersalah karena duduk berduaan di dalam sebuah rumah dalam keadaan yang bisa menimbulkan prasangka dan di kenakan denda.


*Beberapa hari kemudian...


Syazacoba melelapkan matanya. Sudah tiga hari dia mengambil cuti karena peristiwa pahit itu. Telinganya sudah hampir copot karena dimarahi umi. Penjelasannya akan cerita yang sebenarnya tidak diterima oleh umi.


"Umi, Jaja tak bersalah ! Kenapa umi sampai hati tidak percaya cerita anakmu ini ?" Dia mengeluh sendiri.


"Kalau kau sudah gatal sekali pengen kawin, bilang terus terang saja ! Umi bisa nikahkan. Tak usah bawa masuk laki-laki ke dalam rumah. Bikin malu muka orangtua saja !"


Panas hati uminya masih belum reda walaupun kasus itu sudah diselesaikan. Hampir seminggu setelah itu Abah dan umi mengajaknya bersama-sama ke rumah keluarga Najwan. Ada sedikit perkara yang ingin diselesaikan, jelas uminya ketika Syaza bertanya alasan mereka untuk pergi ke rumah keluarga pria itu.


"Saya ini walaupun sekedar bapak tiri dia, tapi malu yang teramat, imbasnya kena pada saya juga."


"Bisa tidak anda terangkan apa hajat anda sebenarnya datang ke rumah saya ini, tidak perlu berbelit-belit !"


Syaza hanya menundukkan wajahnya ketika mendengar perang mulut yang berlaku antara Abah dengan bapak Najwan. Dia tidak berani mengangkat muka memandang semua yang ada di situ. Cuma hatinya masih bertanya-tanya kenapa Abah dan umi datang ke rumah joglo itu. Masa iya sekedar untuk membahas perkara yang memalukan itu.


"Baiklah ! Saya tak akan bicara panjang lebar lagi. Saya dan istri sudah bicara, kami mau Najwan bertanggung jawab terhadap anak Kami. Mereka berdua harus menikah."


Najwan merasa dirinya seperti mendapat sengatan listrik ketika mendengar kata-kata bapak tiri Syaza itu.


(Nikah ? Dengan Syaza yang tomboi ini ? Ya Allah ! Kenapa malapetaka ini yang terjadi padaku ?) Dia merintih dalam hati.

__ADS_1


Syaza mencubit tangannya untuk Bu membuktikan kalau dia tidak bermimpi seram pada saat itu.


(Aku dipaksa nikah dengan Naj ? Ya Allah ! Tolonglah hambamu ini. Janganlah semua ini terjadi,) hatinya juga merintih.


"Amboi, seenaknya datang ke rumah kami, sekarang seenaknya saja mau paksa anak kami menikah dengan anak anda ! Atau mungkin anda sekeluarga ada kaitannya dengan semua peristiwa ini ? Kapan anda sekeluarga tahu Najwan itu anak orang kaya, anda sekeluarga berencana mau memerangkap dia. Setelah itu paksa dia menikah dengan anak anda yang seperti laki-laki ini." Suara Nyonya Habibah yang lantang mengejutkan semua yang ada di ruang tamu tersebut.


Hajah Hawa memandang kesal wanita yang berdandan tebal seperti pemain Opera Cina yang duduk berhadapan dengannya itu.


(Enak sekali mulut dia menuduh kami. Dia kira kami ini haus dengan harta dia itu ?) Hatinya mengomel geram.


"Nyonya Habibah, kami sekeluarga tak berminat dengan harta anda semua ini, tapi kami lebih mementingkan harkat dan martabat anak gadis kami ini. Najwan, paman ingin kamu menikah juga dengan Syaza !"


"Syaza, err..." Najwan ingin berkata sesuatu tapi Islam Syaza mematikan kata-katanya. Dia memandang gadis itu yang sedang menangis sambil memegang tangan uminya.


"Abah, Jaja tak mau menikah dengan dia. Kami tak bersala. Kami tak berbuat apa-apa di dalam apartmen Jaja itu ! Tolonglah jangan bikin Jaja seperti ini. Umi... Tolonglah Jaja, umi !"


"Keputusan kami sudah bulat, Jaja ! Kau harus menikah dengan Najwan secepatnya."


"Naj, mummy tak suka perempuan yang seperti laki-laki ini jadi menantu mummy. Naj jangan takut dengan desakan mereka ini. Mummy akan tolong Naj."


(Aduh, beratnya masalah aku ini ! Mummy tak suka aku menikah dengan Syaza. Keluarga Syaza minta aku menikah dengannya. Aku juga belum siap untuk menikah, apalagi dengan Syaza yang tak kucintai ini. Syaza juga sepertiku. Bagaimana ini ?) Najwan meraup muka dengan telapak tangannya. Dia tidak menyangka kalau dia akan berhadapan dengan masalah berat seperti ini dalam hidupnya.


"Baiklah, bibi... Saya setuju menikah dengan Syaza tapi saya mau buat perjanjian sebelum kami menikah," Najwan berbicara menuangkan rencana yang tiba-tiba muncul difikirkannya. Dia merasa mummy dan daddy memandangnya dengan pandangan terkejut.


"Apa ? Untuk menikah pun kau mau buat perjanjian. Kau ini memang tak punya hati."


"Oii, Tuan Hamzah ! Anak saya mau menikah dengan anakmu pun sudah cukup baik ! Anda sepatutnya bersyukur ! Ikuti saja kata dia itu, jangan banyak protes."


"Syaz, aku akan telefon kamu ketika aku sudah siapkan syarat-syarat dalam perjanjian itu dan satu lagi, kau harus cari seorang saksi untuk pihakmu."

__ADS_1


Kata-kata Najwan itu terngiang-ngiang di telinganya.


(Apa aku kejam sampai Najwan sanggup menikahiku bertemankan surat perjanjian. Dan kalau memang dia tidak mau kami menikah kenapa dia tidak Coba menentangnya ? Kenapa kau tiba-tiba jadi kejam, Naj ?) Syaza mengesat air matanya yang mengalir di pipi.


"Kau tak usah menangis seperti itu. Lain kali kalau mau buat apapun itu pikirkan dulu baik buruknya. Nasi sudah jadi bubur mau menangis sampai bengkak mata. Kita ini perempuan harus jaga diri baik-baik. Kalau sudah tidak tak akan ada yang mau."


Omongan uminya itu semakin menambah kesakitan dijiwanya. Malang sekali nasibnya sekarang. Sudah Minggu lalu dia ditangkap basah dengan Najwan, kini dipaksa menikah juga dengan pria itu.


Malam itu Syaza bicara dengan Anita di kamarnya setelah seminggu mengucilkan diri. Sahabatnya itu hanya berdiam diri mendengar segala luapan dari mulutnya.


"Nita, aku tak sangka sampai begini panjang sekali masalah yang terjadi padaku dan Najwan. Karena satu kecerobohan, semuanya jadi hancur."


"Sabarlah, Syaz... Semua ini takdir dari Allah. So, bagaimana masalahmu dengan Najwan ? Sudah selesai semua ?"


"Selesai apanya, makin bertambah runyam sih iya !"


"Apa maksudmu ? Aku tak faham."


Syaza menceritakan semua peristiwa yang terjadi di rumah Najwan petang tadi hingga tentang surat perjanjian pernikahannya dengan Najwan.


Anita melongo mendengarnya. Dia tidak menyangka sampai segitu rumitnya masalah sahabatnya itu.


"Jadi kau mau aku jadi saksi ketika kau tanda tangan surat itu nanti ? Kau sudah fikirkan matang-matang untuk semua ini ? Semua ini sama sekali tak masuk akal."


"Aku terpaksa, Nita.... Demi menjaga martabat insan yang aku sayangi."


"Syaz, aku dengar gosip-gosip penghuni di apartemen ini bilang, dia sebenarnya mengadu ke departemen agama supaya menangkap si Zita itu, tapi malah pegawai itu salah rumah ternyata," jelas Anita sambil merebahkan dirinya.


"Dan, kebetulan waktu itu aku dengan Najwan berdua saja di dalam rumah ini. Memang sudah nasib badan," Syaza menambahkan dalam nada sayu.

__ADS_1


"Okelah, aku masuk kamarku dulu."


__ADS_2