Cinta Syaza

Cinta Syaza
Episode 44


__ADS_3

"Kau ini benar-benar minat pada Jaja ya ? Dia ini cucu Perempuanku satu-satunya. Aku lihat kau ini serasi dengannya. Dia ini biarpun wataknya seperti pria sedikit, tapi hati dia baik. Kau jangan sakiti perasaan dia ya ! Aku sangat berharap !"


Najwan melirik Syaza yang duduk menyepi di sebelahnya.


"Syaz, apa pandangan umi mu terhadapku ? Apa aku lulus untuk jadi menantu dia ?"


"Kenapa kau tanya seperti itu ? Kau berminat untuk isi kekosongan untuk jadi suamiku kalau aku bilang umi suka padamu ?"


"Apa salahnya... Kalau difikirkan kembali, untung juga kalau kau jadi istriku. Aku tak perlu keluarkan duit untuk beli make-up mu. Baju juga tak usah beli sebab kita bisa berbagi. Kau juga tak mau mengisi kekosongan untuk menjadi istriku ?"


"Eee... Tak kuasa aku ! Kau kira aku sudah ngebet untuk menikah, sampai sanggup terima pria yang pelit seperti kau ini untuk jadi suamiku."


"Mulut bolehlah berkata tidak tapi hati di dalam siapa yang tahu."


Syaza melirik kesal pada pria itu di sebelahnya yang sedang tersenyum sinis. Dia malas menanggapi kata-kata yang ditujukan padanya itu. (Naj ini, kalau ditanggapi semakin menjadi-jadi usikannya. Lebiha baik aku tidur lagi) kata hati Syaza.


Kendaraan yang disetir Najwan bergerak keluar dari rest area setelah 10 menit berhenti. Syaza menyuap buah jambu batu yang telah dibubuhi asam bubuk ke dalam mulutnya sambil sesekali menyanyi mengikuti lagu yang kedengaran di radio.


"Amboi, makan jambu tak menawari kita ! Tega sekali !"


"Eh, maaflah ! Aku kira kau tak minat makan buah ini. Kau mau ya ? Nih ambil." Syaza mengulurkan bungkusan plastik yang berisi buah jambu batu itu pada Najwan.


"Syaza, akus Edang menyetir. Bisa tidak kau bantu suapkan ke dalam mulutku ?" Kata Najwan dalam nada merayu.


"Siaplah sendiri. Berpura-pura sekali !"

__ADS_1


"Tolonglah... Kalau aku suap sendiri nanti kendaraan ini bablas ke tepi jalan itu. Aku belum menikah, aku tahu tidak ?"


"Kau kira kau seorang yang belum menikah. Aku juga belum menikah ! Nih, cepat buka mulutmu!"


Najwan sedikit ketawa setelah potongan kecil jambu batu itu habis dikunyahnya.


"Aku kira kau tak ada perasaan mau nikah. Tadi kau bilang kau belum berniat mau ke arah itu. Sekarang sudah jadi lain."


"Maksud aku tadi bukan sekarang waktunya aku mau menikah... Tapi mungkin masa-masa yang akan datang. Siapa kita tahu akan apa yang terjadi pada masa yang akan datang, kan ?"


"Jawabanmu itu bisa diterima juga. Err... Syaz, boleh aku sikit bertanya ?"


"Boleh ! Tanya apa ?"


"Kalau tiba-tiba hatimu terbuka mau menikah, apa sifat-sifat pria yang sesuai denganmu ?"


"Naj, aku..." Kata-katanya terhenti tiba-tiba ketika ponsel Najwan berbunyi nyaring.


"Hai, Mel. Aku sedang menyetir nih, nanti aku telepon kau lagi. Sampai jumpa !"


Najwan segera menutup ponselnya. Dia melirik Syaza yang sedang tersenyum sinis.


"Ada apa si Mel meneleponmu ? Dia kebingungan karena kau tak ketemu dengannya dua tiga hari ini ?"


"Entahlah ? Malas aku menanggapi panggilan dia... Karena dia yang berpura-pura itu bikin aku menyampah sekali !"

__ADS_1


"Apa iya ! Sekarang di depanku bisa-bisanya kau bicara seperti itu... Nanti ketika sudah berjumpa dia, dia goda sedikit terus kau lupa sifat dia yang berpura-pura itu. Kata-kata pria ini memang tidak bisa dipercaya."


"Aku sebenarnya tak punya perasaan padanya, cuma sekedar teman untuk keluar menghibur sesekali saja... Kalau mau jadi istri, dia bukanlah calon yang sesuai."


"Maksudmu, kau mau cari perempuan yang berpakaian sopan, lemah lembut dan baik hati ya ?"


"Yap, kau benar, temanku !"


"Sifat pria memang seperti itu. Kalau mau senang dan berfoya-foya, dia pilih perempuan yang seksi, menggoda dan sosialita... Tapi ketika cari calon istri, semuanya mau perempuan yang baik dalam segala hal. Tak adil sekali !" Kata Syaza datar.


Najwan ketawa mendengar komenan Syaza. Memang kata-kata Syaza semuanya tepat, tapi itulah kenyataannya. Semua orang mau yang terbaik dalam hidup. Begitu juga dengan dirinya sendiri.


"Syaz, kan dalam agama kita sendiri bilang pria yang baik untuk perempuan yang baik, dan begitu juga sebaliknya."


"Oh ! Jadi kau rasa kau ini pria yang baik ya ? Dasar ! Seperti aku tak tahu kehidupan malammu yang enjoying itu."


"Err... Aku cuma keluar menyanyi di karaoke untuk melepas bebanku saja dan sesekali pergi disko tak lebih dari itu."


"Aku rasa kata-katamu tadi, apa bisa dipercaya !"


"Terserah padamu. Tapi aku akan pastikan aku akan jadi seorang suami yang baik pada perempuan yang baik yang menjadi istriku suatu hari nanti. Kau tunggu dan lihat."


"Aamiin... Aamiin... Yaa robbal alaamiin." Gelagat Syaza yang menadah tangan seperti mengaminkan doanya membuat Najwan tersenyum sinis. (Syaz, suatu hari nanti akan dibuktikan kata-kataku ini menjadi kenyataan) hatinya berkata dengan yakin.


Hampir 3 jam mobil yang disetir oleh Najwan memasuki kawasan Apartemen Mutiara.

__ADS_1


Perjalanan yang melelahkan itu membuat Syaza segera bergegas menaiki lift setelah mobil Najwan pergi. Sewaktu tangannya membuka kunci apartmen, dia melirik Zita, tetangga sebelah apartemennya sedang memeluk pinggang seorang pria keluar dari apartemennya. Zita ini semakin keterlaluan sekarang ini. Dulu selalu bikin pesta sampai dia dan Nita hampir mau mengamuk karena berisik, dan belakangan ini bawa pria tidur ke rumahnya juga. Ingn saja dia melapor ke kantor agama, biar pasangan yang tidak tahu kenal dosa itu dikenakan hukuman, tapi Nita selalu mengatakan mungkin orang lain sudah melapor tentang hal itu.


"Baru pulang, Syaza ? Sudah lama kita tak bertemu ya ?" Teguran Zita yang melintasi apartemennya diabaikan begitu saja. Senyuman Zita dan teman prianya itu membuat tenggorokannya berasa mual. Dia terpaksa mengukirkan senyuman palsu demi menutupi rasa mualnya.


__ADS_2