
Kini nampak dua gudukan tanah, kedua orang tua Lavanya dimakamkan di tempat yang saling berdekatan.
Lavanya nampak berjongkok diantara kedua makam tersebut sambil mengelus nisan kedua orang tuanya, "mah pah" ucap Lavanya lirih.
Tiara yang melihat itu ikut berjongkok dan menepuk pundak Lavanya, "yang sabar yaa sayang, kamu gak sendiri masih ada mama sama Aciel" ucap Mama Tiara.
Lavanya pun memeluk Tiara, tidak ada tangisan dari Lavanya, namun sangat terlihat dari raut wajahnya itu. Lavanya benar-benar terlihat sedih.
Pemakaman pun telah usai, kini semua orang yang ikut berkabung telah pergi satu-persatu tinggal Lavanya, Aciel dan mama Tiara.
"Sayang ayo kita pulang" ucap Tiara pada Lavanya.
Lavanya pun mengangguk walau sebenarnya dia masih ingin tetap berada disana menemani kedua orang tuanya itu.
......................
Seminggu telah berlalu, Lavanya nampak murung dia terlihat sangat lesu dan tidak bersemangat, kini Lavanya tinggal besama Aciel dan Mama Tiara di rumahnya. Tiara tidak mengizinkan Lavanya untuk tinggal sendirian, dan Tiara masih ingat dengan pesan terakhir sahabatnya itu untuk selalu menjaga Lavanya.
"Sayang,, besok mama akan berangkat ke kota XXX" ucap Tiara sambil mengoleskan selai coklat pada roti tawar dan menaruhnya langsung di piring Lavanya dan Aciel.
__ADS_1
Tiara yang akan mengurus perusahan L Group, karena tidak mungkin Lavanya yang mengurusnya dia masih terlalu kecil untuk menjadi pimpinan perusahaan.
"Lahh Yaya sama siapa dong? " ucap Lavanya
"Kan masih ada Aciel sayang" ucap Tiara.
"Aciel kamu jagain Yaya jangan sampek tuan putri mama ini kenapa-kenapa" ucap Tiara sambil mengelus puncak kepala Lavanya.
"Kamu dengar Aciel" ucap Tiara lagi karena Aciel tidak merespon perkataannya tadi.
"Iya mah" ucap Aciel.
Lavanya tidak belajar di sekolah melainkan home schooling, ini permintaan dari Nesha. Tiara sudah mengetahui keadaan dari Lavanya, Tiara sempat syok waktu itu, mengapa anak semanis dan sebaik Lavanya memiliki penyakit sekeras itu.
Sementara Aciel dia belum mengetahui apapun, dia sempat bertanya-tanya mengapa Lavanya harus home schooling tapi karena sifatnya yang cuek, Aciel pun tidak ambil pusing dan memilih diam saja.
"Siap mah" ucap Lavanya.
Kini Lavanya sudah nampak lebih membaik dari hari sebelumnya, setidaknya dia sudah dapat tersenyum kembali walau kadang-kadang dia nampak menyendiri.
__ADS_1
Tiara dan Aciel pun berangkat ke perusahaan, sementara Lavanya dia sedang belajar bersama guru privatnya.
"Kalo tidak bisa jangan terlalu dipaksakan, jangan sampai terlalu stress" ucap Maya, guru privat Lavanya.
"Iya buk" ucap Lavanya sambil tersenyum manis pada Maya.
Tiara pun telah menjelaskan pada Maya kalau Lavanya tidak diperbolehkan berpikir terlalu keras karena itu akan sangat membahayakan keselamatannya, Maya pun dengan sabar dan sangat lembut dalam mengajari Lavanya.
"Ya sudah istirahat dulu, besok kita lanjut lagi" ucap Maya.
Hari sudah menunjukkan siang Maya pun pamit pulang, "hati-hati dijalan buk" ucap Lavanya pada Maya.
"Iya Vanya kalo ada yang tidak dimengerti langsung tanya ibuk saja" ucap Maya.
"Okay siap buk, makasi udah ngajarin Yaya ya buk" ucap Lavanya.
"Iya Yaya sama-sama, kalo begitu ibuk pamit kamu gak usah antar istirahat saja" ucap Maya.
Maya pun berlalu dari kamar Lavanya, Lavanya merebahkan tubuhnya, dia merasa sangat lelah, tubuhnya sangat lemah dan mudah terasa capek.
__ADS_1
NEXT