
Nayra datang dengan wajah kusutnya. Ia melihat Erland sedang memandangi para pelayan yang tertunduk dengan wajah ketakutan. Kedatangan Nayra membuat para pelayan memasang wajah melas mereka, berharap Nayra bisa membantu mereka.
"Ada apa ini?" Nayra memberanikan diri bertanya. Ia menatap suaminya yang masih memandangi satu persatu wajah pelayan.
"Mereka tidak melakukan tugasnya dengan baik. Mereka asyik bersantai-santai di belakang."
Jam belum menunjukkan pukul sore. Tapi Erland sudah pulang. Ia mendorong kursi roda Erland menuju kamar, tanpa menghiraukan wajah memelas para pelayan.
Setelah membantu Erland duduk di ranjang, Nayra pergi ke dapur untuk membuatkan minum.
"Nayra! Nayra!" Baru saja keluar dari kamar, pelayan sudah menarik tangannya menuju suatu tempat.
"Ada apa?" tanyanya dengan heran.
"Tolong bantu kami. Gaji kami akan dipotong 50 persen karna ketahuan bersantai-santai saat jam kerja," ujar salah satu dari mereka. "Tolong kami, Nayra. Tolong bujuk tuan Erland agar mau mencabut perkataannya kembali. 50 persen itu sangat berharga bagi kami."
Jika seperti ini, dirinya dibutuhkan. Tapi terkadang mereka membicarakan yang tidak baik di belakangnya.
"Baiklah. Nanti aku coba bilang ke suamiku," jawabnya setelah berpikir.
Suami.
Ini pertama kalinya Nayra menyebut Erland sebagai suami. Tidak apa lah, biar pelayan tambah panas mendengarnya.
"Terima kasih, Nayra."
Setelah itu mereka pergi tapi ia yakin di belakangnya mereka masih membicarakan dirinya.
Dara dan Bi Har tidak termasuk ke dalam nasib pelayan tadi, karna mereka memang ditugaskan untuk di belakang.
"Tuan Erland kenapa pulang secepat ini, Nayra?" tanya Dara yang kebetulan berada di dapur juga.
Ia menghendikan bahunya, tidak tahu apa-apa. Lagipula itu terserah dia mau pulang kapan dan jam berapa.
Satu jus jeruk ia bawa dengan hati-hati. Erland memejamkan matanya singkat, lalu saat mendengar pintu kamarnya dibuka ia langsung membuka matanya kembali.
"Tuan, bisakah kita bicara sebentar." Nayra memilih duduk di pinggir ranjang. Ia terlihat gugup, tangannya berkeringat takut-takut apa yang akan diucapkan dirinya langsung ditolak mentah-mentah.
"Apa?"
"Tolong cabut perkataan Tuan yang ingin memotong gaji pelayan 50 persen. Kasian mereka."
Terdengar Erland mendecakkan lidahnya. "Apa kamu mau mengganti gaji mereka 50 persen itu?"
__ADS_1
Nayra menggeleng. Jujur saja saat ini Nayra tak memiliki uang. Uang yang berada di atmnya sudah ia transferkan untuk Pamannya. Kini ia tak memiliki pegangan uang. Biaya sekolah Alvin pun sudah dibayar oleh Rhianna. Nayra hanya harus bertahan satu tahun di rumah ini.
"Lalu kamu mau menggantinya dengan apa? Tubuhmu?" ledeknya.
Erland memandangi tubuhnya dari atas. Sebenarnya sebagai lelaki yang normal, ia pernah tertarik dengan tubuhnya. Siapa yang kuat berduaan di dalam kamar dengan lawan jenisnya apalagi mereka sudah sah.
"Maksud, Tuan?" tanya Nayra seraya memandangi tubuhnya. Selama menjadi istri Erland, ia tak pernah sekalipun memakai pakaian yang terbuka. Ia selalu memakai pakaian yang sopan.
"Lupakan." Ia menghela napasnya. "Katakan pada mereka kalau aku tidak jadi memotong gaji mereka. Bulan depan mereka masih merasakan gaji yang utuh."
Matanya berbinar mendengar pernyataan dari Erland. Pria yang menjadi suaminya ini ternyata masih memiliki hati yang mulia.
***
Udara malam semakin menusuk kulit. Lengannya terbuka merasakan dinginnya malam ini. Ia tak mungkin pergi, karna sebelumnya ia sudah berjanji dengan seseorang.
"Lama sekali!" keluhnya pada seorang pria bertubuh tegap itu.
"Maaf, sayang." Frans membelai rambut Nayra. Ia sangat menyayangi wanita itu. "Ini oleh-oleh untukmu dan juga untuk Alvin." Frans memberikan dua bingkisan. Ia ternyata pria yang menepati janji. Ia kira Frans akan lupa dengan janjinya sendiri.
"Apa ini?" tanyanya penasaran. Ia mencoba membukanya tapi Frans tak memperbolehkan.
"Buka saja di dalam."
"Dara, buka pintunya." Jam segini memang sudah jadwalnya pelayan istirahat. Walau terkadang sesekali mereka dipanggil.
"Nayra ...." Ia terkejut melihat Nayra yang tiba-tiba datang. Dan di tangannya terdapat dua paper bag. "Apa ini? Untukku?" tanyanya.
Nayra menggeleng kuat. "Bukan, ini oleh-oleh dari temanku," jawabnya.
"Oh ...." Dara hanya ber-oh ria. Ia hanya bisa memandangi Nayra yang sedang membuka isi paper bag itu.
Ternyata di dalamnya ada satu bungkus makanan, accesories dan sebuah baju.
"Cantik sekali. Aku mau dong!" Dara merebut sebuah gelang. Tapi dengan cepat Nayra merebutnya kembali.
"Jangan! Ini saja untukmu." Nayra memberikan satu bungkus makanan untuknya. Tak mungkin ia membiarkan Dara memakai gelang pemberian Frans.
[Bagaimana, apa kamu suka sayang?] Frans mengirimkan ia pesan dan langsung dibalas Nayra dengan emoticon senyum.
[Aku ingin bicara banyak dengan mu. Besok aku tunggu di cafe biasa.]
Nayra harus memutar otak mencari alasan buat besok pergi. Dia juga ingin menanyakan banyak hal pada Frans. Kenapa dia bisa bekerja di sini.
__ADS_1
Tok!
Tok!
Tok!
Nayra saat ini berada di depan pintu kamar Alvin. Ia membawa satu paper bag dari Frans untuknya.
"Masuk, Kak." Alvin membuka pintunya lebar, mempersilahkan kakaknya untuk masuk.
"Kakak hanya ingin memberikan ini. Kak Frans membelikan oleh-oleh untukmu."
Alvin tak kunjung menerimanya, ia malah memilih berbaring di ranjang.
"Alvin, jangan seperti ini—"
"Kakak ini kan sudah menikah, kenapa masih berhubungan dengan pria itu?" Alvin sebenernya tidak mau ikut campur dengan kehidupan rumah tangga kakaknya. Tapi ia merasa aneh dengan kakaknya.
"Kakak hanya berhubungan baik, Alvin. Tidak lebih—"
"Bohong! Jelas-jelas kalian masih berpacaran!"
"Sssssttttt. Pelan kan suaramu, Alvin."
Nayra tak mungkin menceritakan semuanya pada Alvin. Tak mungkin dia mengatakan bahwa pernikahannya dengan Erland akan berakhir setelah satu tahun pernikahan.
"Kakak ini tidak mencintai kak Erland?" tanyanya dengan suara pelan.
"Alvin, kamu jangan mikirin Kakak. Fokus saja dengan sekolahmu." Nayra memilih pergi, ia tak mau membahas lebih lanjut soal pernikahannya.
"Nayra, kamu bertengkar dengan adikmu?" Rhianna tiba-tiba ada di depan kamar Alvin membuatnya terjingkat kaget.
"Tidak, Ma," jawabnya seraya menggeleng.
"Tapi tadi Mama dengar Alvin teriak-teriak."
Nayra hanya bisa menggeleng. "Iya itu biasa, Ma. Alvin susah dibilangin," katanya.
"Ya sudah, kamu cepat tidur. Erland sepertinya sudah terlelap." Nayra mengangguk dan mengucapkan selamat malam untuk ibu mertuanya. Rhianna sangat baik padanya, bahkan ia bisa merasakan kasih sayangnya yang tulus padanya.
Rhianna menatap punggung Nayra yang sudah berjalan jauh. Dia banyak berharap pada Nayra. Ia ingin Erland memiliki semangat hidup lagi. Semoga saja Nayra bisa merubah jalan pikiran Erland. Kalau kekurangan seseorang takkan membatasi kehidupannya ke depan.
"Nayra, Mama sangat menyayangimu seperti Mama menyayangi Erland," ucapnya dalam hati.
__ADS_1