
BRUKKKKKK!!!
Suara tabrakan berasal dari luar. Lalu tak selang lama terdengar suara mobil yang melaju cepat dan orang-orang disekitar langsung berlarian.
"Tabrak lariii!!!" Salah satu orang berteriak dan berusaha menghentikan sebuah mobil yang telah menabrak seseorang. Namun usahanya sia-sia karna mobil terlalu cepat melaju dan seketika hilang dari pandangan.
Seorang pria muda tergeletak tak berdaya dengan bersimbah darah.
"Alvin!!" Frans terkejut saat mengetahui bahwa Alvin-lah yang tertabrak. Pantas saja hatinya tak tenang saat baru saja Alvin keluar rumah dan suara menggelegar itu seketika terdengar sangat keras.
"Ini adik saya!" ucapnya dan para warga langsung menolong untuk dibawa ke mobil. Tanpa memberitahu Nayra, Frans langsung membawa Alvin ke rumah sakit seorang diri.
Wajahnya terlihat sangat panik apalagi melihat darah begitu banyak mengucur di dahinya.
.
.
.
Hawa panas terasa mengusik dirinya yang sedang tertidur. Matanya mengerjab dan sesaat mengitari seluruh ruangan. Ia baru tersadar bahwa ada di kamar pribadinya sendiri. Suasana hening seperti tidak ada kehidupan.
Ia turun dari ranjang dan berjalan menuju depan. Tepat dimana kekasihnya itu duduk. Entah sudah berapa lama ia tertidur, tak sempat untuk melihat jam. Yang ia cari adalah kekasihnya. Tapi saat ia melewati kamar adiknya, ia baru tersadar bahwa adiknya juga tidak ada. Lalu saat langkahnya sudah di depan ia pun kebingungan sendiri.
"Dimana sih mereka?" Dengan badan masih lemas khas bangun tidur, ia akhirnya menyerah dan duduk di sofa.
"Nayraaaa ........." Seorang tetangga dekat rumahnya tiba-tiba datang sembari berteriak memanggil namanya. Ibu-ibu bertubuh gempal itu mendatanginya dengan raut wajah panik.
Dari kejauhan ia melihat Nayra yang sedang duduk santai di sofa dan langsung menghampirinya langsung.
"Ada apa, Bi?" tanya Nayra.
"Kamu ternyata di rumah? Sejak kapan? Adik kamu tadi loh kecelakaan. Terus dibawa—"
"Hahhh?????" Belum sempat mendengarkan lebih lengkap, Nayra langsung berlari ke kamar untuk mengambil tas dan segalanya yang diperlukan.
Sembari mengunci pintu, ia menelfon Frans. Tapi tak kunjung diangkat, tapi Nayra langsung berpikir mungkin saja Frans membawa Alvin ke rumah sakit terdekat dari sini.
Sesampainya di rumah sakit ia langsung berlari ke meja resepsionis.
"Frans!!!!" Belum sempat menanyakan soal Alvin, ia melihat Frans yang sedang berjalan.
"Dimana Alvin?" Sedari tadi Nayra bisa menahan tangisnya, tapi saat sudah sampai di rumah sakit rasa khawatirnya langsung membuncah. Ia menangis tak berhenti.
Frans menunjukkan di mana Alvin di rawat.
__ADS_1
"Suami lumpuh mu akan kesini," ujarnya dengan raut wajah kesal.
"Kamu memberitahunya?"
"Dia menelepon aku tadi, dan menanyakan kamu kapan pulang."
Tapi tiba-tiba ia menarik tangan Nayra tapi langsung ditepisnya.
"Bukan waktu yang tepat, Frans. Aku mau melihat Alvin!" Nayra langsung pergi dari hadapannya dan berlari menuju ruangan Alvin dirawat.
"Apa boleh saya masuk?" tanyanya saat seorang dokter baru keluar dari ruangan untuk mengecek keadaannya lagi setelah dari ruang UGD dan dipindahkan ke ruang perawatan biasa.
"Boleh, Nona. Masuk saja tapi pasien belum sadar. Lukanya tidak parah hanya butuh pengobatan selama beberapa hari," ujar sang dokter membuat Nayra merasa lega.
"Ya Tuhan. Kenapa bisa begini, Alvin?" Soal kecelakaan yang terjadi pada adiknya, ia sebenarnya belum tahu kronologinya. Ia tak sempat menanyakan pada tetangganya itu yang melihat langsung kecelakaan tersebut. Tapi itu tak terlalu ia pikirkan, yang terpenting Alvin bisa terselamatkan.
KREEEKKK ...
Pintu dibuka oleh seseorang dan ternyata Erland yang masuk dengan dibantu Mario. Saat sudah masuk, Mario pun keluar.
"Bukannya Anda sibuk, kenapa menyempatkan kemari?"
"Kamu melarang ku kesini?"
KREEEKKK ...
Baru saja Mario keluar, ia datang kembali dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Makan lah. Kamu pasti belum makan." Wajah Nayra yang semula menunduk kini menatap tepat di mana Erland masih memandanginya sedari tadi.
"Kenapa dia bisa tahu kalau aku belum makan."
Nayra sebenarnya merasa lapar tapi enggan makan karna melihat keadaan Alvin.
"Ruangannya sempit sekali." Erland melihat ruang rawat Alvin yang terlihat sangat sempit. "Mario, segera urus kepindahan ruangan Alvin. Aku ingin ruangan yang nyaman dan luas."
Ingin rasanya mencegah keinginan dari suaminya itu tapi Nayra tak berani untuk mengelaknya. Ia pun hanya diam pasrah dengan segala yang akan dilakukan suaminya itu.
Erland tak melepas pandangan pada Nayra yang kini menatap Alvin tanpa henti. Ia bisa melihat kesedihan yang terpancar dari wajah cantiknya. Nayra adalah seorang kakak juga sekaligus orang tua bagi Alvin. Tentu rasa khawatirnya melebihi dari seorang adik, lebih seperti belahan jiwa hidupnya.
"Jangan sedih."
Nayra langsung menoleh dan Erland langsung membuang muka.
"Hm, maksudku jika kamu sedih itu membuat wajahmu kelihatan sangat tua," ujarnya berbohong.
__ADS_1
Wanita itu langsung meraba-raba wajahnya dan menyadari bahwa dirinya memang sudah tua. Bahkan umurnya dengan Erland berjarak satu tahun lebih tua dari suaminya itu.
"Iya aku tahu. Aku lebih tua darimu." Ia mencebikkan bibir dan itu berhasil membuat Erland sampai menahan tawa.
Tanpa menghiraukan suaminya lagi, ia memilih untuk memakan makanan yang barusan Mario bawa. Ia sungguh sangat lapar. Tapi sesaat ia teringat akan Frans.
"Hmm, maaf. Apa aku boleh memberikan makanan untuk Frans? Dia sejak mengantarkan aku ke rumah sepertinya belum makan. Aku tidak enak dengan sopir Anda."
Erland menatapnya dengan tajam tanpa suara. Bisa-bisanya secara terang-terangan ia mengkhawatirkan lelaki itu.
"Biarkan dia mati!"
Ingin rasanya ia mengatakan yang lantang, tapi Erland menahannya dan hanya mampu mengatakan dalam hati.
"Aku sudah memberinya makan. Jangan khawatir."
Terlihat Nayra menghembuskan napasnya lega dan melanjutkan makannya kembali.
"Mario, kemari lah," ucapnya dalam telefon. Lalu tak berapa lama Mario datang dan langsung membawa Erland pergi. Nayra kebingungan tapi ia tak mau ambil pusing karna ia tahu Erland sangat sibuk.
"Untuk kali ini aku kecewa dengan kinerja mu, Mario. Orang suruhan mu malah mencelakai adik ipar ku. Dasar bodoh!" Erland meluapkan kekesalannya dengan Mario dan ia tak segan memukuli lengan asistennya itu membuat Mario mengaduh kesakitan.
"Maaf, Tuan. Saya berjanji tidak akan terulang kejadian seperti ini lagi." Mario menunduk seraya meminta maaf dengan tulus.
"Adik ipar ku tidak salah apa pun. Jangan hukum adiknya karna kesalahan kakaknya."
Mario mengangguk mengerti perkataan dari bosnya itu.
.
.
.
Di ruangan luas yang gelap. Seseorang dengan tubuh tinggi memakai kacamata berjalan sambil membawa sebuah tongkat berwarna coklat.
PLAKK!!!
Tongkat itu patah menjadi dua setelah dipukulkan pada meja besi yang terdapat di ruangan itu.
"Ma-maaf, Bos." Suaranya terbata disertai ketakutan yang luar biasa. "Sa-saya kurang teliti. Saya kira pria yang ada di dalam rumah itu hanya ada satu orang. Ternyata—"
"Bodoh!!!!! Kalian mencelakai orang yang salah! Kalian bisa aku bisa bunuh sekarang!!!!!"
Suaranya sangat menakut-nakuti, membuat orang-orang yang berada di ruangan itu serasa hampir sekarat.
__ADS_1