CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH

CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH
BAB 50 TERJEBAK


__ADS_3

Hari ini Mario memutuskan untuk menemui Frans kembali tapi tanpa Erland. Ia datang untuk mencari informasi tentang Nayra.


"Maaf." Tiba-tiba seorang wanita menabrak dirinya dan berkas-berkas yang dibawa wanita itu berhamburan jatuh ke lantai. Itu memang kesalahan si wanita karna jalan terburu-buru.


"Nona Stella." Mario terkejut saat bertemu dengan mantan kekasih bosnya itu. Sudah lama tak melihat wajah cantik dari seorang Stella yang banyak dipuja-puja pria. Tak ada yang berubah darinya, masih dengan wajah cantiknya juga pakaian yang selalu on point.


"Mario, kau sedang apa di sini?" Karna terlalu fokus akan kecantikan Stella, Mario hampir saja terlena. Ia membuyarkan lamunannya sendiri dan tersenyum.


"Aku mau menjenguk teman. Nona sendiri sedang apa di sini?"


Stella menampakkan wajah sedihnya dan pandangannya mengarah ke luar seraya menahan cairan bening di pelupuk matanya.


"Papa ditahan di sini sudah dua bulan," ujarnya memberitahu.


Mario memang tak lagi mendengar berita apa pun soal Stella maupun keluarganya. Dan hari ini baru mengetahui bahwa Papa Stella mendekam di penjara sudah dua bulan.


"Saya ikut prihatin, Nona. Saya doakan semoga Papa Anda selalu dalam keadaan sehat dan lapang dada menerima semua cobaan."


Stella mengucapkan terimakasih dan pamit untuk pergi. Tapi tiba-tiba Mario menahannya.


"Nona, tunggu." Mario tadi sempat melihat beberapa berkas yang jatuh dan ia menyadari akan satu hal. "Nona, sedang butuh pekerjaan?" Ia melihat berkas lamaran kerja yang Stella buat dan mengetahui bahwa Papanya sedang di penjara tentu perusahaannya sedang tidak baik-baik saja.


Stella bingung untuk menjawabnya tapi karena yang dikatakan Mario adalah benar akhirnya ia menganggukkan kepala.


"Saya akan bantu, Nona. Besok akan saya hubungi." Mendengar adanya sebuah kesempatan untuk bekerja, Stella tersenyum sumringah. Ia berjalan keluar dengan hati yang berbunga.


Sampai bayangan Stella tak terlihat lagi, Mario baru lanjut berjalan ke dalam untuk menemui Frans.


Dan masih sama dengan tempat yang kemarin, ia menunggu kedatangan Frans.


"Ada apa lagi?" Frans ingin kembali lagi ke sel karna ternyata yang menjenguknya adalah orang menyebalkan. Ia pikir keluarganya yang datang.


"Aku ingin menanyakan soal keberadaan nona Nayra. Tolong kasih tahu saya. Nanti akan ada imbalan untukmu."


Frans terdiam lama dengan memperhatikan mimik wajah Mario yang terlihat sangat serius.


"Imbalan apa?" tanyanya.

__ADS_1


"Apa saja yang kau minta."


Ia mengusap-usap dagunya seraya berpikir. "Bebaskan aku sekarang."


Mario sudah menebak bahwa itu yang akan diucapkan Frans.


"Itu hal yang mudah. Tapi kasih tahu dulu keberadaan nona."


"Bebaskan aku dan nanti aku antarkan ke tempat dimana Nayra berada."


Mario lantas berpikir dan ia tak mungkin bisa memutuskannya sepihak.


"Kejahatan apa yang telah kamu lakukan?" tanyanya karna ingin memastikan kejahatan jenis apa yang dilakukan Frans.


"Aku dijebak! Aku dijebak oleh temanku. Dia mengajakku bekerja tapi ternyata aku dijadikan kambing hitam untuk pekerjaan ilegal yang ia kerjakan."


Mendengar penjelasan dari Frans, ia akhirnya mempercayainya. Karna terdengar masuk akal.


"Baiklah, nanti aku akan kembali. Tapi kamu jangan coba-coba membohongiku. Kamu benar-benar mengetahui keberadaan nona, kan?" tanyanya memastikan kembali.


"Jika kamu mau mencari keberadaan Nayra seorang diri ya silakan. Aku masih ingin tidur di sel," jawabnya santai.


.


.


.


Sore menunjukkan pukul 4. Matahari sebentar lagi terbenam. Terlihat awan yang berubah menjadi jingga.


"Kenapa harus jam segini?" Erland berkali-kali melihat jam dipergelangan tangannya. Sebentar lagi malam menyapa, tapi Frans mengajak untuk pergi sekarang karna perjalanan sangat jauh.


"Mario, apa sudah dipastikan bahwa Frans sedang tidak mengerjai kita?" Erland merasa janggal dengan ajakan Frans yang menurutnya tidak masuk akal. Jika perjalanan jauh, seharusnya kita bisa berangkat pagi buta bukan sore menjelang malam seperti ini.


"Haiiii brooo!!! Sorry menunggu lama." Tiba-tiba Frans menepuk pundak Mario dengan keras. Sampai-sampai Mario meringis kesakitan dan ingin sekali membalasnya. "Saya yang akan menyetir!" Frans merebut kunci mobil yang sedang dipegang oleh Mario. Dan ia langsung masuk dan menyalakan mobil.


"Jaga sikapmu!" Mario merasa kesal tapi ia tak punya pilihan untuk mengikuti arahan dari Frans.

__ADS_1


"Oke, oke. Maaf. Maaf ya, Tuan." Frans tersenyum penuh arti, ia segera melajukan mobil di jalanan yang tengah lengah.


"Arah mana ini?" Mario sangat asing saat Frans memilih jalur jalan yang tak pernah ia lewati.


"Ya ke tempat Nayra. Tapi memang tempatnya pelosok banget sih, jadi ya sabar aja ya kalau jalannya gak bagus."


Sepanjang jalan Frans bersenandung ria. Ia mengibur diri sendiri dengan sesekali mengajak Mario bernyanyi, tapi asisten dari Erland hanya diam saja.


"Loh kok masuk hutan." Jalanan yang dipilih Frans sungguh diluar nalar. Mobil mereka sampai masuk hutan. Walaupun di dalam hutan memang ada sebuah jalan. Tapi semakin langit gelap, semakin menambah kesan takut.


"Memang jalanannya seperti ini. Sudah untung saya mau nganterin kalian." Frans terus melajukan mobilnya sampai masuk ke dalam, ia seperti sudah hafal jalanan itu.


Erland yang duduk di belakang hanya bisa diam. Ia tak banyak bicara karna yang ia pikirkan sekarang adalah keadaan Nayra.


"Buntu!" Mario teriak saat melihat jalanan di depan mereka buntu. Sudah tidak ada jalan lagi. Frans segera keluar untuk mengecek jalan. Ia menoleh ke kanan ke kiri ke depan dan ke belakang.


"Saya mau buang air kecil dulu," ucap Frans seraya memegangi barangnya. Ia seperti menahan sesuatu dan langsung lari terbirit-birit.


"Kemana dia?" tanya Erland yang membuka kaca mobil.


"Buang air kecil, Tuan."


Langit semakin gelap, lalu hawa dingin mulai menusuk kulit. Mario masuk ke mobil kembali karna ia tak kuat dingin. Jalanan di depan memang lah buntu, jika terus berjalan ke depan bisa saja kita masuk ke jurang.


"Dimana dia? Belum kembali?" Sudah sekitar 15 menit, Frans tak kunjung kembali. "Sana cari dimana dia?"


Mario lantas menggelengkan kepala, karna ia takut berkeliaran di hutan sendirian.


Drrtt .... Drrttt ....


"Hey, kau dimana?" Saat panggilan dari Frans diangkat, Mario langsung marah-marah.


"Aku di sini. Yang jelas tempatku sekarang lebih nyaman daripada di dalam mobil dan diarea hutan."


Mario terkejut mendengar perkataan Frans. "Hey! Mantan narapidana! Kau dimana sekarang?"


Terdengar tawa disebrang telefon sangat kencang. "Selamat tinggal kalian. Selamat menghabiskan hidup di dalam hutan."

__ADS_1


Tutt.... Tuttt ....


Telepon terputus sepihak dan Mario menghantam jok mobil dengan keras.


__ADS_2