CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH

CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH
BAB 31 SANGAT INDAH


__ADS_3

Mereka melewati jalanan yang lengah. Hanya ada beberapa kendaraan saja yang lewat. Jalanannya menanjak tinggi seperti perbukitan. Udara semakin sejuk saat Nayra memilih membuka jendela mobil.


Diam-diam Erland melirik Nayra yang sedang menghirup udara segar.


"Hmm, sejuknya ...." Istrinya itu tampak menikmati perjalanan. Matanya terbuka lebar menatap pepohonan yang hijau seperti terawat.


"Sudah sampai, Tuan, Nona," ucap Pak Sopir membuat keduanya menoleh ke sebuah bangunan yang besar. Mereka berhenti di sebuah tempat makan.


"Mau makan aja sampai perjalanan jauh," gerutu Nayra sembari turun dari mobil. Walaupun suaranya terdengar kecil tapi Erland menangkap semua apa yang diucapkan istrinya itu.


"Kamu tidak mau makan di sini?" Saat mereka sedang berjalan masuk, Erland tiba-tiba bertanya seperti itu.


"Kata siapa? Tentu mau. Saya sudah lapar dari tadi, Tuan," jawabnya.


"Makanya jangan banyak bicara!" serunya membuat Nayra memutar bola matanya jengah.


Dua orang pelayan berlari menghampiri mereka berdua, lalu menunjukkan meja yang telah dipesan oleh Rhianna. Satu pelayan menawarkan untuk mendorong kursi roda Erland tapi Nayra menolak. Menurutnya, ia masih sanggup untuk mendorongnya.


Satu pelayan akhirnya pergi lalu pelayan satunya memberikan buku menu. Tampak Nayra menghela napas, dikiranya mereka hanya tinggal makan saja. Ternyata mereka harus pesan dulu dan otomatis mereka harus menunggu lagi.


"Tuan, mau makan apa?" tanyanya. Di sisi lain Nayra sedang asyik membolak-balik buku menu. Melihat menunya, ia jadi bingung sendiri. Lapar yang ia rasakan tak terbendung, tanpa rasa malu ia memesan tiga jenis makanan.


"Apa saja."


Mendengar jawaban suaminya, Nayra tersenyum penuh arti. Ia lantas memilihkan menu yang menurutnya ingin ia cicipi juga.


"Sudah itu saja, Mbak." Nayra memberikan buku menu itu kembali setelah mengatakan semua menu yang ingin ia pesan.


Sembari menunggu, Nayra melihat-lihat pemandangan di sekitar tempat makan tersebut. Ternyata pada sisi kanan kirinya ada sebuah taman bunga yang terawat. Pas sekali momennya saat bunga tersebut sedang bermekaran indah.


Erland sedari tadi memperhatikan Nayra yang kini pandangannya sedang mengarah ke berbagai sisi. Istrinya itu bahkan tak sadar bahwa sedari tadi ia sedang diperhatikan oleh suaminya.


Rambutnya yang diikat ke atas membuat lehernya terlihat putih bersih. Juga riasan wajahnya yang tipis. Bibirnya sangat natural dengan warna lipstik tak terlalu mencolok.


Tiba-tiba mimik wajahnya berubah, ia terlihat celingukan seperti mencari sesuatu.


"Kenapa?" tanya Erland kemudian.


"Kebelet. Toilet dimana ya?"


Tanpa basa-basi Erland kemudian memanggil satu pelayan untuk menunjukkan toilet. Nayra kemudian pamit untuk ke toilet sebentar.


Baru beberapa detik Nayra pergi, terdengar sebuah dering ponsel berbunyi nyaring. Bunyinya berasal dari tas milik Nayra.


Sebuah kontak bernama perempuan menghiasi layar ponselnya yang menyala. Nama dari teman Nayra menelponnya berkali-kali sedari tadi. Ia tahu karna terlihat dari beberapa panggilan tak terjawab yang namanya sama. Erland tak berniat untuk mengangkatnya tapi saat panggilan kesekian kalinya berbunyi, Erland jadi tergerak untuk mengangkatnya.

__ADS_1


"Hallo ...." sapa Erland.


Hening.


Tak terdengar balasan dari sebrang telepon. Malah panggilannya terputus begitu saja.


"Aneh." Erland melempar ponselnya ke meja.


"Ya Tuhan!" jerit Nayra saat melihat ponselnya dilempar begitu saja oleh Erland. "Tuan, ini ponsel saya!" kesalnya seraya memasang wajah masam.


"Aku bisa mengganti ponselmu 100x lipat!" sombongnya kemudian.


Tak peduli dengan perkataan Erland, ia memilih untuk mengelus-elus ponsel kesayangannya itu. Berharap ponselnya masih bisa bertahan lama dan tidak rusak. Karna ia sangat menghargai jerih payahnya sendiri untuk membeli barang-barang yang nilainya cukup tinggi.


"Kau marah?"


Nayra tak mengeluarkan suaranya sedari tadi, ia sibuk mengecek ponselnya berkali-kali.


"Hey!" Erland tiba-tiba memukul meja dengan pelan membuat Nayra akhirnya menatap ke arahnya lalu menggeleng dengan pelan.


"Saya lapar, Tuan."


Pesanan pun datang. Nayra langsung melahapnya dengan rakus. Tak ada Rhianna atau pun pelayan rumah, ia ingin menikmati makanan itu dengan gayanya sendiri.


Entah kenapa Erland sedari tadi banyak bicara, berbeda dengan Nayra yang kebanyakan diam.


"Lebih dari satu tahun!" jawabnya kemudian membuat Erland mengembangkan senyumnya merasa lucu.


Mulutnya dipenuhi makanan, sampai-sampai susah mengunyah. Entah kelaparan atau emang doyan.


"Enak-enak sekali makanannya. Lebih enak dari masakan pelayan di rumah."


Tapi tiba-tiba ia teringat dengan Alvin.


"Alvin sudah makan belum ya?"


Setelah memutuskan untuk menikah, waktunya bersama Alvin seperti tidak ada. Tidak seperti dulu yang bisa setiap waktu bertemu.


Terkadang ada rasa bersalah saat ia merasa belum sepenuhnya bisa membahagiakan Alvin. Alvin adalah anggota keluarga satu-satunya. Dia yang paling berharga. Tak ada yang menyayanginya melebihi Alvin.


TING!


[Kakak .....]


Satu pesan masuk dan Nayra langsung membukanya. Serasa ikatan batinnya kuat, adiknya langsung mengirimkan pesan.

__ADS_1


[Iya, Vin. Kamu sudah makan? Kakak sedang di luar kota. Kakak dan Kak Erland sedang pergi bulan madu. Kamu mau oleh-oleh apa?]


[Hm ... Oleh-oleh keponakan yang lucu. Hahaha]


Uhuk.


Uhuk.


Membaca balasan dari Alvin membuatnya tersedak. Ia tak mengira bahwa Alvin akan mengatakan hal seperti itu.


"Apa yang kamu lihat?" Erland langsung merebut ponsel dari genggamannya. Merasa curiga apa isi dari ponselnya tersebut.


Erland langsung mengernyit heran seraya membuang muka.


"Alvin memang suka bercanda," ucapnya dengan rasa malu.


[ALVIIIIIINNNN !!!!]


Nayra membalasnya disertai dengan emot marah.


Setelah menyelesaikan makan, seorang pelayan menghampiri mereka dan memberitahu bahwa setelah ini mereka akan dibawa ke sebuah tempat.


"Tidak naik mobil, Nona." Nayra yang ingin membalikkan kursi roda suaminya untuk keluar dari tempat itu langsung dicegat oleh pelayan tersebut. "Tempatnya ada di belakang sini." Pelayan tersebut kemudian berjalan mendahului mereka untuk menjadi petunjuk jalan.


Tak disangka ternyata dibelakang rumah makan terdapat penginapan kecil. Hanya terdapat beberapa kamar saja dengan pemandangan alam yang indah. Dindingnya terbuat dari kaca sepenuhnya dengan dihiasi gorden yang tebal. Tampak dari luar isi ruangan penginapan itu jika gordennya dibuka semua.


Seperti tempatnya di tengah-tengah hutan. Tapi di sini lebih tepatnya di tengah-tengah taman dan hutan kecil.


"Silakan berisitirahat Tuan, Nona. Jika membutuhkan sesuatu tinggal telepon saja."


Nayra merasa kagum dengan pemandangan yang indah dan sejuk ini. Dia tak pernah mendatangi tempat seperti ini sebelumnya.


"Jangan kampungan!"


Erland melihat Nayra yang memainkan gorden yang terbentuk panjang itu. Gorden yang ditarik mengelilingi seluruh ruangan.


"Pegal tanganku, Tuan." Nayra menutup semua ruangan dengan gorden, ia merasa risih jika ada orang lain yang melihat ke arah mereka.


"Masih siang jangan ditutup semua!"


"Malu, Tuan." Nayra merasa risih jika ruangan ini terlihat dari luar.


"Oh, apa kamu ingin terjadi sesuatu di sini makanya gorden ditutup semua?"


DEG.

__ADS_1


__ADS_2