
BRAKKK!!!
Erland menggebrak meja membuat keduanya menoleh. Nayra dengan cepat menghampiri.
"Ada apa, Tuan?" Ia tahu jika sudah begini, pasti ada hal yang ingin ia sampaikan.
"Cepat pulang! Aku tidak mau melihatmu di sini!" Dia diusir membuatnya sadar diri. Nayra akhirnya pamit pergi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sedari tadi juga ia menginginkan pulang, daripada terus di sini tapi seperti tak dianggap.
Sembari menunggu kepulangan Erland, Nayra membersihkan ranjangnya. Ia sejenak tiduran di atas ranjang berukuran besar itu. Rasanya nyaman sekali, sudah lama ia tak menikmati keempukan kasur. Sekarang ia hanya bisa merasakan tebalnya karpet yang menjadi teman tidurnya.
KLEK.
Pintu terbuka, Erland masuk bersama seorang pelayan. Setelah itu pelayan pun keluar. Air mandi hangat telah ia siapkan. Ia dengan cekatan membuka satu persatu bajunya. Erland menatapnya tak henti. Karna Nayra memakai baju piyama yang kancing atasnya tidak dikancing. Entah ia sengaja atau lupa. Menampakkan buah dadanya yang sedikit menyembul.
Ia mengalihkan matanya menatap lain. Tapi entah kenapa lagi-lagi matanya tak mau berpindah posisi. Terus menatap keindahan aset yang Nayra miliki. Dan pada akhirnya Nayra sadar kemana arah mata Erland sedari tadi. Ia langsung mengikuti arah matanya dan berpusat pada kedua dadanya.
"Ya Tuhan." Ia terkejut mendapati kancingnya terbuka di bagian atas. Dengan cepat ia mengancingnya.
Ini kedua kalinya ia merasa malu di hadapan Erland. Setelah pakaiannya semuanya telah lepas, ia membawa Erland masuk ke dalam kamar mandi.
"Tetap di sini!" Erland menyuruh Nayra tetap di sana menemaninya mandi. Entah apa yang akan ia perintahkan lagi pada istrinya tersebut.
Nayra pun akhirnya berdiri di sebelah bath up. Dia memandangi Erland yang sedang membersihkan tubuhnya. Walaupun ia sering melihatnya telanjang, tapi tetap matanya tak berhenti terpesona. Dada bidangnya seakan menghipnotisnya. Tubuh kekarnya menjadi dambaan setiap wanita.
"Bersihkan area punggungku!" perintahnya kemudian.
Nayra yang terkejut tiba-tiba melangkah kakinya asal dan tak sengaja tersandung lalu terjatuh ke dalam bath up menimpa Erland. Setengah tubuhnya masuk ke dalam bath up dengan kaki yang masih berada di atas lantai.
Kepala hingga bagian tubuh atasnya basah. Erland yang ditimpa tubuh Nayra meringis kesakitan.
"Tu-tuan, ma-maaf." Nayra ketakutan dengan tubuh yang basah.
Ia beranjak bangun dan membenarkan posisi bajunya yang basah. Juga rambutnya yang terkena cipratan air.
Erland menatapnya dengan tajam. Jantungnya berdebar-debar antara rasa takut dan gugup.
"Cepat bangunkan aku!" Nayra pun membantu mengangkat tubuhnya. Entah tenaganya yang memang sedang tidak kuat atau Nayra belum siap, mereka jatuh bersama ke dalam bath up kembali. Nayra tak kuat mengangkat tubuhnya hingga pegangannya terlepas dan tubuhnya terhempas jatuh ke dalam bath up.
__ADS_1
"Aaarggghhh!!!!" Erland mengerang kesal. "Kau tidak berguna!" teriaknya keras membuat telinganya sakit. Kedua kakinya bergetar hebat karna ketakutan. Wajahnya yang basah terkena air menampakkan ketakutan yang luar biasanya.
"Kau—" Erland mencengkeram erat lengan tangannya hingga membekas merah. Nayra perlahan mundur, ia takut dekat-dekat dengan suaminya itu.
"Pergi!" Erland mengusirnya, Nayra yang sudah ketakutan lantas berlalu pergi.
Ia berjongkok ketakutan sambil memeluk lututnya. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya pecah juga. Apa yang terjadi tadi sungguh diluar dugaan. Ia tidak tahu kalau dirinya akan terjatuh ke dalam bath up. Lututnya juga sakit terbentur oleh dinding bath up, tapi ia tahan. Kini ia lihat lututnya memar.
***
Sejak kejadian kemarin, Erland seperti mendiamkan Nayra. Tak ada perintah atau pun perkataan Erland untuk dirinya. Nayra juga tak berani menanyakan apa pun. Seperti pagi ini, Erland memilih memanggil Bi Har untuk membantunya mandi. Nayra pun tak mempermasalahkan, itu bahkan lebih baik.
Ia memilih pergi ke dapur untuk membantu pelayan mempersiapkan hidangan sarapan.
"Nona, Anda sebaiknya duduk saja," ucap pelayan dengan raut wajah tak suka. Bahkan panggilan nona seakan dipaksakan.
"Tidak usah memanggilku dengan sebutan Nona. Panggil saja Nayra seperti biasa," kata Nayra.
"Tidak bisa, Nona. Anda kan istri dari tuan Erland."
"Nayra, sedang apa kamu di situ?" Rhianna memanggilnya, ia lekas menghampiri. Terlihat hari ini Rhianna berpakaian sangat rapi seperti hendak pergi.
"Aku hanya membantu pelayan menyiapkan makanan, Ma," jawabnya.
"Oh, sudah lah kamu di sini saja." Rhianna menyuruhnya untuk duduk. "Nayra, hari ini Mama mau ke luar kota. Mau mengunjungi perusahaan di sana. Kemungkinan pulang besok pagi."
"Oh, jadi Mama memang mau pergi."
Nayra lantas mengangguk. Itu artinya seharian ini tidak ada Rhianna di rumah.
Makanan telah siap untuk disantap. Erland juga sudah berada di meja makan. Tapi Rhianna seperti mencium aroma yang tidak baik pada hubungan mereka berdua.
"Kalian sedang bertengkar?" tebaknya.
Nayra tak mampu menjawab, sedangkan Erland tak menghiraukan pernyataan mamanya.
"Hm, bertengkar itu hal yang biasa apalagi dalam kehidupan rumah tangga. Nayra, kamu yang sabar ya menghadapi Erland," tuturnya.
__ADS_1
"Apa maksud Mama?" Erland merasa tidak terima.
"Tidak, Erland. Mama berharap kalian mampu menghadapi berbagai ujian dalam rumah tangga kalian."
Setelah menyelesaikan sarapan, Rhianna beranjak bangun. Ia memakai blazer dan siap berangkat.
"Erland, Mama mau pergi ke luar kota. Mama akan pulang besok."
Erland dan Nayra mengantarkan Rhianna sampai ke depan.
Tapi saat melihat seseorang yang sedang mengelap kaca mobil, Nayra terkejut. Pria yang sedang membersihkan mobil mewah itu seseorang yang sangat ia kenali.
"Kamu sopir baru ya?" tanya Rhianna. Ia memang mencari sopir baru karna sopir lama mengundurkan diri. Lalu ia mempercayakan pada Bi Har untuk mencarikan.
"Iya, Nyonya," jawab pria bertubuh tegap itu. Ia melempar senyum pada Nayra. Tapi wanita itu memalingkan wajahnya.
"Kamu sudah biasa menyetir ke luar kota, kan?"
Frans mengangguk. Lalu ia membukakan pintu mobil.
"Kenapa Frans bisa bekerja di sini?"
Setelah mobil yang ditumpangi Rhianna melaju jauh, Nayra langsung masuk ke dalam mencari Bi Har.
"Bi Har ...." Pelayan senior itu sedang menjemur pakaian di halaman belakang. Ia langsung menoleh ke belakang saat namanya dipanggil.
"Iya, Nayra. Ada apa?" tanyanya. Ia menghentikan aktivitasnya dan menghampiri Nayra yang berdiri di pintu belakang.
"Itu sopir mama Rhianna baru?"
Bi Har mengangguk. "Iya, Nayra. Bibi mencari sopir baru untuk nyonya karna pak Dodi mengundurkan diri."
Kalau Frans bekerja di sini, Nayra tidak bebas. Ini akan menyulitkan dirinya. Apalagi sifat Frans yang posesif.
[Kenapa kamu tidak bilang kalau mau bekerja di sini? Memangnya kerjaan kamu yang sebelumnya kenapa?]
Nayra mengirimkan pesan untuk Frans.
__ADS_1