
Pagi-pagi rumah sederhananya telah didatangi beberapa mobil. Seorang anak remaja mengintipnya di balik jendela. Ia takut ingin membuka pintu saat beberapa pria berbadan besar terus mengetok pintu rumahnya.
"Tuan Alvin, tolong buka," ucap salah seorang pria berbadan kekar tersebut. Mereka melihat Alvin yang mengintip di balik jendela, membuat Alvin akhirnya mengalah membukakan pintu.
"Tuan, ikutlah dengan kami. Nyonya besar menyuruh kami untuk menjemput Anda." Pria remaja itu kebingungan. Nyonya besar siapa yang mereka maksud?
"Maksud Anda apa? Aku tidak mengerti."
Setelah menjelaskan maksud dan tujuannya, akhirnya Alvin ikut satu mobil dengan mereka.
"Alvin ...." Nayra berlari memeluk adik kesayangannya itu. Atas permintaan Rhianna yang menginginkan adiknya ikut tinggal di sini, ia pun merasa bahagia. Ia tak perlu khawatir dengan keadaan Alvin yang sendirian di rumah. Kini mereka setiap hari akan bertemu.
Alvin perlahan mendatangi kakak iparnya yang berada di kursi roda. Ia belum pernah sekalipun menyapa kakak iparnya yang lumpuh itu.
"Hai, Kak Erland. Kakak sangat beruntung mendapatkan kakakku," ucapnya dengan bangga.
Erland tersenyum sinis. Beruntung? Erland geli sendiri mendengar perkataan anak ingusan itu.
"Kami bicara apa, Alvin! Jangan bicara yang tidak-tidak." Nayra tak mendengar jelas apa yang diucapkan adiknya pada suaminya. Ia lantas mencubit adiknya dengan gemas. "Kamu jangan bicara sembarangan!"
"Aduh ...." Lengannya kena cubitan lagi membuat Alvin mengaduh kesakitan. "Aku tidak bicara sembarangan, Kak. Aku hanya menyapanya," belanya.
Pelayan pun mengantarkan Alvin ke kamar yang telah disediakan untuknya. Sedangkan Nayra mendorong kursi roda suaminya menuju kamar.
"Aku mau ke halaman belakang!" katanya.
Ia pun memutar balikkan kursi rodanya menuju halaman belakang. Memang suasana di sana sejuk. Karna dipenuhi tumbuhan dan bunga-bunga yang indah.
Nayra menghirup udara yang segar itu dengan mata terpejam. Rambutnya seakan menari-nari mengikuti arah angin yang menerpa rambut indahnya.
"Aaaa ..." Angin tiba-tiba berhembus kencang membuat dress yang ia pakai saat ini tersingkap sampai ke atas. Ia berusaha menutupinya tapi sepertinya Erland sudah melihat isi **********.
"Sial! Aku malu sekali." Pipinya semerah tomat menahan malu. Ia berdiri persis di depannya, tak mungkin Erland tak melihat saat roknya tadi tersingkap. "Memalukan!" Nayra berlari sambil memegangi roknya. Ia memilih duduk di sebuah kursi panjang.
__ADS_1
Erland menahan tawa melihat tingkah kocak istrinya. Ia mendorong kursi rodanya sendiri menghampiri sang istri yang sedang duduk.
"Ambilkan saya minum!"
"Baik, Tuan." Nayra berjalan menuju dapur, tapi ditengah perjalanan ia bertemu dengan Dara.
"Mau kemana kamu, Nayra?" tanyanya.
"Mau ke dapur ambil minum." Dara menatap temannya dengan iba. Ia lantas menariknya menuju kamar pribadinya. "Aduh, kenapa aku dibawa ke sini, Dara. Aku harus—"
"Diam lah sebentar. Aku mau bertanya, sebenarnya kalian itu beneran suami istri atau bukan? Kenapa aku lihat-lihat kamu masih seperti seorang pelayan untuknya? Sebenarnya ikatan pernikahan kalian itu sah atau tidak?" tanya Dara.
Nayra tak bisa menjawab. Ini adalah rahasia mereka berdua. Tak mungkin ia menceritakan pada orang lain.
"Dara, aku ini seorang istri. Sudah semestinya aku melayani suami."
"Tidak! Tidak seperti ini caranya, Nayra. Dia seperti tak menganggap mu sebagai seorang istri," ujar Dara tetap kekeh.
"Aku tidak punya banyak waktu, Dara." Nayra berlalu pergi. Wanita itu hanya bisa menatap punggung temannya yang semakin jauh menghilang dari pandangannya. Jauh di lubuk hatinya, ia merasa kasihan jika Nayra tak bahagia dengan pernikahannya.
"Nayra, kamu pakai apa sih kenapa tuan Erland mau menikahi mu? Kamu pasti pakai—"
"Jangan bicara sembarangan!" Tiba-tiba Alvin datang, pria remaja itu melayangkan tatapan tajam pada para pelayan yang sedang menyindir kakaknya. "Kalian ini jangan fitnah Kakakku yang tidak-tidak."
"Sudah-sudah. Alvin, Kakak tidak apa-apa." Nayra membawa Alvin menjauh. Ia tak mau emosi adiknya semakin menjadi.
"Kak, mereka sudah keterlaluan. Kakak sering diginiin? Aku tidak terima!"
Nayra tersenyum sambil mengusap kepalanya pelan. Ia beruntung memiliki adik seperti Alvin.
"Sudah lah. Biarkan saja. Kakak tidak pernah dimasukkan ke hati."
Satu gelas jus jeruk telah selesai ia buat. Ini adalah minuman kesukaan Erland.
__ADS_1
"Ini, Tuan." Ia memberikan gelas itu pada Erland. Tapi Erland tak kunjung menerimanya.
"Darimana saja kamu! Kenapa lama sekali!" Erland sudah tak berselera, ia tak mau meminum jus buatannya.
"Maaf, Tuan." Nayra hanya mampu meminta maaf. Tak mungkin ia katakan yang sebenarnya kalau ada suatu kejadian di dapur barusan.
"Aku tanya, darimana saja kamu!" bentaknya.
"Da-dari dapur, Tuan." Tangannya gemetar, terkejut dengan bentakannya. Kemarahan Erland tak ada yang bisa memprediksi. Ia takut gelas yang ada ditangannya bisa saja melayang mengenai kepalanya atau dilempar asal kemana.
PYARRRR!!!!
Baru saja ia membayangkan gelas itu melayang, nyatanya itu beneran terjadi. Gelas itu ia lemparkan ke tanah. Bahkan air jeruk itu mengenai kakinya.
"Bisa tidak kalau marah itu jangan asal banting-banting! Jantungan tahu!" rutuknya dalam hati.
Nayra tahu, bahwa Erland tak suka dengan sesuatu yang lambat. Karna itu bisa langsung mempengaruhi moodnya.
Malam hari seperti biasanya. Nayra sudah terbiasa tidur di bawah. Sebuah karpet tebal telah menjadi temannya sehari-hari. Tak butuh lama untuk wanita itu terlelap. Karna seharian ini tubuhnya sangat lelah.
Tapi berbeda dengan suaminya yang tak kunjung memejamkan matanya. Ia sekilas melirik ke arah Nayra yang tidur membelakanginya.
Banyak hal yang sedang ia pikirkan. Isi kepalanya seakan berkecamuk satu sama lain di dalam. Rasanya ia tak berguna. Kelumpuhan yang ia alami, membuat aktivitasnya terhenti. Ia bahkan tak bisa memimpin perusahaan seperti dahulu. Jika ia memaksakan datang ke kantor, itu akan banyak merepotkan orang lain.
"Mario, bagaimana kondisi perusahaan?" Ia mengetikkan sesuatu pada Mario-asistennya.
"Semuanya aman terkendali, Tuan."
Mario memang orang kepercayaan keluarganya. Tak salah ia mempekerjakan orang seperti Mario.
"Besok aku akan ke kantor."
Erland memutuskan bahwa mulai besok ia harus kembali ke kantor. Ia tak boleh terus berdiam diri di rumah. Walaupun rasa malu selalu menyelimutinya. Tapi ia memiliki tanggung jawab yang besar. Apalagi satu persatu aset yang dimiliki mendiang Papanya akan jatuh ke tangannya bertahap.
__ADS_1
"Ayah .... Ibu ....." gumam Nayra.
Ia mendengar Nayra memanggil nama ayah dan ibunya. Sepertinya ia sedang bermimpi. Erland sudah tahu kalau Nayra adalah gadis yatim piatu. Ia pun kadang merasa iba dengan Nayra yang sudah tak memiliki orang tua. Kehilangan seorang ayah pun, rasanya menyakitkan apalagi dia yang kehilangan kedua orang tuanya.