
Beberapa hari kemudian, sudah sejak hari kepulangan Erland dari luar kota semua terasa berbeda. Sikapnya, sifatnya juga perilakunya terutama pada istrinya.
"Maaf sudah merepotkan mu." Entah sudah berapa banyak kata maaf yang terucap dari bibirnya. Setiap kali Nayra membantu dirinya mandi, makan juga memakaikan baju pasti Erland selalu meminta maaf.
"Jangan meminta maaf, Mas." Dan juga kini panggilan Tuan berubah menjadi "Mas" atas perintahnya.
Drrrttt ... Drrrttt ...
Ponsel Nayra bergetar dan bunyinya terdengar dari dalam laci. Ia sudah menebak pasti Frans yang menelponnya. Memang dalam beberapa hari ini Nayra mengacuhkan Frans. Karna Erland selalu ingin dirinya selalu dekat bahkan ke kantor pun Nayra harus ikut.
"Ponselmu bunyi," ucap Erland dengan tatapan mengarah pada laci yang tertutup itu.
"Paling Alvin, biarin. Waktunya sarapan dulu." Nayra langsung mendorong kursi roda suaminya dan menuju ruang makan.
Di sana sudah ada Rhianna yang menunggu. Hidangan lezat selalu tersaji di atas meja makan. Melihat putra dan menantunya sangat serasi juga sikap lembut yang ditujukan Erland, membuatnya kini merasa tak khawatir lagi. Dia yakin bahwa mereka berdua sudah saling mencintai dan sebentar lagi akan ada calon penghuni rumah baru.
"Kenapa senyum-senyum sendiri, Ma?" Erland merasa heran dengan Rhianna yang tersenyum-senyum sendirian. Rhianna yang ketahuan senyum-senyum karna sedang membayangkan suasana rumah untuk beberapa tahun ke depan kini dibuat malu oleh putranya. Ia lekas menggeleng dan menyuruh mereka untuk sarapan.
"Hari ini Nayra ikut ke kantor lagi?" tanya Rhianna di sela-sela makannya.
Keduanya saling pandang dan Erland langsung menggeleng. "Tidak, Ma. Nayra mau ke rumah ketemu Alvin."
"Iya, Ma. Alvin sudah mulai libur sekolah jadi Nayra mau menemuinya," timpalnya kemudian.
Ia menelan makanan dengan susah payah, karna sudah berbohong pada Erland dan juga ibu mertuanya. Karna sebenarnya ia mau bertemu dengan Frans.
"Frans, ayo sarapan bersama. Kemari lah." Secara tiba-tiba Erland memanggil Frans yang kebetulan lewat karna Frans mau menuju halaman depan untuk memanasi mobil.
Frans yang dipanggil langsung saja menggeleng. Ia mengatakan akan memanasi mobil sebelum dipakai.
"Kemari lah, tidak apa-apa. Kamu sudah banyak membantu saya." Erland terlihat memaksa bahkan menyuruh Nayra untuk ikut mengajaknya.
"Maaf, Tuan. Saya sudah kenyang," tolaknya dengan sangat lembut.
"Hm, ya sudah. Oh ya, untuk hari ini kamu tidak usah mengantarkan saya ke kantor. Saya berangkat dengan Mario tapi saya menyuruh kamu untuk mengantarkan istri tercinta saya untuk pulang ke rumahnya. Aku sangat mempercayai kamu dan selalu tenang jika istri saya diantarkan olehmu."
Nayra langsung kaget mendengar ucapan dari Erland. Tapi berbeda dengan Frans yang langsung berubah sumringah.
"Baik, Tuan," jawabnya dan bergegas pergi.
__ADS_1
Seketika Erland mengepalkan tangannya menahan amarahnya.
"Kalian akan habis!!!"
"Mas, tidak usah berlebihan. Aku sudah terbiasa naik taxi. Lagipula jika bersama Frans saya tidak enak kalau Frans sampai menunggu lama."
TAK!
Ia meletakkan sendok dengan keras lalu menatap istrinya seketika. "Untuk apa saya gaji dia mahal-mahal jika tidak bekerja? Ikuti saja perintahku!"
.
.
.
Suasana di dalam mobil terasa panas. Frans sengaja mengendarai mobilnya dengan sangat pelan membuat hawa disekitar mobil terasa pengap.
"Sepertinya hubungan kalian semakin lengket saja. Apa saja yang sudah pria lumpuh itu berikan kepadamu? Uang? Yang banyak?" sindirnya.
Frans merasa untuk akhir-akhir ini Nayra seperti menghindarinya. Bahkan untuk sekedar bertukar pesan saja Nayra tidak menanggapi.
"Apa? Kamu benar-benar sudah melanggar perjanjian, Nayra! Kamu benar-benar sudah terpikat dengan pria lumpuh itu, kan?" tuduhnya.
Selagi Frans mengoceh, Nayra terus memandangi mobil yang sedari tadi berada di belakang mobilnya persis.
"Belok kiri cepat!" teriak Nayra.
"Mau puter balik? Mau kemana?"
"Cepat!"
Frans menuruti saja perintah dari Nayra. Dan saat Nayra menyuruhnya untuk putar balik juga dia mengiyakan.
"Sial! Mobil itu benar-benar mengikuti!"
"Kita ke rumah saja. Kita ngobrol di sana." Karna Nayra takut jika mobil itu adalah suruhan dari Erland jadi ia membatalkan untuk pergi ke cafe.
"Kamu benar-benar ya, bikin aku kesal. Kenapa malah jadi ke rumah sih?" Ia yang kesal memukul-mukul stir beberapa kali. Lalu melirik kekasihnya yang tanpa ekspresi itu.
__ADS_1
" Aku juga rindu dengan Alvin," kata Nayra dengan ringan.
"Sehabis kita ke cafe nanti kita ke rumah." Frans tetap ingin ke cafe untuk sekedar bersantai di sana. Memang awalnya jika dia tak disuruh untuk mengantarkan Nayra, ia berniat untuk ijin sebentar setelah menurunkan Erland di kantor.
"Tidak bisa, kita ke rumah saja." Nayra sengaja tidak memberitahu soal mobil yang mengikutinya. Karna ia tak mau Frans terbawa emosi.
Saat sampai di rumah, Nayra langsung berlari ke dalam rumah dan mencari-cari Alvin.
"Alvin ...." Adiknya itu ternyata sedang berada di dapur. Sedang membereskan tempat makan.
"Kakak ....." Keduanya langsung berpelukan. Tapi suara dari luar tiba-tiba memanggil.
"Nay ....." Frans memanggil Nayra yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Lalu tak berapa lama datang Nayra dengan segelas air dingin, ia sajikan pada Frans. Melihat Frans berada di rumah, membuat Alvin enggan untuk ikut menyapa.
"Wajahmu pucat si." Frans mengamati wajah kekasihnya yang terlihat pucat. Ia langsung mengecek dahinya dan tak terasa apa pun. Panasnya masih biasa.
"Aku tidak apa-apa. Hanya saja lelah."
Sebenarnya ada yang ingin Frans katakan panjang lebar untuk Nayra. Tapi melihat Nayra seperti sedang tidak enak badan, ia akhirnya mengurungkan niatnya.
"Tidur saja sana. Aku tunggu di sini."
Perkataan Frans ada benarnya juga , ia pun menuju kamarnya untuk sekedar berbaring. Tapi perhatiannya teralihkan oleh kalender duduk yang berada di atas meja.
Ia baru teringat kalau bulan ini belum haid sama sekali. Padahal besok sudah berganti bulan.
"Sudah satu bulan lebih aku belum datang bulan?" tanyanya heran.
Ini jadi tanda tanya karna sebelumnya ia tak pernah telat selama itu. Tapi ia tak mau ambil pusing dan memilih memejamkan mata sebentar. Ia merasa nyaman di kamarnya sendiri, karna tak ada yang berubah dari kamarnya. Letak perabotan, cat kamar dan lainnya masih sama seperti dulu.
"Alvin, mau kemana?" Frans langsung menegur Alvin yang tiba-tiba mau pergi. Bahkan ada Frans pun adiknya Nayra tetap tidak mau salaman dengannya atau pun tegur sapa.
"Bukan urusanmu!" ketus Alvin.
"Tidak tahu malu! Istri orang mau diembat!" gerutunya sambil berjalan ke luar.
Frans samar-samar mendengar ucapan dari Alvin, tapi Frans bersikap masa bodo. Untuknya yang terpenting saat ini adalah Nayra yang harus cepat berpisah dengan pria lumpuh itu. Cinta dan kasih sayang pada Nayra sangat besar, Frans tidak mau kehilangan Nayra. Ia akan melakukan apa pun untuk tetap bersama kekasihnya itu.
__ADS_1