CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH

CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH
BAB 18 TIDAK PERCAYA


__ADS_3

Setelah Nayra mengatakan bahwa kakinya terluka, Frans sangat khawatir. Tapi ia tak bisa mengobati luka itu di sini. Frans mengajak Nayra untuk pergi ke halaman belakang, tapi wanitanya menolak. Tak mungkin Nayra mengiyakan, ini dalam wilayah rumah tak bisa mereka berduaan sekalipun tempat itu jarang dikunjungi orang.


Akhirnya Frans mengalah, membiarkan Nayra mengobati lukanya dengan pelayan lain.


"Hey!" Dara menyenggol lengan Nayra. Wanita itu tersentak dan langsung mengucapkan terimakasih saat sadar lukanya sudah diperban. "Kamu ada masalah, Nay?" tanya Dara seraya mengembalikan kotak obat di tempat semula. Matanya melirik saat tak mendapati jawaban dari teman yang sekarang sudah menjadi majikannya itu.


"Hm, enggak," gumamnya pelan. Ia hendak pergi tapi Dara menahannya.


"Kalau ada masalah cerita aja sama aku, Nay. Kita kan sudah lebih dari teman."


Nayra tersenyum lalu mengangguk. Setelah keluar dari kamar Dara, Nayra bergegas kembali ke kamarnya.


Langkahnya ia pertegas cepat saat mengetahui Frans ternyata masih mengawasinya sedari tadi. Ia tak mau terpegok lagi dan Frans mengajaknya bicara kembali.


Saat sampai di dalam kamar, ia mendapati Erland sudah tertidur. Tapi masih dengan pakaian kerjanya.


Perlahan ia melepas sepatu kerjanya, hati- hati karna tak ingin membangunkan suaminya.


Nayra terduduk di kursi yang semula ia tarik dari depan meja rias. Ia terdiam sembari menatap pekat wajah pria tampan yang sudah berstatus suaminya. Lalu terbayang wajah Frans yang ia kagumi. Entah kenapa hatinya sedikit sesak saat menyadari bahwa dirinya telah menikah dengan pria asing di hadapannya ini.


Kakinya yang telanjang menyentuh lantai kamar itu dan terasa dingin. Ia tersadar bahwa dirinya juga belum membersihkan diri. Kini malam dengan cepat telah menyapa. Seperti mengajak seluruh penduduk bumi untuk beristirahat. Tapi Nayra tidak, masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan malam ini.


Ia beranjak bangun dari duduknya dan menyimpan sepatu milik suaminya. Masih dengan penuh kehatian, ia melepas ikat pinggang yang masing melingkar di pinggang Erland.


Sepertinya Erland terlalu pulas, sampai ia tak terganggu dengan aktivitas Nayra dalam melepas pakaiannya.


Nayra harus membersihkan tubuh suaminya yang penuh keringat seharian ini karna bekerja. Erland harus tidur setidaknya dalam keadaan bersih.


"Ummhh ...." Terdengar gumaman dari mulut Erland. Nayra yang sedang mengambil pakaian di dalam lemari dengan cepat menoleh. Kini kedua netra bertemu, Erland menatap Nayra tanpa sengaja karna sebelumnya pandangannya mengitari seluruh kamar.


"Maaf, Tuan. Sebentar lagi Anda bisa beristirahat dengan nyenyak setelah saya memakaikan pakaian untuk Anda." Nayra bersiap memakaikan piyama milik Erland, tapi tiba-tiba tangannya ditahan. Erland memegangi pergelangan tangannya.


Mereka saling menatap satu sama lain, cukup lama. Sampai akhirnya Nayra berusaha melepaskan genggaman itu tapi Erland tak membiarkan.

__ADS_1


"Kamu mengganggu tidurku," ucapnya dengan pelan. Ia menghembuskan napasnya kasar dan menarik Nayra lebih dekat. Hingga kini wajah Nayra hanya berjarak berapa centi saja dari wajahnya.


"Ma-maaf, Tuan," cicitnya.


Dalam satu gerakan saja Erland berhasil membungkam bibir milik Nayra. Erland memegangi tengkuk lehernya untuk terus tenggelam dalam permainannya. Lelaki itu mencium Nayra dengan lembut. Entah dorongan darimana, kejadian itu terjadi begitu saja. Nayra juga seakan terbawa dalam suasana. Cukup lama bibir mereka saling bertemu hingga akhirnya Erland melepaskan ciumannya.


Erland langsung membuang muka, "Cepat! Pakaikan aku piyama itu!" suruhnya tanpa menatap Nayra yang wajahnya semerah tomat.


Tangan Nayra gemetar karna masih shock atas kejadian barusan. Ia bisa merasakan bibirnya masih basah. Tapi ia harus cepat memakaikan piyama sebelum Erland memerintah kedua kalinya.


"Mulai malam ini tidur lah di atas!" perintahnya kemudian yang membuat alisnya bertaut.


"Apa, Tuan?" tanyanya masih tak percaya.


"Seharusnya telingamu masih sehat dan aku tidak perlu mengulangi perkataan kedua kali. Jika telingamu bermasalah, besok kita ke rumah sakit," ketusnya.


"Iya, Tuan. Saya dengar," jawab Nayra. Ia langsung buru-buru masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.


Suara kicauan burung yang merdu, serta desis angin di pagi hari membuat Nayra yang terlalu lelap akhirnya terbangun juga. Untuk malam ini tubuhnya terasa nyaman tidur di kasur yang empuk. Tidak lagi di karpet lantai.


"Oh, Tuhan!" Ia langsung terbangun dan melompat turun dari ranjang saat menyadari Erland sudah tidak berada di sisinya.


Semalam saat ia keluar dari kamar mandi, Erland sudah terlelap dan ia pun menuruti perintah suaminya untuk tidur di atas. Nayra pun sengaja memasang guling di tengah-tengah. Saat bangun pun ia masih bisa melihat guling itu masih berada di tempatnya.


"Mama ...."


Nayra hampir saja menabrak ibu mertuanya yang ternyata berada di depan pintu kamarnya.


"Kamu baru bangun, Nay?" Rhianna tersenyum dan menuntun menantunya untuk masuk ke dalam.


"Iya, Ma. Maaf Nayra kesiangan," ucapnya dengan wajah menyesal. Tak biasanya ia kesiangan begini.


"Tidak apa-apa. Kata Erland kamu semalam kecapean makanya tidur lelap sekali," kata Rhianna sambil menahan senyum. "Sudahlah, tidak apa-apa. Erland sudah berangkat ke kantor, kamu sana mandi dan sarapan."

__ADS_1


"Iya, Ma."


"Nay ...." Rhianna memanggil kembali membuat Nayra menoleh ke belakang. "Yang rajin ya bikin cucu buat Mama," ucapnya agak lantang karna Rhianna berada di ambang pintu. Dan setelah itu Rhianna langsung pergi meninggalkan Nayra dengan segala kebingungan.


Di dalam kamar mandi, Nayra masih terngiang ucapan dari Rhianna. Tapi tiba-tiba bayangan semalam menusuk hangat di kepalanya. Ia tak percaya bahwa Erland tiba-tiba menciumnya. Yang lebih tak ia percayai bahwa dirinya sama sekali tidak menolak.


Ia memegangi dadanya yang berdebar-debar. Lalu sudut bibirnya terangkat sedikit.


Sampai kini ia di depan meja rias, wajahnya terlihat berseri-seri. Tapi bunyi dentingan pesan masuk mengalihkan perhatiannya.


[Kenapa kamu bisa kesiangan? Apa yang terjadi semalam?]


Frans mengirimkannya pesan. Hatinya mendadak panas saat mendapati tadi pagi Erland mengatakan bahwa Nayra belum bangun karna kelelahan. Pikirannya langsung mengarah kesana-kemari.


[Apa kamu mengingkari janji kita?] Belum sempat membalas karna masih memikirkan kata yang pas untuk memberi jawaban, tapi Frans nyatanya tak sabar.


Hingga tiba-tiba kekasihnya itu menelfon.


"Kenapa diam?" Bentaknya dari sebrang telefon.


"Aku mau membalasnya tapi kamu tidak sabar!" jawab Nayra dengan lantang.


"Ya jelas! Kenapa kamu bisa kesiangan? Apa yang kamu lakukan malam tadi? Apa yang menyebabkan kamu kelelahan?" tanyanya tanpa jeda.


"Kamu kan tahu sendiri semalam kaki aku sakit. Jadi—"


"Itu bukan alasan!" sentaknya.


Terdengar napas Frans yang memburu lalu ia berusaha mengontrol emosinya sendiri.


"Aku tidak melakukan apa pun," ucap Nayra dengan perasaan takut. Jujur saja kalau Frans sudah mulai nada tinggi seperti ini, Nayra pun berusaha untuk tidak membuat emosinya semakin meninggi.


"Temui aku siang ini," ucap Frans kemudian.

__ADS_1


__ADS_2