
Nayra membuka pintu kamar dengan hati-hati. Sesaat pintu dibuka, matanya langsung menangkap Erland yang sedang duduk bersender di ranjang. Kedua matanya yang setajam elang pun langsung menangkap pergerakan Nayra yang nyaris membeku. Wanita itu masuk dan langsung menutup pintunya.
Dengan rasa canggung, ia berjalan mendekati. Tak ada suara yang menyambut kedatangannya. Erland diam dengan masih memperhatikan istrinya.
"Maaf, Tuan," ucapnya membuka pembicaraan. Dia menunduk memilih menatap lantai kamarnya.
"Kamu sudah mulai lancang!" Begitu jawabannya yang membuat Nayra terkejut. "Kamu pergi seenaknya tanpa memberitahu saya!" lanjutnya.
Kedua matanya membelalak, Nayra seakan tertampar dengan pernyataan itu.
"Maaf, Tuan. Saya—"
"Kita memang akan berpisah setelah satu tahun pernikahan. Tapi, bukan berarti kamu melewati garis kebebasan!"
Nayra baru tersadar, ia memang seharusnya meminta ijin kepada Erland untuk segala hal.
"Bukankah aku sudah memberitahumu atas perjanjian itu? Dan apa saja yang harus kamu hindari dan jangan lakukan? Jangan merusak reputasi ku! Jangan asal pergi tanpa pengawasan!"
"Maaf, Tuan. Saya hanya ingin ke rumah. Bukan pergi ke lain tempat," ucapnya lirih di akhir kalimat. Nayra telah berbohong, jelas-jelas ia pergi ke cafe untuk menemui kekasihnya.
Tok!
Tok!
"Tuan, Nona. Nyonya Rhianna sudah menunggu di meja makan untuk makan malam bersama." Suara pelayan menghentikan pembicaraan mereka berdua. Nayra langsung membantu Erland untuk menaiki kursi rodanya dan mendorongnya sampai di meja makan.
Dengan penuh perhatian, Nayra mengambilkan Erland sepiring nasi dan juga lauk pauk. Pemandangan indah itu tak luput dari pengawasan Rhianna. Mertuanya itu tampak bahagia melihat keduanya tampak romantis di meja makan.
Menu makan malam kali ini cukup banyak dengan dipenuhi banyak olahan seafood yang menggugah selera. Jujur saja, Nayra tak terlalu menyukai hewan laut. Dia lebih menyukai sayur-sayuran.
Saat memasukkan potongan udang yang ditumis ke dalam mulutnya, entah kenapa rasanya sangat amis saat menyentuh di lidahnya. Nayra tidak kuat dan ingin mengeluarkannya lagi. Tapi ia takut tidak sopan dan membuat khawatir. Berusaha ia kunyah dan menelannya dengan wajah yang memerah karena tidak cocok di lidahnya.
"Uuekkk ...." Tidak tahan dengan olahan udang yang amis, Nayra berlari menuju kamar mandi belakang. Merasa mual sekali, bahkan olahan udang yang sudah terlanjur tertelan sedikit dimuntahkan lagi.
"Nayra ...." Rhianna yang terkejut melihat menantunya tiba-tiba berlari sambil mual-mual, langsung menyusulnya ke belakang.
"Nayra, kamu kenapa sayang?" Terdengar Nayra yang masih mual-mual. Entah kenapa Rhianna malah tersenyum penuh arti sembari menunggu menantunya keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Nay ....." Nayra keluar dengan wajah yang memerah. Rasa amisnya masih terasa sedikit di lidahnya.
"Aku gak apa-apa, Ma," jawabnya dengan lirih.
Rhianna langsung meminta pelayan untuk membuatkan teh hangat. Untuk meredam rasa mualnya. Mereka pun kembali duduk dan bayangan rasa amis saat melihat udang tak bisa Nayra hindari.
"Ma, aku tidak mau makan udang ini lagi," ucapnya sembari menjauhkan makanan itu. Ia masih menutup mulutnya dan merasa perutnya tidak enak.
"Iya, Sayang. Jika kamu tidak suka, Mama tidak akan menyuruh pelayan memasak ini lagi. Kamu mau makan yang mana?"
Nayra tampak melihat keseluruhan lauk pauk yang ada di atas meja. Ada cumi, ikan goreng dan sop ikan kuah kuning.
Kepalanya mendadak pusing karena semuanya menu seafood.
"Maaf ya, Nay. Memang Mama yang menyuruh pelayan memasak olahan seafood semua untuk malam ini. Tapi, kamu malah gak suka ya?"
"Suka kok, Ma. Nayra mau ikan goreng saja." Nayra akhirnya memilih untuk memakan ikan goreng saja, tidak mungkin akan amis karna sudah digoreng.
"Ini minum dulu teh angetnya."
Setelah meminum teh anget, perutnya semakin membaik. Karna ingin menghargai mertuanya, ia pun memakan sedikit demi sedikit ikan goreng itu.
"Pelayan, tolong antarkan Erland ke kamarnya." Erland pun kebingungan dengan perintah ibunya, kenapa malah pelayan yang disuruh mengantarkannya.
"Erland, Mama pinjem dulu ya Nayra-nya. Bentar aja kok," ucap Rhianna dengan tersenyum lebar. Erland malah menanggapinya dengan acuh.
Rhianna menggandeng Nayra dan mengajaknya ke kamar pribadinya. Dia menyuruh menantunya untuk duduk dan dirinya mengambil sesuatu di dalam lemari.
"Nay, ini di simpen kamu ya. Kalau kamu sudah siap coba kamu pakai ini." Nayra terkejut dengan apa yang diberikan mertuanya. Ia tahu apa itu, dan sepertinya mustahil untuk ia gunakan.
"Ma, Nayra kan bisa beli sendiri," ucapnya merasa malu dengan pemberian Rhianna.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Bagaimana kalau kamu coba besok. Pagi-pagi ya. Nanti hasilnya kamu kasih tahu ke Mama," suruhnya dengan penuh semangat.
Nayra menatap benda pipih itu dengan alis berkerut, ia pun terpaksa mengangguk karna tidak ada alasan untuk menolak.
"Mama tunggu besok ya. Kan sudah lama nih kamu menikah dengan Erland, tentunya sudah sering dong." Rhianna menahan tawa seraya mengalihkan pandangan ke arah lain.
__ADS_1
"Mama ....." Nayra tersipu malu dan mimik wajahnya langsung berubah murung. Tapi itu tak disadari oleh Rhianna.
Nayra memasukkan benda itu ke dalam sakunya. Ia berjalan keluar dari kamar mertuanya dan entah kenapa langkahnya menuju ke belakang. Dia tak langsung pergi ke kamarnya melainkan ke halaman belakang.
"Nayra ...."
Seperti kejatuhan meteor di depan mata, ia malah bertemu dengan Frans tanpa disangka-sangka. Lelaki itu tengah duduk di bangku sendirian.
"Kita memang jodoh, Sayang," ucap Frans dan langsung menarik tangannya saat wanita itu ingin kabur.
"Frans, tolong lepasin. Ini di rumah," bisiknya.
"Sudah malam, pelayan sudah di kamarnya masing-masing."
Nayra tak henti menatap ke sekeliling, berharap tak ada yang lewat.
"Tetap saja, disini zona merah!" Suaranya mulai meninggi.
KREK!
Tiba-tiba terdengar bunyi benda yang keinjak. Frans langsung melepaskan cengkraman tangannya dan Nayra langsung berlari ke dalam.
BRUGH!
"Aww!!!" Nayra kesakitan saat tak sengaja menabrak seseorang. "Dara ...." Ternyata teman baiknya, Nayra langsung lega.
"Kamu mengenal Frans?" tanyanya kemudian. Dara celingukan mencari Frans yang tadi jelas-jelas berdiri di tengah-tengah halaman. Kini pria bertubuh tegap itu menghilang. Entah bersembunyi dimana.
"Frans sopirnya mas Erland?" tanyanya balik dengan sikap tenang.
Dara langsung menarik temannya itu dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Jujur denganku, Nay! Tadi aku melihat kamu dan Frans pegangan tangan. Awalnya aku kira itu bukan kamu, tapi setelah kamu tadi berlari dan nabrak aku, ya sudah jelas tadi kamu dengannya."
DEG!
Nayra langsung diam membeku. Tapi ia langsung berpikir keras untuk menjawab.
__ADS_1
"Ah, tadi aku tidak sengaja bertemu dan tidak ada yang namanya pegangan tangan. Kamu ini salah liat," elaknya kemudian.