
Makan malam selesai. Nayra mendorong kursi roda suaminya untuk masuk ke dalam kamar.
"Tuan, saya siapkan air hangat terlebih dahulu," pamitnya dan menuju kamar mandi.
DAMN!
Baru sampai di depan bath up tiba-tiba lampu kamar mandi mati. Nayra langsung berlari keluar dari kamar mandi karna ternyata lampu kamar masih menyala. Nayra yang tidak hati-hati menabrak kursi roda suaminya yang masih duduk di atasnya. Hingga kursi rodanya terguling juga Nayra jatuh tersungkur mengenai tubuh Erland. Posisi kursi roda yang dekat dengan pintu kamar mandi, membuat Nayra kelepasan tidak mengerem berlarinya.
"Aarrrggggghhh ...." Erland mengerang keras. Dia kesakitan. Jatuh dari kursi roda secara tiba-tiba memang menyakitkan. Apalagi jatuh ke samping. Membuat lengannya yang terbentur lantai dan kesakitan.
"Ma-maaf, Tuan," cicitnya.
Ah lagi-lagi Nayra ceroboh. Belum lagi sembuh memar di lututnya, kini ditambah jatuh ke lantai bersama Erland lagi.
"Lampu kamar mandi mati. Dan aku—"
"Aarrgghh ..." Erland meringis kesakitan. Nayra yang panik langsung memanggil seluruh orang rumah.
Langit tiba-tiba mendung. Hujan rintik-rintik membasahi bumi. Tak ada yang bisa mengerti perasaannya saat ini. Dara hanya mampu mengelap air matanya yang basah. Alvin juga hanya mampu diam menatap kakaknya yang tak berhenti menangis.
Lalu Rhianna sibuk dengan keadaan putranya yang sedang diperiksa oleh seorang dokter. Atas musibah tadi, Erland harus segera diperiksa. Takut-takut ada yang membahayakan di tubuhnya. Apalagi Erland tak berhenti mengerang kesakitan. Mungkin posisi jatuh yang secara tiba-tiba, membuatnya kaget.
"Ini semua salah aku." Nayra tak berhenti menangis menyalahkan dirinya sendiri. Andai ia tak ceroboh dan bersikap tenang, mungkin Erland takkan jatuh dari kursi roda.
"Lagian sih, rumah sebesar ini masa lampu kamar mandi bisa mati sih. Apa gak dicek berkala ya?" Dara hanya bisa ngedumel. Berusaha tidak memojokkan temannya itu. Sedangkan pelayan lain tak hentinya mengatakan bahwa Nayra benar-benar jahat. Seperti sengaja membuat Erland celaka.
Frans hanya menyimak dari jauh, dia cukup senang atas musibah yang menimpa suami wanitanya.
"Sudahlah, diam. Kamu juga pasti sakit kan? Ini lihat. Kaki kamu juga memar, Nayra." Dara sudah membujuknya dari tadi untuk mengobati kakinya, tapi Nayra tak mau berpindah posisi dari kamar Erland.
"Nayra, istirahat lah di kamar. Erland sudah terlelap lebih dulu karna tadi dokter memberikan obat tidur untuknya. Karna Erland tak berhenti merintih kesakitan." Sebagai seorang ibu, hatinya benar-benar remuk. Dia ketakutan dengan kondisi putranya. Takut jika ada sesuatu hal yang lebih membahayakan.
"Maafin Nayra, Ma. Nayra—"
"Bukan salah kamu, Nayra. Ini musibah, Mama tidak menyalahkan kamu." Rhianna mengusap lembut lengannya, merasa tidak apa-apa. "Istirahat lah," ucapnya lagi dan berlalu.
Gemuruh di dadanya belum usai, ia masih shock atas apa yang sudah menimpanya saat ini.
__ADS_1
"Sayang ...." Suara dari pria yang familiar di telinganya membuat Nayra lekas menoleh. Frans ternyata sedari tadi bersembunyi di balik tembok.
"Frans, pergilah," usirnya cepat. Nayra takut jika ada yang memergoki mereka berdua.
"Kamu menangis? Menangisi suami lumpuh itu? Hah? Untuk apa?" Frans tidak terima, jika wanitanya menangisi pria lain.
"Aku hanya merasa bersalah. Gara-gara aku tuan Erland celaka."
"Hapus cepat air mata mu! Omong kosong apa itu. Biarkan saja dia celaka—"
"Ssstttt, diam lah dan pergi. Aku mohon." Nayra mendorong tubuh kekasihnya untuk pergi, lalu ia masuk ke dalam kamar.
Di atas ranjang, Erland sudah terlelap. Sekilas teringat tragedi jatuhnya mereka berdua.
"Menyebalkan!" Ia menatap kursi roda dengan sebal. "Kenapa kamu tidak sekokoh tembok sih. Kalau ditabrak masih stay di tempat," gerutunya.
Nayra menarik karpet tipis dari bawah ranjang. Seperti biasanya, ia akan tidur di bawah. Mereka berdua tak kan tidur satu ranjang.
Sejenak Nayra memandangi wajah Erland yang tenang dalam mimpi tidurnya. Rahangnya yang tegas, bibirnya yang seksi, alisnya yang tebal itu adalah perpaduan yang pas untuk menamai pria tampan. Kalau sedang tenang seperti ini, aura ketampanannya meningkat 100 persen.
"Apa-apaan ini. Hentikan, Nayra."
Ia merasa tubuhnya seperti ditarik oleh magnet. Seakan ia ingin menyelusuri setiap inci tubuh suaminya.
Langit malam berubah terang. Pagi telah menyambut dengan hangat. Sinar matahari telah menyinari bumi.
Wanita itu masih meringkuk di atas karpet tipis. Masih terlelap, mungkin saja masih bermimpi indah.
KLEK.
Rhianna pagi-pagi membuka pintu kamar putranya lalu terkesiap atas apa yang ia lihat pagi ini.
"Nayra ...." Ia memegangi dadanya, lalu pelayan yang melihat segera membawa nyonyanya untuk duduk.
Suami istri itu serentak bangun, saat mendengar suara-suara dari dalam kamar mereka.
"Ma-mama ....." Nayra sangat terkejut saat mendapati mama mertuanya sudah duduk di dalam kamar. Dirinya yang masih memegangi selimut tampak bingung.
__ADS_1
"Erland, kalian tidak pernah tidur satu ranjang?" Pertanyaan dari seorang ibu, yang seharusnya tidak usah campur tangan dengan kehidupan rumah tangga anak.
"Tidak, Ma. Nayra hanya tidur di sini baru malam ini. Semalam Nayra ketakutan jika tidur di samping mas Erland. Takut menyenggol atau pun mengganggu istirahatnya," jawab Nayra.
Pandangannya mengarah pada sosok Erland yang hanya diam.
"Benar, Ma. Tidak maksud apa pun." Rhianna tak begitu percaya dengan mereka. Jika benar begitu, Rhianna akan menyesal. Karna sudah memaksakan putranya menikah dengan Nayra.
"Baiklah, kalian mandi saja dan Mama tunggu di meja makan."
Rhianna masih belum percaya apa yang ia lihat barusan. Jika benar begitu, mereka tidak akan dekat sampai kapan pun.
"Nyonya, tuan Alvin tidak keluar-keluar kamar. Dari tadi saya coba panggil tidak ada jawaban. juga pintunya dikunci."
Semenjak adik Nayra tinggal di sini, Rhianna lupa untuk mengontrolnya. Dan jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Seharusnya Alvin sudah berangkat ke sekolah.
TOK!
TOK!
TOK!
"Alvin, bangun. Kamu gak berangkat sekolah?"
BRAAKK!!!
Terdengar bunyi barang jatuh dari dalam. Rhianna berusaha membuka knop pintunya tapi memang masih dikunci.
"Alvin? Suara apa itu?" Rhianna semakin kerasa menggedor-gedor pintunya. Tapi tak ada jawaban darinya.
Karna takut terjadi sesuatu di dalam, Rhianna memanggil pak satpam untuk mendobrak kamar adik Nayra.
"Ya Tuhan ...."
Isi kamar Alvin seperti kapal pecah. Buku-buku berserakan di lantai. Makanan ringan juga menumpuk dengan bungkus yang sudah kosong. Terlihat Alvin yang masih terlelap.
"Alvin ...." Walaupun Rhianna shock melihat keadaan kamar Alvin, tapi ia masih bersikap lembut dan mencoba membangunkan Alvin untuk berangkat ke sekolah.
__ADS_1