
"Kenapa, Erland? Kamu terkejut mendengar aku sudah menikah?" Jack tertawa. "Sama halnya denganmu yang tiba-tiba sudah menikah tanpa mengundangku. Tapi tidak apa-apa, mungkin karna waktu itu aku berada di luar negeri jadi kamu tidak sempat memberitahuku. Sudahlah, lupakan yang sudah berlalu. Mari kita makan malam bersama."
Ada sebuah kelegaan di hati Nayra, karna ternyata malam ini hanya makan malam biasa. Tidak ada sebuah acara yang ia sangka akan banyak orang hadir.
"Nona, kesibukan Anda apa selama menjadi istri Erland? Apa Anda punya perusahaan sendiri?" tanya Jack tiba-tiba disela makannya.
"Dia tidak aku ijinkan kerja. Dia hanya di rumah," jawab Erland.
"Iya, Nayra hanya di rumah menemani saya." Rhianna ikut menimpali.
"Oh begitu. Beruntung sekali Anda, Nona. Suami dan ibu mertua Anda sangat menyayangi Anda."
Nayra mengangguk seraya tersenyum singkat.
"Lalu untuk orang tua Anda memiliki bisnis apa, Nona? Barangkali saya bisa mengajak kerja sama—"
"Orang tuanya sudah lama meninggal. Selesaikan makannya dulu, baru bicara," ujar Erland tanpa memandang Jack.
Jack langsung berubah ekspresi dan mengatakan maaf dengan nada yang lirih. Dia terus memandangi Nayra tanpa henti, bahkan ia merasa ada sesuatu yang aneh di dalam diri istri dari temannya itu.
"Wanita ini aneh. Dari cara makannya saja sangat kaku. Darimana dia berasal?"
"Bagaimana Nyonya Rhianna untuk hidangan makan malam kali ini? Saya sengaja pesan banyak makanan agar kalian bisa memilih."
"Enak, restoran ini memang salah satu restoran favorit saya." Memang sudah beberapa kali Rhianna mengunjungi restoran ini bersama teman-temannya. Jadi, dia tidak kaget dengan makanannya yang lezat-lezat.
"Nona Nayra, Anda makan sedikit sekali. Apa semua makanan di sini tidak ada yang cocok di lidah Anda?" tanya Jack saat Nayra baru saja mengelap mulutnya menggunakan tisu. Dia mengangkat wajahnya dan menatap Jack seksama.
"Ah, tidak. Saya suka makanannya, hanya saja saya sudah kenyang," jawabnya.
"Hem!" Erland berdehem, pandangannya kini mengarah pada istri dari Jack.
__ADS_1
"Nona Meichan, Anda sedari tadi hanya diam saja. Apa duduk di sebelah Jack membuat Anda tidak nyaman?"
Semuanya tertawa mendengar perkataan Erland, begitu pun Jack yang merasa lucu dengan sindiran dari Erland.
"Sayang, bicaralah sedikit. Temanku sepertinya ingin mendengar suara indah mu." Kini Jack tertawa sendirian, tak ada yang merasa itu sebuah lelucon.
"Maaf, saya hanya belum terbiasa bertemu dengan orang-orang baru. Jadi, maafkan saya," ujar Meichan kemudian. Sama halnya dengan Jack, istrinya itu juga memiliki mata yang sipit dan kulit yang sangat putih.
"Istriku memang sangat pendiam," belanya.
Tak terasa waktu berjalan sangat cepat, kini sudah jam 10 malam.
"Hutangku sudah lunas," ucap Erland. Jack dan Erland berjalan di belakang para wanita-wanita.
"Iya, terima kasih sudah menepati janji. Ngomong-ngomong apa kabar dengan Stella? Aku denger dia meninggalkanmu demi pria lain. Dia wanita yang bodoh, keputusannya sangat salah meninggalkan pria seperti dirimu."
Mendengar nama Stella, Erland langsung terdiam. Dia tak mau menanggapi pertanyaan dari Jack. Baginya dirinya dan Stella sudah menjadi masa lalu. Masih ada rasa sakit di dalam hatinya apabila mengingat saat Stella mengatakan ingin berpisah dengannya lalu dalam waktu yang dekat dia akan menikah dengan seseorang yang menjadi pilihannya.
"Mama pulang dulu ya. Apa kalian mau ikut dengan mobil Mama?" Mereka pun menggeleng, karna memang tadi mereka berangkat tidak bersamaan.
Sopir yang mengantarkan mereka mengatakan sedang berada di toilet. Jadi Erland dan Nayra masih menunggu.
"Untung saja Frans hari ini libur. Jadi, dia tidak mengantarkan aku dan Erland. Jika dia yang mengantarkan, pasti dia akan memarahiku karna memakai gaun seksi ini."
Angin malam berhembus menerpa kulit Nayra. Dia sedikit menggigil walaupun tubuhnya sudah memakai blazer bulu itu.
Nayra yang berdiri persis di sebelah Erland tentu tak luput dari pengamatan suaminya itu.
"Pakai ini!" Tiba-tiba Erland melepaskan jasnya dan memberikan pada Nayra. Tubuh kekarnya yang hanya dibalut kemeja berwarna hitam itu membuat pandangan Nayra tak fokus. "Ambil!" suruhnya kedua kali.
"Ah, iya." Nayra langsung mengambilnya. "Te-terima kasih," ucapnya sedikit gugup. Dia tak percaya bahwa Erland ternyata memperdulikannya.
__ADS_1
"Maaf, Tuan, Nona." Pak Sopir langsung turun dari mobil dan mengambil alih untuk mendorong kursi roda milik Erland. Sedangkan Nayra langsung masuk ke dalam mobil.
Jas milik Erland mencakup tubuhnya, dia merasa hangat sekarang. Tubuh suaminya memang besar, bisa dibilang dua kali lipat dari tubuh Nayra.
Bahkan bau parfum yang masih melekat di jasnya tanpa sadar membuat Nayra betah menciuminya. Hidungnya tak berhenti mendengus aroma-aroma wangi yang tercipta. Dan tiba-tiba ia terbayang akan kejadian tengah malam itu. Tubuh mungilnya didekap erat oleh Erland. Dia merasakan darahnya berdesir hebat.
"Nona, sudah sampai." Nayra tersentak dan langsung celingukan. Dia tak sadar bahwa mobil sedari tadi sudah berhenti, pikirannya melayang entah kemana.
Erland juga sudah turun dari mobil. Dan sudah berjalan jauh dengan seorang pelayan.
"Nona, sudah mengantuk?" tanya sopir itu yang mengira Nayra sudah mengantuk.
"Iya, Pak." Dia lantas turun dan berjalan menyusul suaminya.
Sesampainya di kamar ia langsung melepaskan sepatu heelsnya juga blazer bulunya. Tapi ia langsung tersadar akan Erland yang sedari tadi memandangnya.
Nayra kemudian menghampiri dan melepaskan sepatu yang dikenakannya. Tak peduli seberapa terbukanya gaun tanpa lengannya itu. Tercetak jelas belahan dadanya saat menunduk, membuat mata suaminya menjelajahi.
Ia mengambilkan setelan baju tidur, tapi sebelum itu dirinya mengangkat tubuh suaminya untuk duduk di atas ranjang.
"Apa kau sedang menggodaku?" Erland mengambil bantal dan menutupi bagian dada Nayra yang terbuka. "Lepas gaun itu!" suruhnya cepat.
Erland mengambil alih piyama ditangannya dan ia memakai sendiri piyama itu. Kakinya segera berlari menuju kamar mandi setelah mengambil pakaian tidur miliknya.
"Dia yang memberikan aku gaun seperti ini, dia juga yang menyuruhku ganti secepatnya!" gerutunya.
Nayra menatap dirinya di cermin, tubuhnya indah dan berpikir pantas untuk jadi model. Hanya saja dirinya tidak begitu tinggi seperti Stella yang nyaris sempurna. Ia lalu membayangkan betapa cantiknya Stella, mantan dari suaminya itu. Dibanding Stella, Nayra jauh kalah darinya.
"Apa kelebihan ku?" tanyanya pada diri sendiri. "Jika tuan Erland tiba-tiba menyukaiku, lalu hal apa yang ia sukai dari perempuan sepertiku?" Ia menunduk, bermimpi yang tak mungkin.
Cukup lama ia berada di dalam, seperti meresapi kehidupannya yang rumit ini. Saat ia keluar, Erland ternyata sudah terlelap. Namun posisi selimut belum membalut tubuhnya sempurna. Nayra kemudian menarik selimut itu pelan-pelan agar Erland tak kedinginan nanti.
__ADS_1