
Keesokan harinya, matahari mulai menampakkan diri. Sinarnya begitu terang membuat wanita yang masih terbaring di ranjang mulai mengerjabkan matanya. Bersamaan bunyi notifikasi pesan yang masuk ke dalam ponselnya, ia meraba laci di sampingnya. Tepat saat menemukan pegangan berbentuk bulat, ia lekas menariknya.
Benda pipih itu berhasil ia raih dan langsung terbangun terkejut saat mengintip isi pesan tersebut. Isinya berupa emoticon menyeramkan. Tak sampai disitu terkejutannya, saat ia melirik sisi sebelahnya tak ada siapa pun di situ.
Erland tak ada di ranjang. Matanya mencari-cari jejak kepergian suaminya itu. Tapi ia baru tersadar bahwa gorden telah terbuka sepenuhnya. Itu artinya sudah ada pelayan yang masuk.
"Nayra ...." Jantungnya langsung mencelos seketika saat pintu kamarnya dibuka secara tiba-tiba.
"Dara! Kamu mengagetkanku!" Ia masih memegangi dadanya. Jantungnya berdegup kencang.
Senyuman Dara mengembang dengan wajah konyolnya dan terdengar permintaan maaf yang lirih.
"Aku hanya ingin memberitahu bahwa tuan Erland pergi bersama nyonya Rhianna tadi pagi-pagi sekali," ucapnya dan kemudian duduk dipinggir ranjang seraya memandangi wajah Nayra.
"Kemana? Pergi kemana?"
"Ke—"
Belum sempat Dara menjawab, ponsel milik Nayra berdering nyaring.
"Cepat datang! Aku tunggu dalam 30 menit!" Suara lantang Frans terdengar disebrang telfon membuat telinganya sakit.
Dara langsung memicingkan matanya dan menaruh sedikit kecurigaan. "Siapa yang telfon, Nay? Aku dengar samar-samar seperti suara seorang pria."
Posisi mereka berdua memang tidak terlalu jauh, pantas saja Dara sedikit bisa mendengar suara lantang dari Frans.
"Oh barusan Alvin. Dia ingin aku datang ke rumah. Aku membawakan oleh-oleh untuknya, aku sudah janji," terangnya kemudian.
Dara langsung menganggukkan kepalanya merasa percaya dengan ucapan Nayra.
.
.
.
Di sebuah cafe yang sama. Nayra datang dengan penampilan apa adanya. Hanya mengenakan dress berwarna biru muda dengan motif bunga berwarna putih. Rambutnya ia gerai bebas serta polesan liptint yang natural.
"Maaf menunggu lama." Ia duduk di kursi yang telah disediakan. Disebuah meja kecil dekat pintu, mereka duduk berhadapan. Tak seperti biasanya, tampaknya hari ini cafe itu penuh pengunjung. Terbukti bahwa mereka hanya kebagian tempat duduk di paling depan.
"Cepat tinggalkan pria cacat itu!" geramnya. Ia mengatakan dengan suara yang lirih namun tekanan emosi bisa Nayra rasakan. "Aku sudah cukup bersabar selama ini, Nayra!"
Pria dengan rambut sedikit berantakan itu menyesap kopinya dengan kasar. Dan perlahan mengembuskan nafasnya seraya mengatur napasnya yang berat. Belum ada jawaban yang terdengar dari wanita pujaannya.
__ADS_1
Nayra masih terdiam seraya menunduk memandangi lantai berwarna kecoklatan itu. Jari jemarinya bertaut satu sama lain. Ia hanya berani curi-curi panjang ke arah Frans. Yang berkali-kali membuang wajahnya ke sembarang arah. Ia bisa melihat kedua matanya yang merah seperti menahan kesedihan juga amarah.
"Aku bilang kan nunggu satu tahun. Ini baru hitungan bulan—"
"Jangan membohongiku!" gertaknya kemudian. Ia menarik ujung rambut Nayra dan memainkannya dengan cara yang seksi. "Rambutmu berubah, bersamaan dengan kelakuanmu!"
Drrrtttt
Drrrtttt
Ia mendecak lidahnya kesal, panggilan dari majikannya membuat obrolannya kali ini harus berakhir.
"Pulang lah. Untuk kali ini kamu masih selamat." Frans langsung pergi meninggalkan Nayra yang masih betah duduk di kursi.
Entah akan kemana Frans pergi, tapi pikirannya langsung menuju pada Erland dan Rhianna.
"Apa Frans mau menjemput Erland dan mama?"
Nayra buru-buru keluar, ia mencari taxi untuk segera pulang ke rumah.
"Aduhhhhh!!!" Saat baru keluar dari cafe, ia malah tak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita. Ia mengaduh kesakitan.
"Nona ...."
"Kamu?" Nayra terkejut seraya menunjuk pelayan tersebut. "Sedang apa di sini?" Nayra langsung celingukan mencari Frans, dan sepertinya mobilnya sudah menghilang sedari tadi membuatnya lega.
"Saya mau menemui pacar saya, Nona. Dia bekerja di sini."
Kepalanya langsung menoleh ke dalam cafe. Cafe itu tidak terlalu besar juga tidak begitu kecil. Ia sampai hafal bahwa tak banyak karyawan di dalamnya. Dan hampir semuanya mengenali dirinya dan Frans karna sering kemari. Dan mereka adalah karyawan lama. Tak banyak yang keluar masuk untuk selama ini.
"Hubungan kalian sudah lama?" tanyanya kemudian.
Pelayan tersebut langsung tersenyum malu. "Tidak, Nona. Hubungan kita masih baru," jawabnya.
"Sayang ...." Suara pria tepat di belakangnya terdengar memanggil panggilan sayang yang manis. Pelayan tersebut langsung melambaikan tangan.
"Itu pacar saya, Nona. Dia—"
Belum selesai berbicara, Nayra langsung berlari. Ia melarikan diri dari tempat itu.
"Tidak boleh. Tidak boleh. Tidak boleh pelayan cafe itu memberitahu pada pelayan itu kalau aku baru saja bertemu dengan Frans. Bisa gawat!"
Ia sungguh ketakutan, Nayra tak berani menoleh ke belakang. Dalam hatinya berdoa agar dirinya selamat untuk ke dua kalinya.
__ADS_1
.
.
"Erland, kamu dengar apa kata dokter tadi. Semuanya tak ada yang mustahil." Wajah Rhianna terlihat berseri-seri, karna ada sesuatu keajaiban yang baru saja ia dengar tadi di rumah sakit.
"Belum pasti, Ma. Semua itu hanya mungkin." Erland tak mau berharap lebih. Dia masih saja pesimis.
"Ya sudah. Intinya kita jangan putus usaha."
Rhianna mendorong kursi roda putranya menuju kamar. Tapi di sana tak ada siapa pun. Nayra pun tak terlihat ada di mana.
"Dara, kamu tahu Nayra kemana?" Dara yang kebetulan lewat mendapatkan pertanyaan tiba-tiba.
"Oh, nona Nayra sedang berkunjung ke rumahnya, Nyonya. Katanya mau memberikan oleh-oleh untuk adiknya," jelasnya kemudian.
"Ya sudah, kembali berkerja. Erland, kamu istirahat saja ya. Mama juga mau istirahat. Bentar lagi Nayra mungkin pulang, tunggu saja."
Pria itu duduk bersender di dipan ranjang. Matanya terus menatap jendela yang terbuka.
"Oleh-oleh? Oleh-oleh darimana? Apa dia sempat membeli oleh-oleh waktu di sana?"
Dia sedikit ragu dengan penjelasan Dara. Ia benar-benar tak tahu kalau Nayra di sana sempat membeli oleh-oleh. Bukannya Nayra tak pernah pergi jauh dari sisinya? Saat ia dilarikan ke rumah sakit juga wanita itu langsung menyusulnya.
"Apa dia berbohong? Apa dia tak benar-benar menemui adiknya?"
Ia menggapai ponselnya di atas nakas dan langsung mencari kontak Alvin. Kontak adik iparnya itu memang sudah tercatat di ponselnya. Jelas saja karna Rhianna yang memasukkannya.
"Alvin ...."
Saat panggilannya diangkat, Erland langsung memanggil namanya.
"Kak Erland, ada apa?" Adik iparnya itu langsung tahu suara milik Erland.
"Apa kamu sedang bersama kak Nayra?" tanyanya.
Alvin terdiam sesaat. "Tidak, Kak. Aku di rumah sendirian."
DEG.
"Oh, apa kak Nayra sudah pulang?"
Alvin pun langsung kebingungan. "Pulang? Pulang kemana, Kak? Bukannya kalian sedang bulan madu?"
__ADS_1
Saat ia masih bertukar suara dengan Alvin. Tiba-tiba sosok Nayra muncul. Ia datang dan langsung membuka pintu dan tersenyum kearahnya.