
Jalanan pagi sangat padat hari ini. Di tengah-tengah perjalanan Erland harus mutar balik untuk menuju rumah sakit. Dia mengurungkan niatnya untuk ke kantor dan terpaksa membatalkan beberapa agenda hari ini.
"Cepat!!!!!" Erland terlihat sangat panik sampai-sampai memarahi Mario yang dinilai sangat lambat. Ia ingin cepat sampai dan bisa segera melihat keadaan Rhianna.
Ia memukuli kursi rodanya sendiri, merasa tidak berguna. Seharusnya ia bisa lari dengan cepat tanpa harus dibantu oleh Mario. Dia seperti tidak ada gunanya jika terus begini.
"Tuan, sabar lah." Suasana di rumah sakit hari ini benar-benar padat, banyak orang-orang berjejer di depan ruangan yang ada. Dirinya kesulitan untuk menembus lautan manusia. Karna beberapa kursi tunggu yang tersedia memang sudah penuh membuat mereka akhirnya berjejer berdiri.
"Ma ....." Saat sudah sampai di ruangan ternyata Rhianna sudah sadarkan diri. Tapi ia hanya menatap kosong ke atas. "Ma ....." Erland memanggil-manggil Rhianna tapi ibunya itu malah diam saja.
Mario pun dibuat kebingungan dengan kondisi Rhianna. Saat asistennya itu mau keluar mencari dokter, tiba-tiba terdengar isakan kecil. Rhianna menangis sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Hiks .. Hiks ... Hiks ....
"Ma, kenapa menangis?" Erland langsung memberi isyarat pada Mario dan asistennya itu langsung paham.
Hiks .. Hiks ... Hiks ....
Semakin keras tangisan yang terdengar membuat Erland sangat kebingungan.
"Mama ....."
Hati ibu mana yang tak sakit saat melihat menantu kesayangannya itu telah bermain api dengan orang terdekatnya. Ia merasa ditusuk dari belakang atas segala kepolosannya dan juga keluguannya.
Air matanya yang keluar tak bisa mengembalikan kasih sayang yang telah ia berikan pada Nayra.
"Nyonya, apa yang Anda rasakan sekarang? Ada bagian yang sakit?" Dokter datang dan ingin memeriksa Rhianna kembali tapi wanita paruh baya itu enggan untuk diperiksa.
Ia menggeleng kuat dan mengusir dokter itu untuk pergi. Tanpa bersuara Rhianna memberi isyarat untuk dokter tersebut keluar.
Erland mengikuti dokter untuk menanyakan keadaan Rhianna sekarang.
"Dok, apa yang terjadi dengan mama saya?"
Dokter itu langsung menjelaskan soal kondisi yang dialami Rhianna hingga beliau pingsan tadi. Ia mengatakan bahwa Rhianna dalam tahap stress. Beban pikiran yang terlalu berat membuat dadanya sesak dan tak sadarkan diri.
"Kemungkinan ada suatu kejadian yang membuat nyonya Rhianna bisa mengalami stress. Beliau tidak bisa mengontrol emosinya sendiri. Saya harap nyonya Rhianna bisa ditemani terus-menerus, jangan sampai sendirian. Beliau butuh dukungan dari orang-orang terdekat."
Erland terdiam seketika mendengar penjelasan sang dokter. Ia bertanya-tanya sebenernya apa yang sudah terjadi pada ibunya.
__ADS_1
Ia akhirnya masuk kembali dan terlihat Rhianna sudah agak tenang. Air matanya sudah tak keluar lagi dan ia terdiam kembali menatap langit-langit ruangan.
"Kembali lah ke kantor. Aku akan di sini dengan Mama."
"Tapi, jika Anda butuh sesuatu bagaimana, Tuan? Di sini tidak ada pelayan." Mario pun mengkhawatirkan bosnya itu karna keadaan terbatasnya tersebut.
"Ada Nayra di sini, kan? Dia—"
"Jangan! Jangan bawa wanita itu ke sini!!!!!" teriak Rhianna dengan amarah yang menggebu-gebu. "Erland! Ceraikan wanita itu sekarang!!!!" suruhnya kemudian.
DEG.
DEG.
Erland dan Mario terkejut bersamaan dengan perkataan Rhianna.
"Ma, apa maksud—"
"Mama bilang ceraikan dia sekarang! Mama tidak mau punya menantu sepertinya!"
Erland dibuat kebingungan oleh perkataan Rhianna yang tiba-tiba itu. Bukankah ibunya itu sangat menyayangi Nayra, kenapa sekarang malah seakan membenci?
"Ma, jelaskan dulu pada Erland. Kenapa Mama bisa tiba-tiba menyuruh Erland untuk menceraikan Nayra?"
Hiks .. Hiks ... Hiks ....
Bukannya menjelaskan, Rhianna malah menangis kembali. Kini isakannya bertambah keras, napasnya juga naik turun menahan rasa sesak di dada.
"Kita pulang sekarang, Alvin." Nayra langsung membereskan semuanya setelah mendapat ijin dari dokter untuk pulang hari ini.
"Kakak habis nangis?" Alvin yang menyadari mata kakaknya yang bengkak langsung menanyakan apa yang telah terjadi. Tapi Nayra beralasan bahwa sekarang ibu mertuanya sedang dirawat dan dirinya sangat sedih.
"Oh, nyonya Rhianna?" tanyanya memastikan dan Nayra langsung mengangguk.
Ia telah memesan sebuah taxi untuk membawa pulang Alvin. Selama perjalanan Nayra hanya diam membuat Alvin merasa aneh dengan sikap kakaknya.
"Kak, belum bayar," ujar Alvin saat mereka sudah turun dan Nayra malah berjalan menuju pintu tanpa membayarkan ongkos taxi lebih dulu.
"Ah iya, lupa. Ini pak, maaf ya." Nayra pun membayarnya dan kembali berjalan menuju pintu.
__ADS_1
"Kenapa Kakak gak fokus sih. Lagi mikirin apa? Nyonya Rhianna? Ya sudah Kakak ke rumah sakit aja, aku gak apa-apa di rumah sendirian."
"Mama bilang ceraikan dia sekarang! Mama tidak mau punya menantu sepertinya!"
Perkataan dari Rhianna terngiang-ngiang di kepalanya saat ia tak sengaja menguping pembicaraan Erland dan Rhianna saat di rumah sakit. Niatnya yang ingin masuk untuk melihat kondisi Rhianna akhirnya terurungkan. Daripada menambah keruh suasana, ia memilih untuk pergi.
"Kak, kenapa gak dibuka-buka sih pintunya."
Nayra baru sadar bahwa pintu belum ia buka kuncinya, ia terhanyut ke dalam pikirannya sendiri.
Di dalam kamar ia menutup pintu rapat-rapat dan mengambil sesuatu di dalam tasnya. Sebuah amplop yang di dalamnya terdapat kertas panjang, ia lemparkan begitu saja ke atas ranjang.
"Kenapa jadi seperti ini???????" teriaknya dalam hati.
"Ambil dan berikan pada tuan mu!" Frans datang dan langsung melemparkan kunci mobil ke seorang satpam. Ia berjalan masuk mengitari rumah dan pintu belakang menjadi tujuannya.
"Frans!!" teriak satpam yang kebingungan saat menerima kunci mobil milik bosnya. Bukankah dia seorang sopir, kenapa kuncinya dia berikan pada seorang satpam?
Tak mau membuang-buang waktu, Frans segera membereskan baju dan juga barang-barangnya.
"Frans! Kamu mau kemana?" Bibi Har memergoki Frans yang baru keluar kamar dan memakai ransel besar.
"Aku sudah mengundurkan diri hari ini. Saya mohon pamit."
Tak peduli dengan suara teriakan dari pelayan lain yang mencoba memanggilnya. Frans tetap berjalan meninggalkan rumah itu.
"Tunggu!" Dara menghalangi jalannya seraya membentangkan kedua tangannya. "Kenapa tiba-tiba kamu mau keluar? Ada masalah apa?"
Tubuh kecil Dara langsung diterobos begitu saja membuat Dara hampir terjatuh. Ia tak menyangka bahwa Frans bisa sekasar itu dengan perempuan.
"Frans ...." Dara hampir meneteskan air mata saat mendapat perlakuan dari Frans barusan. Yang ia kenal selama ini adalah Frans lelaki yang baik dan lemah lembut.
Sebelum meninggalkan rumah majikannya itu, Frans menoleh sekali lagi pada rumah mewah tersebut. Ia teringat saat pagi-pagi ia mencuci mobil, ia sering melihat Nayra di atas balkon. Itu menjadi pemandangan yang indah di pagi hari.
"Frans, tidak ada yang ingin kamu katakan pada saya?" Satpam yang menerima kunci mobil itu langsung menghadangnya di gerbang.
"Aku muak dengan keluarga ini!" ucapnya dan berlalu pergi.
"Dasar gila!" gerutunya. Sebenarnya satpam tersebut juga tidak menyukai Frans sejak pertama kali ia bekerja di sini. Menurutnya Frans itu angkuh dan selalu merasa sok benar.
__ADS_1