
Di ruangan besarnya, Erland sedari tadi banyak diamnya. Mario pun lebih banyak di meja kerjanya daripada menemani bosnya di dalam ruangan.
Berbagai berkas yang harus ditandatangani sudah terkumpul banyak di atas meja. Mario sengaja tidak memberikan semuanya hari ini.
"Mario ...." Mendengar namanya dipanggil, dengan sigap ia masuk ke dalam ruangan bosnya. "Aku ingin pulang sekarang. Tolong kamu urus semuanya hari ini." Mario mengangguk patuh atas perintah dari Erland. Ia pun mengantarkan Erland sampai ke parkiran.
"Tuan, sopir Anda kemana?" Mario celingukan mencari mobil dan juga keberadaan sopirnya. Mobil mewah yang Erland miliki tidak ada diparkiran khusus.
"Pesankan aku taxi saja," ucap Erland tak mau ambil pusing.
"Aduh, Tuan. Jangan naik taxi, nanti nyonya Rhianna bisa memarahi saya," jawabnya seraya garuk kepala.
"Pesankan taxi saja! Aku ingin cepat pulang!" serunya.
Mario akhirnya mencegat taxi yang lewat dan ia pun ikut masuk mengantarkan bosnya sampai ke rumah. Ini adalah cara paling aman.
Hari belum siang. Pelayan masih bekerja di sekitar halaman depan rumahnya. Saat melihat majikan tampannya pulang, mereka langsung lari ke dalam rumah berniat memberitahu Rhianna.
Rhianna yang sedang santai menonton televisi langsung beranjak bangun saat mendapat kabar bahwa Erland pulang.
"Erland, kamu kenapa, Nak? Kok pulang cepat." Pandangannya mengarah pada Mario yang berada di sisi putranya, tapi asisten itu hanya menghendikan bahunya merasa tidak tahu.
"Erland mau istirahat, Ma," jawabnya singkat. Pelayan pun dengan sigap mendorong kursi rodanya sampai ke kamar.
"Kamu tidak apa-apa, kan? Apa ada masalah di kantor?" tanya Rhianna lagi merasa khawatir saat sudah berada di kamar putranya.
"Nayra dimana?" Bukannya menjawab pertanyaan ibunya, Erland malah mencari keberadaan istrinya yang ternyata tidak ada di kamar.
"Nayra sedang pergi ke rumahnya, katanya rindu dengan Alvin," jawabnya.
Terdengar decakan lidah yang pelan tapi Rhianna mendengarnya dengan jelas.
__ADS_1
"Ohhh ... Kamu pulang cepat karna rindu dengan istrimu?" goda Rhianna sambil menahan tawa.
"Aku cuma tanya keberadaan dia, Ma. Seharusnya kalau aku pulang dia harus selalu ada," ucap Erland yang malah tambah membuat Rhianna tak bisa menahan tawa.
"Aduh, Erland. Nayra kan tidak tahu kalau kamu mau pulang cepat. Makanya kalau mau pulang, kamu kabari Nayra dulu," usulnya kemudian.
.
Di tempat lain, Nayra yang merasa lelah berdebat dengan Frans sedari tadi memilih diam seraya membuang muka.
BRAK!
Frans memukul meja dengan kepalan tangannya. Tidak begitu keras tapi cukup mengagetkan Nayra yang langsung memandangi Frans dengan tatapan sinisnya.
"Kalau tidak percaya ya sudah! Aku mau pulang!" Nayra beranjak dari duduknya dan ingin segera melangkah pergi tapi dengan cepat Frans menahan.
Tapi tiba-tiba suara ponselnya berbunyi dan terpaksa Frans melepaskan pegangan tangannya. Ia merogoh saku dan ada panggilan dari seseorang yang sangat penting. Wajahnya berubah pias seketika.
"Maaf, Nyonya," ucapnya kemudian dan telepon mati seketika.
"Siapa—"
"Aku harus segera kembali. Suamimu itu sudah pulang dari kantornya. Aku dimarahi mertuamu karena tidak stay di kantor. Urusan kita belum selesai tapi untuk saat ini aku masih percaya padamu. Setiap hari akan aku awasi kamu terus." Sebelum pergi, Frans membelai puncak kepalanya sebentar. Dia berusaha tersenyum walau banyak pikiran negatif yang bersarang di kepalanya.
Nayra masih berdiri seraya memandangi kekasihnya yang berjalan keluar dari cafe. Sampai pria itu menaiki mobil mewah dan lenyap dari pandangannya.
[Nay, kamu pulang jam berapa? Erland pulang cepat, dia tadi mencari mu.]
Nayra mendapat pesan dari Rhianna. Padahal ia ingin menemui Alvin terlebih dahulu, tapi itu akan menambah waktu yang lama. Ia juga harus tau posisinya sekarang yang menjadi seorang istri.
Setelah turun dari taxi, Nayra buru-buru masuk ke dalam rumah. Tapi langkahnya tiba-tiba berhenti, melihat seseorang yang tengah duduk berbincang dengan ibu mertuanya. Lututnya mendadak lemas dan ia juga melihat Erland yang sedang berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Kak, aku butuh waktu untuk berdua. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan." Alvin tiba-tiba langsung menariknya ke luar, membawanya ke halaman rumah yang ditumbuhi banyak bunga-bunga indah.
Kakinya seakan berat mengikuti langkah kaki adiknya. Pikirannya langsung buyar dan tidak konsentrasi.
"Kak!" Alvin menepuk bahunya dan baru lah Nayra seakan menerima kesadaran.
"Iya, Alvin. Ada apa? Maaf Kakak belum sempat ke rumah," ucapnya dan memeluk adiknya sebentar. Setelah kejadian Alvin pergi dari rumah ini, mereka memang belum sempat bertemu. Nayra hanya mengirimkan pesan setiap harinya untuk Alvin.
"Paman dan bibi sekarang tinggal di rumah kita. Rumah mereka kebakaran. Makanya aku sudah beberapa hari ini tidur di rumah teman." Nayra merasa shock mendengar pernyataan dari Alvin.
"Kenapa kamu baru ngomong sekarang? Bukankah saudara mereka banyak, kenapa harus di rumah kita?" Nayra masih merasa kesal dengan sikap Paman dan bibinya dahulu, yang tidak ada belas kasih pada mereka.
Alvin hanya menggelengkan kepala. "Kak, bisakah Kakak mencarikan kontrakan untuk mereka? Aku tidak mau rumah kita nantinya akan dirubah sama paman dan bibi."
Nayra berpikir, ia tak punya kuasa atau kekuatan apa pun saat ini. Dia memang istri dari pria kaya raya. Tapi ia hanyalah istri kontrak, yang akan berpisah setelah satu tahun pernikahan. Dia juga tak mungkin mengemis pada lelaki itu untuk sebuah permintaan yang menurutnya tidak harus ia penuhi. Tapi ia juga tak mungkin membiarkan Paman dan Bibinya terus tinggal di rumah peninggalan orang tuanya.
"Baiklah. Nanti akan Kakak usahakan. Untuk malam ini kamu menginap di sini. Ja—"
"Gak mau, Kak. Aku sudah membayar sewa kamar di temanku. Aku akan tinggal di sana sampai Kakak mencarikan kontrakan untuk paman dan bibi."
Sebelum Alvin pulang, mereka berpelukan kembali. Kerinduan yang sedikit terobati.
"Jaga dirimu baik-baik, Alvin. Maafin Kakak, kalau selama ini Kakak belum bisa jadi Kakak yang baik untukmu."
Alvin langsung menggeleng. Ia memeluk kakaknya kembali dengan mata berkaca-kaca.
Setelah mengantarkan Alvin sampai gerbang, Nayra pun masuk kembali ke rumah. Ternyata Rhianna masih duduk di atas sofa tapi Erland sudah tidak ada di situ.
"Nay—"
"Maaf, Ma. Nayra gak maksud bohongi Mama, tadi Nayra memang mau ke rumah tapi sebelum itu memang ketemuan dulu dengan teman. Dan Mama menelepon mengatakan mas Erland sudah pulang jadi—"
__ADS_1
"Nay, kenapa kamu jadi ketakutan gitu sih. Santai aja, Sayang. Lagian kalau kamu ke rumah juga gak bakal ketemu Alvin, kan? Tadi Alvin bilang kalau dia menginap di rumah temannya. Makanya saat Mama bilang kamu sedang ke rumah, dia mau buru-buru pulang nyamperin kamu. Tapi pas kamu ngabarin mau langsung pulang, Mama nahan dia."
Nayra menghembuskan napasnya lega mendengar penuturan dari Rhianna. Sedari tadi dia mencari-cari alesan yang masuk akal. Dan pada akhirnya ternyata Rhianna tidak mencurigainya.