CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH

CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH
BAB 27 RAMBUT BARU


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi sepasang suami istri itu membelah dinginnya malam ini. Di bawah langit yang gelap, mobil melaju sangat pelan. Menikmati kesunyian malam yang hanya dilewati beberapa kendaraan saja. Jalan yang mereka lalui memang jarang dilewati kendaraan.


Erland mengarahkan sopirnya pada suatu tempat yang akan mereka datangi. Mobil mereka berhenti tepat di sebuah gedung yang megah.


"Ini salonnya?" tanya Nayra sesaat setelah turun. Dia menatap tak percaya bahwa ada sebuah salon di tempat seperti ini. Perlu diketahui, mereka tadi baru saja melewati hutan kecil. Lalu di kawasan ini hanya ada beberapa rumah saja dan di tengah-tengah terdapat gedung megah ini.


Tampak dari depan tidak ada spanduk atau apa pun. Hanya sebuah pintu masuk yang terdapat tulisan OPEN.


Seorang karyawan dengan pakaian serba hitam itu keluar dan menyambut ramah kedatangan Erland. Tampaknya karyawan tersebut sudah mengenal baik Erland sendiri.


"Mari, Nona. Ikut saya." Karyawan tersebut langsung mengarahkan masuk, meninggalkan Erland yang masih mengamati ke sekeliling. Nayra yang kebingungan masih sempatnya menengok ke belakang dan anehnya suaminya itu tidak ada di belakangnya lagi.


Nayra berjalan masuk ke dalam melewati beberapa ruangan. Semua ruangan di sini sangat tertutup. Tapi ada satu penjaga di depan masing-masing pintu.


"Tempat apa ini?"


Sebuah ruangan yang letaknya di pojok gedung, ia pun dipersilahkan masuk. Di dalam sana sudah ada dua karyawan yang menunggu. Tempatnya persis seperti di salon. Hanya saja cuma ada satu kursi untuk melayani tamu dan sebuah cermin besar.


Seperti pelayanan salon yang lainnya, mulanya rambutnya dicuci dahulu.


"Kenapa, Nona? Kelihatannya Anda sedang kebingungan." Mimik wajahnya ternyata bisa dibaca oleh karyawan tersebut. "Anda merasa bingung dengan tempat ini?"


Dengan rasa tidak enak, ia akhirnya mengangguk. "Iya, saya baru—"


Dan tiba-tiba Nayra menghentikan perkataannya sendiri. Dia baru tersadar akan sesuatu.


"Aduh, jangan bilang kalau aku baru tahu tempat seperti ini. Nanti dikira aku kampungan banget. Orang-orang kaya pasti sudah tahu tentang tempat seperti ini. Aku pura-pura saja sudah sering mengunjungi."


"Ah, tidak. Saya hanya sedikit mengantuk. Tapi suamiku memaksaku untuk ke salon malam ini juga," ujarnya.


"Oh begitu. Jika Nona ingin tidur juga tidak apa-apa. Saya tetap mengerjakannya dengan baik." Nayra pun langsung mengibaskan tangannya, ia mengatakan kalau tidak apa-apa menahan kantuk.


Waktu terus berjalan, Nayra sampai memejamkan matanya saat pijatan lembut terus ia rasakan di kepalanya. Membuat pikirannya rileks sedikit.


"Nona, apa rambutnya ingin diwarnai?" Pertanyaan dari karyawan wanita itu membuat ia membuka mata. Ia lantas berpikir sebentar.


"Aku rasa tidak usah," jawabnya.


Tapi sesaat kemudian dia berpikir ulang. "Hm. Warnai saja, tapi yang tidak terlalu mencolok." Entah apa yang membuatnya berubah pikiran.

__ADS_1


Karyawan itu memberikan sebuah buku yang terdapat berbagai macam warna rambut, Nayra disuruh memilih.


"Pilihkan saja yang cocok untuk saya." Nayra bingung harus memilih warna rambut, karna seumur-umur ia belum pernah mengganti warna rambutnya yang sudah terlahir berwarna hitam pekat tersebut.


Kepala mereka menoleh bersamaan saat mendengar suara pintu ruangan yang akan dibuka. Ternyata Erland yang datang, ia bersama penjaga di depan.


Erland memicingkan matanya saat melihat karyawan salon itu sedang meracik pewarna rambut.


"Mau diapakan rambut istri saya?" tanya Erland.


Nayra langsung menatap Erland heran. "Istri?"


Selama hampir 3 jam lamanya, Nayra berada di salon. Cukup melelahkan dan membosankan. Tapi tidak dengan Erland, ia tak berhenti memperhatikan istrinya sedari tadi. Bukankah Erland typekal pria yang tidak suka menunggu? Tapi kali ini tidak jadi masalah untuknya.


Tinggal tahap terakhir yaitu mengeringkan rambut. Sehelai demi helai rambutnya sudah berganti warna. Menjadi warna rambut orang korea. Berwarna kecoklatan. Aura Nayra langsung berubah, ia menjelma menjadi wanita yang anggun.


"Sudah selesai, Nona." Ia seperti melihat diri orang lain. Tampilan rambutnya dari cermin terlihat seperti bukan dirinya.


"Bayarnya dimana?" tanya Nayra kemudian. Karna di sana ia tak melihat adanya kasir.


Karyawan tersebut langsung tersenyum. "Untuk apa bayar, Nona. Tempat ini milik tuan Erland."


Tiba-tiba Erland menjalankan kursi rodanya sendiri menuju pintu. Nayra langsung mengejar dan tak membiarkan Erland jalan sendirian.


Nayra tak menyangka bahwa suaminya ini banyak memiliki usaha. Ia kira memiliki sebuah perusahaan sudah termasuk hebat.


"Masih milik ayahku. Tapi nanti akan jatuh ke tanganku."


Nayra mengangguk-anggukan kepala. "Oh, seperti itu."


Langit semakin pekat, tapi terlihat bulan sangat terang di antara awan yang hitam. Mobil mereka membelah kesunyian malam. Nayra beberapa kali menguap tak bisa menahan rasa kantuknya.


Tanpa sadar Nayra sampai ketiduran di mobil. Bahkan kepalanya bersender di pundak Erland tanpa disadari. Suaminya itu hanya diam dan membenarkan posisi kepalanya.


Hingga tiba di rumah, Nayra masih terlelap.


"Bangun." Erland menggerakkan pundaknya pelan. "Bangun, sudah sampai," ucapnya lagi.


Tak berapa lama matanya mengerjab. Ia membuka pelan kedua matanya dan tepat di hadapannya adalah wajah Erland.

__ADS_1


"Turunlah dan tidur di kamar. Aku tidak bisa mengangkat mu. Jadi, jangan memaksaku." Dirinya lumpuh, bagaimana mungkin ia bisa mengangkat tubuh istrinya.


Masih dengan rasa kantuk yang berat, Nayra berjalan sempoyongan. Tapi ada pelayan yang membantu menopang tubuhnya.


"Aku bisa jalan sendiri ...." lirihnya.


Dari arah belakang, Erland mengawasinya.


Sampai di kamar, Nayra langsung menjatuhkan tubuhnya. Bahkan ia lupa bahwa ada Erland yang membutuhkan bantuannya. Melihat istrinya yang sudah terlelap, ia mengganti pakaiannya sendiri dan naik ke ranjang sendiri.


Sandal yang dikenakan istrinya masih berada di kakinya, Erland berusaha melepaskannya. Setelah itu dia berusaha naik ke ranjang. Ia berpegangan pada dipan ranjang.


BRUGHHH!


Terdengar suara gaduh.


BRAKKK!!


Nayra langsung terkejut dan langsung terbangun. Dilihatnya Erland yang sudah di lantai. Kursi rodanya terbalik dan hampir mengenai tubuh suaminya.


"Ya Tuhan!" Nayra menjerit kaget dan terdengar dari luar bahwa ada beberapa orang berlari. Suara langkah kaki yang bertubi-tubi terdengar.


TOK!


TOK!


TOK!


"Tuan, Nona ...." Kuping mereka ternyata langsung peka. Seluruh pelayan yang mendengar kegaduhan itu langsung berlari ke kamar Erland.


"Usir mereka semua!" seru Erland. Tangannya menghantam lantai kamar dengan kesal.


"Tidak berguna! Aku tidak berguna!" teriaknya dalam hati. Ia memalingkan wajahnya saat Nayra kembali dan membantu dirinya untuk naik ke kursi rodanya kembali.


"Tuan, maafkan saya. Saya tidak memperhatikan Anda, malah ketiduran duluan."


"Berhenti mengatakan maaf. Jangan berkata maaf dihadapan saya!"


Tiba-tiba Erland melemparkan bantal dan juga selimut ke lantai. "Tidurlah dibawah!"

__ADS_1


Matanya terbelalak mendapat pengusiran dari suaminya itu. Erland yang ia kira sudah berubah nyatanya kembali lagi menjadi sangat menyebalkan.


"Dasar plin-plan!!!"


__ADS_2