CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH

CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH
BAB 9 KEMARAHAN ERLAND


__ADS_3

Dan tak berapa lama Frans mengirimkan balasan.


[Kejutan untukmu, sayang. Sudah ya, aku sedang menyetir. Nanti aku bawakan oleh-oleh]


Nayra frustasi, apalagi Alvin sudah tinggal di sini. Jika dia melihat Frans, bagaimana? Hubungannya dengan Frans lambat laun pasti akan ketahuan.


"Kak, aku mau berangkat sekolah dulu." Alvin sedari tadi mencari keberadaan Nayra, ternyata kakaknya ada di halaman belakang.


"Iya, Alvin. Hati-hati." Adiknya itu pergi ke sekolah naik bus. Padahal Rhianna sudah menawarkan untuk diantarkan sopir, tapi Alvin menolak.


Saat ia sedang berjalan menuju halte, dari arah belakang ada sebuah mobil lalu berhenti. Ternyata mobil yang ditumpangi Erland.


"Suruh dia masuk," perintah Erland pada sopirnya.


"Tuan Alvin, ayo masuk. Tuan Erland akan mengantarkan Anda ke sekolah," ucap sopir itu.


Alvin menatap Erland yang hanya diam di dalam mobil. Lalu dia akhirnya masuk ke dalam duduk bersama sopir di depan.


Tak ada percakapan di antara mereka. Alvin juga merasa canggung dengan kakak iparnya tersebut. Ia tak berani menanyakan apa pun. Terlihat sikapnya yang dingin dan cuek.


Mobil akhirnya sampai juga di sebuah sekolah yang populer. Erland tercengang karna adik dari istrinya bisa masuk ke sekolah ini.


"Hebat juga itu anak."


Alvin turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih pada Erland, namun pria itu hanya mengangguk singkat.


***


Tok!


Tok!


Tok!


Saat Nayra sedang bersantai di atas ranjang yang empuk, ketokan pintu terasa mengganggunya.


KLEK.


Ia membukanya dengan raut wajah masam. Tapi seketika ia tersenyum lebar mengetahui siapa orang dibalik pintu tersebut.


"Dara ....."


Ternyata Dara-temannya. Nayra menyuruhnya untuk masuk. Di rumah tak ada siapa pun. Rhianna pergi dan juga Erland ke kantor. Jadi, Nayra bebas mengajak masuk siapa pun ke dalam kamarnya.


"Dara, aku butuh teman." Semenjak menjadi istri Erland, ia merasa kesepian. Dulu saat masih menjadi pelayan, banyak yang mengajaknya berbicara tapi sekarang semuanya seakan menjauh darinya.

__ADS_1


"Aku ini kan masih teman mu, Nayra. Kamu ini yang sudah berbeda kasta denganku." Dara memanyunkan bibirnya, ia juga merasa bahwa hubungannya dengan Nayra tak seperti dulu. Ia terkadang merasa canggung saat ingin mengajaknya berbicara.


"Tidak. Kasta ku masih sama denganmu. Hanya sekarang peranku yang sudah berbeda," kata Nayra dengan suara lemah.


"Oh ya, ceritakan dong malam pertama kalian. Pasti seru deh." Dara tak bisa membayangkan bagaimana malam pertama Nayra dengan pria yang lumpuh. Apa yang terjadi pada malam itu. Apakah sudah terjadi hal-hal yang diinginkan?


"Husss, kamu ini bertanya yang tidak sopan! Itu rahasia," ucap Nayra.


Dara tertawa keras. Ia yakin temannya itu sudah mengalami malam pertama seperti kebanyakan pengantin baru di luar sana.


"Cieee ...." Dara menggodanya seraya menyenggol lengannya.


"Sudah lah, jangan bahas itu."


"Hm iya deh. Aku kesini mau cerita tahu. Lebih tepatnya mau curhat," ujar Dara. Temannya ini memang sering menumpahkan segala keluh kesahnya pada Nayra.


"Curhat apa? Soal cowok?" tebaknya dan dibalas anggukan oleh Dara.


Nayra menghela napasnya. Jika sudah begini, itu artinya kupingnya harus siap mendengar ocehannya sepanjang rel kereta api.


"Kamu pernah lihat kan, sopir baru nyonya Rhianna?"


Uhuk.


Uhuk.


"Sopir baru? Yang tadi mengantarkan mama Rhianna?" tanyanya memastikan. Dara mengangguk dengan senyum lebarnya.


"Frans? Dara menyukai Frans?"


Hatinya serasa panas mendengar Dara mengagumi Frans. "Biasa saja. Banyak yang lebih tampan darinya," jawab Nayra.


"Iya memang dia tidak setampan tuan Erland. Tapi dia kelihatan macho sekali. Dan senyumannya bikin meleleh," ucap Dara lagi dengan mata berbinar-binar.


Nayra semakin panas. Ia *******-***** sprei dengan kuat.


"Cari pria lain saja. Aku lihat-lihat dia bukan pria yang baik."


Dara menggeleng. "Tidak peduli. Sekalipun dia bukan pria baik, setidaknya ia mampu meruntuhkan hatiku yang sudah lama membeku," ujarnya lebay.


Nayra merasa cemburu dan juga takut apabila Frans bisa saja berpaling darinya.


"Takkan ku biarkan!" Nayra tidak mau Frans berpaling.


Jam makan siang pun tiba, Nayra duduk di meja makan sendirian. Rasanya tidak enak jika harus makan sendiri. Lalu ia memanggil Dara dan Bi Har untuk menemaninya makan. Dengan segala paksaan akhirnya kedua orang itu menurut.

__ADS_1


"Lihatlah, Nayra sudah berbeda. Ia hanya mengajak orang terdekatnya saja." Pelayan yang lain pun iri dengan posisi Dara dan juga Bi Har. Mereka tidak diajak makan bersama.


"Nayra, yang lainnya tidak diajak makan bersama?" tanya Dara.


Sebenarnya Nayra ingin sekali mengajak semuanya makan bersama. Tapi ia masih sakit hati dengan perkataan mereka semuanya.


"Panggil saja semuanya," ujar Nayra akhirnya.


Tapi Bi Har tak mengijinkan Dara untuk memanggil pelayan yang lain. "Biarkan saja," kata Bi Har.


***


Erland memijit kepalanya yang terasa pusing. Hari ini kerjaannya menumpuk. Otaknya seakan penuh dengan berbagai macam kerjaan dan juga soal Nayra. Entah kenapa ia kepikiran dengan wanita itu. Kejadian yang membuatnya kesal saat kecerobohan Nayra saat itu di kamar mandi. Terjatuh ke badannya beberapa kali.


"Tuan, Anda kenapa?" Mario yang baru saja masuk ke dalam ruangan, merasa khawatir dengan Erland. Tuannya itu seperti merintih kesakitan.


"Dasar wanita ceroboh!" gerutunya pelan.


"Apa, Tuan?" tanya Mario yang mendengar samar-samar perkataannya.


"Aku muak dengan semua ini!!!!" Erland melemparkan berkas-berkas yang berada di atas mejanya. Kepalanya rasanya ingin pecah saat itu juga.


"Aku mau pulang!"


Erland akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah. Nayra sendirian di rumah, ia sedikit merasa khawatir. Bukan, bukan khawatir. Hanya saja dia merasa rindu. Ah, bukan juga. Dia merasa ingin melihat wajah cantiknya. Ah itu benar.


Kepulangan Erland yang tiba-tiba membuat pelayan di rumah berhamburan keluar dari persembunyiannya. Ia kira, mereka bisa bersantai-santai karna tuannya tidak ada di rumah. Tapi Erland tiba-tiba pulang secara mendadak.


"Kemana semua orang????" teriak Erland karna saat ia mau masuk tak ada yang membuka pintu. Hingga sopir lah yang membuka pintunya dan mendorong kursi roda tuannya.


"Iya, Tuan." Mereka datang dengan gugupnya.


"Kalian sedang bersantai-santai, iya??? Mentang-mentang tidak ada majikan di rumah, iya?"


Suara menggelegar dari Erland membuat Nayra yang baru saja terlelap akhirnya terbangun. Ia segera turun dari ranjang dan mencari sumber suara.


"Ti-tidak, Tuan," jawab mereka gemetar.


"Saya potong gaji kalian bulan depan sebanyak 50 persen!"


Pelayan dibuat melongo dengan perkataan Erland. Mereka hanya terima setengah dari gaji pokok mereka. Itu terlalu sedikit jika dihitung.


"Tuan, tolong jangan," kata salah seorang pelayan.


"Oh, kalian tidak mau aku potong gajinya?" Erland mengangguk pelan lalu melanjutkan perkataannya. "Baiklah, aku akan pecat kalian detik ini juga."

__ADS_1


__ADS_2