CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH

CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH
BAB 28 PENGALAMAN PERTAMA


__ADS_3

Bibirnya tak berhenti melengkungkan senyum indah. Menatap tampilan baru dari rambutnya yang sudah berganti warna tersebut. Ia meraih sisir dan mulai merapikan rambutnya.


"Nayra, kenapa masih di sini?" Dara menghampiri Nayra yang masih santai di depan meja riasnya. "Tuan Erland sudah menunggu dari tadi."


Nayra sampai terlena karna kecantikannya sendiri. Bahkan ia hampir lupa kalau hari ini ia akan berangkat ke tempat bulan madu yang telah disiapkan Rhianna.


"Kamu tidak mau berangkat?" tanya Dara melihat Nayra yang tidak antusias.


Nayra menatap Dara dengan malas, ia memutar bola matanya jengah. "Kalau tidak mau, apa kamu mau menggantikan aku?" tanyanya.


"Hm, tidak. Aku sudah ada acara sendiri hari ini," ucapnya dan seketika membuat Nayra terdiam. Sudah ia ketahui, bahwa Dara dan Frans akan pergi menonton malam ini.


Barang bawaan mereka sudah di dalam bagasi semua. Jam menunjukkan pukul 8 pagi. Pelayan berbondong-bondong berjejer di depan pintu utama, mereka mengantarkan Erland dan Nayra yang akan pergi bulan madu.


"Nayra beruntung sekali. Asal usulnya tidak jelas, tidak berpendidikan tinggi tapi bisa menjadi istri dari pria yang berkualitas." Salah satu pelayan merasa iri dan mulai membicarakan Nayra di belakang.


"Tidak tahu apa yang sudah ia lakukan dan bisa membuat nyonya Rhianna menyukainya," timpal salah satu pelayan lagi.


"Ehem." Dara ternyata sedari tadi menguping pembicaraan pelayan tersebut. Ia melipat tangannya di perut dan memandangi satu persatu wajah pelayan tersebut. "Mulut kalian gatel ya kalau gak ngomongin orang?" ketusnya kemudian. Ia memasang wajah malas dengan lirikan matanya yang tajam.


"Sok banget si kamu, Dara. Kamu di kasih imbalan apa sama Nayra, kok kamu kayaknya dekat banget sama dia. Oh apa jangan-jangan kalian berdua itu sekongkolan, mau mengincar harta tuan Erland?"


PLAK!!!


Dara mulai tersulut emosinya saat pelayan tersebut menuduhnya yang tidak-tidak. Ia menamparnya dengan keras.


"Awww ....." Pelayan tersebut tidak terima dan menarik rambut Dara. "Hey, lepas!"


"Kau yang memulai, Dara!"


Seluruh pelayan yang berada di situ langsung menyoraki keduanya. Dara tak mau kalah dan balik menjambak rambut pelayan tadi. Mereka saling tarik-tarikan.


"Lepas!"


"Awww!!!!"


Keduanya tak mau berhenti, tak ada yang mau mengalah.

__ADS_1


"Kau tadi menamparku!"


"Awwww, lepas!!!"


"Awwww!!!!"


Tak ada yang melerai keduanya. Malah mereka menyoraki keduanya dan seraya tertawa.


"Hey, apa-apaan ini!" Pria bertubuh tinggi dan tegap tiba-tiba datang. Ia berusaha melerai keduanya walau tangannya tak sengaja mendapat cakaran.


"Kalian seperti anak kecil!" teriak Frans. Suaranya yang menggelegar langsung membuat ciut keduanya.


Frans langsung menarik Dara pergi dari situ. Ia menggandengnya untuk menjauh dari sana. Dara tak berhenti menatap tangannya yang digandeng Frans, hatinya mendadak berbunga-bunga. Seakan rasa sakit rambutnya yang dijambak tak ada apa-apanya. Rasa sakit itu seakan hilang, setelah Frans menggandeng tangannya.


"Dara, kenapa kamu berkelahi dengan pelayan tadi?" tanya Frans setelah mereka berhenti di pintu samping rumah. Di sekitar situ sepi, hanya mereka berdua. Dara yang berasa ditatap Frans seperti itu mendadak kikuk. Ia berjalan agak menjauh dan memilih memandangi pemandangan luar lewat jendela.


"Dia tadi membicarakan Nayra yang tidak-tidak. Aku tidak terima," jawab Dara tak berani menatap Frans.


Frans berjalan mendekat dan menyentuh bahunya. "Membicarakan apa? Membicarakan Nayra soal apa? Eh, maksudku nona Nayra."


"Hm, mereka menuduh aku dan Nayra bersekongkol untuk mengincar harta dari tuan Erland."


"Frans ...." Dara memandanginya dengan heran.


"Iya, aku tidak terima jika kamu ikutan dituduh seperti itu," ujarnya kemudian.


Bibirnya langsung melengkung ke atas, Dara merasa terbang saat Frans ikut kesal dengan tuduhan pelayan tadi menyangkut dirinya.


"Hm, tidak apa-apa. Mereka memang tidak bisa menjaga bicaranya."


Dara tak hentinya memegang dadanya yang berdegup kencang, ia seperti mendapat sinyal yang kuat dari Frans.


"Malam nanti jadi, kan? Aku tunggu di halte ya." Frans kemudian pamit, dia memang tidak bekerja hari ini. Dia juga tidak mengantarkan Erland dan Nayra ke bandara. Rhianna menugaskan Frans untuk pekerjaan lainnya selama Erland dan Nayra berbulan madu.


***


Perjalanan yang cukup melelahkan. Mereka tiba saat matahari telah terbenam. Setelah turun dari pesawat, mereka telah dijemput oleh seorang sopir. Lalu mereka diantarkan ke sebuah penginapan.

__ADS_1


Karna Nayra merasa kelelahan, ia akhirnya ketiduran di mobil. Mungkin karna semalam ia tidak tidur nyenyak jadi kurang tidur.


Erland menghembuskan napasnya saat melihat istrinya masih tidur. Mereka sudah sampai dan Erland ingin cepat-cepat istirahat tapi Nayra belum juga bangun.


"Hey ....." Erland menggoyangkan tubuhnya, dan dengan gerakan lembut ia membelai pipinya. "Bangun, sudah sampai."


Matanya mengerjab, ia merasakan pipinya disentuh. Saat bangun ia reflek memegang pipinya.


"Tadi seperti ada sesuatu menempel di sini," tunjuknya pada pipinya.


"Apa? Cepat bangun! Aku juga mau istirahat!" Dengan bantuan sopir, Erland naik ke kursi roda. Lalu Nayra masih dengan keadaan lemas mendorong kursi roda suaminya.


Saat berada di ruang resepsionis, dua karyawan langsung keluar dan menunduk hormat. Satu karyawan pria membawa barang bawaan mereka dan satu karyawan wanita menunjukkan kamar yang telah dipesankan Rhianna.


"Jika Tuan dan Nona membutuhkan sesuatu tinggal telfon saja. Dan untuk hidangan makan malam akan kami antarkan secepatnya."


Mereka berdua mengangguk dan Nayra yang sudah sangat lelah langsung merebahkan dirinya ke atas ranjang.


"Aku ingin mandi!" teriak Erland dan langsung membuat Nayra membuka mata dan bangun seketika. Ia langsung duduk dan mengontrol napasnya sesaat.


Nayra berjalan sempoyongan karna mengantuk tapi ia paksakan untuk menyiapkan air mandi.


"Aku ngantuk sekali ....." lirihnya di dalam kamar mandi. Tak terhitung sudah berapa kali ia menguap. Setelah dipersiapkan semua, Nayra keluar. Ia pun mulai membuka pakaian yang dikenakan Erland.


Dan entah tidak fokus atau apa, ia bahkan lupa untuk menutupi sesuatu yang tak mau ia lihat. Ia membukanya langsung tanpa penutup.


Saat ia tersadar bahwa baru saja ia melorotkan celana, Nayra langsung menutup matanya


"Maaf, Tuan. Saya lupa." Pipinya langsung memerah menahan malu.


"Kenapa? Bukankah kita sekarang sedang berbulan madu. Kenapa harus ditutupi?"


Erland tersenyum penuh arti, ia tiba-tiba mendapatkan sebuah ide. Ia meraih tangan Nayra dan mengarahkannya pada area sensitifnya.


"Tuan!" Nayra merasakan sesuatu yang hangat dan halus.


"Pegang saja!" Erland langsung tertawa terpingkal-pingkal saat Nayra tersadar dan langsung menjauh pergi.

__ADS_1


"Tuan ...." Nayra sangat terkejut dan tak menyangka kalau dirinya akan memegang milik Erland. Itu adalah pengalaman pertamanya.


"Apa yang salah?" Erland masih tak berhenti tertawa, ia merasa lucu dengan ekspresi wajah dari Nayra.


__ADS_2