CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH

CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH
BAB 13 MENYUSAHKAN


__ADS_3

Nayra buru-buru datang saat mendapat laporan dari seorang pelayan atas apa yang dilihat Rhianna di kamar adiknya. Hatinya benar-benar gelisah, takut jika Alvin melakukan sesuatu yang akan mempermalukan dirinya.


Sesampainya di sana, terlihat para pelayan sedang membersihkan kamar Alvin.


"Ya Tuhan ...." Nayra sampai mengelus dada. Terlihat pelayan membawa sampah-sampah dan pecahan lampu tidur yang sudah tak berbentuk. Sepertinya jatuh ke lantai.


"Adikmu benar-benar menyusahkan," gerutu seorang pelayan yang umurnya lebih tua darinya.


"Alvin, ada apa dengan dirimu?" Terdengar bunyi percikan air dari dalam kamar mandi. Tak bisa sabar, Nayra mengetok pintunya menyuruh adiknya untuk segera keluar.


Ia terduduk di ranjang dengan wajah merah padam. Adiknya tidak seperti ini. Ini bukan perbuatannya. Ia yakin, Alvin adalah adik yang baik dan penurut.


"Alvin, bisa jelaskan dengan apa yang terjadi hari ini?"


Pria remaja itu menatap cermin dengan gerakan menyisir rambutnya yang basah. Sesekali ekor matanya melirik sang kakak yang duduk tak jauh darinya. Wajah sendu kakaknya membuat hatinya berdenyut sakit.


"Aku tidak betah di sini," katanya dengan suara tak bersalah. Nayra bangkit, lalu menatap tajam adiknya yang sudah beranjak dewasa.


"Lalu kamu sengaja melakukan ini semua?" Nayra menghembuskan napas kasar. Lalu melanjutkan perkataannya lagi. "Apa tidak ada cara yang lain? Kakak benar-benar ma—"


"Malu? Lebih malu memiliki adik seperti aku dibanding masih berhubungan dengan pria lain dengan status sudah menikah?"


DEG.


Kata-kata Alvin begitu menusuk hatinya. Darimana remaja itu menemukan kata-kata seperti itu. Apa yang ia tahu tentang urusan orang dewasa?


"Alvin, kamu jangan mencampuri urusan Kakak."


"Kakak juga jangan mencampuri urusan aku!" Alvin tak mau kalah, ia balik menatap tajam kakaknya. Yang ia sadari, ada perubahan yang jelas dari kakak tersayangnya itu.


"Sudahlah. Kakak minta kamu temui mama Rhianna. Minta maaf padanya sudah membuat rumah ini berantakan. Dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi."


Alvin membuang muka, ia mengangkat sedikit sudut bibirnya seakan mengejek.


"Nayra, sudah jamnya makan siang tuan Erland." Bi Har datang membawa nampan yang berisikan makanan. Memang sedari tadi pagi Nayra tak pergi dari kamar adiknya. Sedangkan Alvin pergi entah kemana. Ia tidak berangkat sekolah dan pergi keluar. Sudah berusaha mencegahnya, tapi ia pun kalah dengan tenaga adiknya.


"Iya, Bi."


Hari ini Erland tidak ke kantor. Karna Rhianna tidak mengijinkannya.

__ADS_1


"Apa masih sakit?" Nayra menyentuh kakinya pelan.


"Apa kamu mengejekku? Aku lumpuh," katanya tegas. "Mana ada kaki lumpuh bisa merasakan sakit," katanya lagi.


"Ya kemarin kamu merintih kesakitan," jawabnya suara kesal.


"Aku jatuh dari kursi roda. Apa itu tidak sakit menurutmu?"


Tak mau memperpanjang perdebatan Nayra memilih diam. Ia mengambil bubur yang telah disiapkan pelayan dan mulai menyendokkan ke mulutnya.


"Apa kamu mau membunuh lidahku? Itu masih panas!" teriaknya membuat Nayra kaget.


"Oh, Maaf," cicitnya.


Hingga suapan terakhir, Erland begitu lahap. Nayra jadi penasaran seperti apa rasa bubur buatan pelayan. Saat mangkok buburnya sudah kosong, Nayra membawanya ke dapur. Dan kebetulan di sana ada Bi Har.


"Bi, apa masih ada sisa bubur yang dibuat untuk suamiku?"


Bi Har tersenyum singkat, telinganya sedikit menggelitik saat Nayra mengucapkan kata suamiku.


"Masih, Nayra. Apa kamu mau?"


Nayra langsung menganggukkan kepalanya. Aroma buburnya membuat perutnya keroncongan.


Baru saja menyuapkan satu sendok ke mulutnya, ada saja yang mengganggu.


Cepat-cepat ia ke kamar dan terlihat Erland yang sedang santai menikmati angin yang datang lewat jendela.


"Tuan membutuhkan apa?" Erland meliriknya sekilas lalu membuang muka lagi.


"Pergi!" usirnya kemudian. Tapi Nayra tetap diam di tempat. "Apa kamu tuli?"


Entah hinaan ke berapa yang ia terima selama ini. Nayra masih bisa bersabar.


"Tuan boleh tidak menganggap ku sebagai istri. Tapi setidaknya Anda menghargai aku sebagai mantan pelayanmu."


Erland tertawa, benar-benar tak tau malu wanita di hadapannya ini.


***

__ADS_1


Alvin keluar bersama teman-temannya. Sejenak melepas penat. Ia tidak tahu apa yang ingin ia lakukan sekarang. Kakak yang bisa digunakan untuk bersandar nyatane kini berubah.


"Alvin, aku dengar kakakmu nikah dengan pria kaya. Enak dong sudah punya uang yang berlimpah," sindir teman Alvin. Dan yang lain tertawa mendengarnya.


"Aku muak tinggal di rumah mewah itu. Aku ingin tinggal di rumahku sendiri," kata Alvin membuat teman-temannya terkejut.


"Dikasih tempat tinggal enak ditolak!" Teman-temannya berusaha membujuknya. Tapi sepertinya Alvin sudah matang dengan keinginannya.


Suasana malam yang ia rasakan sehari-hari, tak ada suasana yang tenang. Yang ada hanya ketegangan.


"Tuan, Anda tidak tidur?" Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tapi Erland masih memegangi laptopnya. Sibuk, dengan sesekali memencet keyboard.


Tak ada jawaban dari Erland. Nayra pun memilih menggelar karpetnya dan beranjak tidur. Tapi matanya sesekali menatap jam dinding yang tak berhenti berdetak.


Adiknya belum pulang, tapi ia tak merasa khawatir karna temannya sudah memberitahu. Beruntung temannya itu masih peduli untuk memberitahukan dirinya tentang keberadaan Alvin.


TAK!


Terdengar bunyi yang dihasilkan pada meja nakas. Erland ternyata sudah selesai mengerjakan sesuatu di laptop.


Matanya melirik pada Nayra yang tidur di bawah. Terkadang ada rasa kasihan, tapi bukan Erland jika tidak kejam.


"Matikan lampu!" perintahnya dan seketika Nayra beranjak bangun walaupun sebenernya ia sudah memejamkan mata dan sebentar lagi akan terlelap.


"Baik, Tuan," jawabnya.


Lampu kamar sudah mati, tinggal ada lampu tidur berukuran kecil di atas meja.


Nayra sudah meringkuk di atas karpet dengan selimut tebal membungkus tubuhnya yang mungil.


Malam-malam dilalui sebagai sepasang pengantin tak ada yang istimewa. Mereka seperti masih layaknya tuan dan pelayan.


Entah kenapa hingga tengah malam, mata Erland sulit terpejam. Ia menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan Nayra yang tidur di bawahnya. Matanya tak berhenti menatap istrinya yang sudah terlelap.


"Apa alasanmu mau menikah denganku?" tanyanya dalam hati.


Sebagai pria yang lumpuh dan banyak kekurangan, ia merasa tak pantas bersanding dengan siapa pun. Untuk apa memiliki pasangan jika selalu menyusahkan?


Kelumpuhan ini memang bukan kemauannya. Ini sudah takdir. Juga takdirnya menikah dengan Nayra. Gadis yang sangat dipercayai oleh Mamanya-Rhianna. Entah apa yang disukai Rhianna tentangnya. Mulutnya tak berhenti memuji Nayra yang dinilai mamanya wanita yang sangat baik dan penurut.

__ADS_1


"Mama suka dengan Nayra. Dia gadis yang baik dan penurut. Juga polos dan lugu." Itu yang sering diucapkan mamanya.


Erland tak bisa menolak saat Rhianna memintanya untuk menikah dengan Nayra. Karna surat wasiat dari papanya yang mengharuskan dirinya segera menikah untuk memiliki semua warisan yang papanya miliki.


__ADS_2