
"Maafkan Mama ya, sudah mengganggu waktu bulan madu kalian. Mama hanya khawatir karna mendapat kabar bahwa kamu dilarikan ke rumah sakit." Saat ini mereka sedang di sebuah restoran. Sarapan bersama di satu meja. Tapi tanpa ada Frans, karna pria itu memilih untuk duduk di meja terpisah.
"Aku bukan anak kecil, Ma." Erland menjatuhkan sendoknya dan menatap Rhianna. Mamanya itu juga membalas tatapannya.
"Iya, maafkan Mama, Erland." Rhianna tahu bahwa Erland tampak kesal karna mamanya selalu saja berlebihan. Apalagi tadi pagi ia menyadari bahwa mamanya itu melihat dirinya dan Nayra dalam satu selimut bersama. Hal yang memalukan dan juga membuatnya tak nyaman.
"Mas ...." Nayra menyentuh tangannya dan mencoba meredamkan amarahnya. Perlakuan Nayra pada Erland tak luput dari pengawasan Frans yang sedari tadi menahan geram.
BRAKK!
Suara kursi jatuh membuat mereka langsung berpaling. Frans tampak sedang membenarkan posisi kursi yang sempat terjatuh itu. Dan ia langsung pergi entah kemana.
Nayra terus memandangi kepergian Frans, ia paham bahwa lelaki itu pasti sedang marah.
"Mama akan langsung pulang kok. Jadi, habiskan makananmu dan lanjutkan bulan madu kalian."
"Kenapa buru-buru, Ma? Kita bisa pergi ke suatu tempat dulu. Pemandangan di sini bagus-bagus loh, Ma," ucap Nayra membuat Erland langsung menatapnya tak suka.
"Tidak, Nayra. Mama juga harus ke kantor, selagi Erland di sini gak ada yang menghandle kantor."
Nayra jadi tidak enak sendiri melihat ibu dan anak itu saling dingin. Apalagi Erland yang tak mencegah ibunya pergi, ia hanya diam saja.
"Kita pulang saja, Nayra," kata Erland tiba-tiba. Suaminya itu malah mengajaknya untuk pulang saja.
"Erland, kan belum habis waktu bulan madu kalian. Jangan pulang dong. Iya Mama tahu, Mama salah. Tapi apa harus kalian pulang hari ini juga? Erland ...."
Nayra dan Rhianna hanya bisa saling pandang, apalagi Nayra yang tak berani untuk melawan suaminya. Ia hanya diam sembari mengangguk saat Erland mengajaknya untuk pulang.
Tapi di sisi lain juga ia sedang berpikir dan menyiapkan segala jawaban dari pertanyaan yang pasti akan Frans tanyakan padanya.
"Kamu semangat banget kayaknya mau pulang. Apa kamu memang sudah tidak mau di sini lama-lama?" Tangannya terhenti saat hendak menutup koper. Ia langsung menoleh ke arah suaminya.
"Saya hanya menuruti perintah Anda, Tuan."
BUGH!
Erland melemparkan bantal ke arahnya dan dengan reflek Nayra menerimanya.
__ADS_1
"Hilangkan panggilan Tuan Tuan dan Tuan. Aku muak mendengarnya!"
"Lalu saya panggil dengan sebutan siapa?"
"Terserah!" serunya kemudian.
"Ini manusia emang berubah-ubah sekali moodnya," gerutunya dalam hati.
***
Suara deru mesin mobil terdengar beruntun. Satu persatu mobil masuk ke halaman rumah yang megah itu. Segala pasang mata tak lepas memperhatikan siapa saja orang yang keluar dari mobil mewah tersebut.
"Lihat tuh Nayra, gaya udah seperti majikan besar. Baju yang bagus, rambut yang indah dan juga—"
"Suami yang tampan," serobot teman di sebelahnya.
"Jangan iri!" sentak Dara yang berada di dalam kerumunan pelayan-pelayan tersebut. "Jangan cari masalah ya, atau kalian akan dipecat!" ancamnya kemudian.
Pelayan-pelayan itu langsung lari ke belakang. Menghindar dari serangan Dara yang seakan ingin melahap mereka habis-habis.
Tidak kebanyakan pelayan lain yang tak henti memandangi Erland dan Nayra, kini fokus Dara hanya pada pria yang berdiri tegak di belakang Rhianna. Tapi sedari tadi ia memandang, pria itu tak juga matanya bergerak ke arahnya membuatnya merasa gemas.
"Dara ...." Nayra berlari menghampiri Dara dan memeluknya sebentar. Dan ia malah menarik Dara masuk ke dalam rumah. Padahal Dara ingin menghampiri Frans, tapi akhirnya ia mengikuti langkah Nayra.
"Enak ya .... Habis bulan madu," godanya kemudian.
Bukannya memasang wajah bahagia, Nayra malah memasang wajah yang lesu. Ia duduk dan bersandar di kursi taman belakang. Pandangannya lurus kedepan menghadap rerumputan yang sudah panjang. Tampaknya rumput itu dibiarkan tumbuh tinggi.
"Hey! Kenapa melamun!" tepuknya pada pundak Nayra dan wanita itu langsung memandangnya.
"Dara, bagaimana hubungan mu dengan Frans?" tanyanya membuat Dara sedikit terkejut. Tapi tiba-tiba senyumnya merekah saat mengingat momen indah bersama Frans.
"Lancar, Nay. Makasih ya. Berkat kamu, aku bisa jalan berdua dengan Frans. Menghabiskan waktu bersama dalam sehari. Duhhhh, pokoknya senang banget, Nay. Aku baru kali ini merasakan namanya jatuh cinta yang jatuhnya berkali-kali," cerocosnya panjang lebar membuat Nayra sedikit tertawa.
"Aku ikut senang dengarnya, Dara," ucapnya. Tapi ia seakan terkejut dengan perkataannya sendiri, kenapa ia bisa mengatakan itu pada Dara. Kenapa ia ikut senang tanpa ada rasa cemburu?
"Nayra ...." Suara Rhianna memanggil, Nayra lekas pergi tanpa berpamitan dengan Dara.
__ADS_1
"Hmm, sayangnya aku harus bersaing dengan wanita pujaan hatinya, Nay."
FLASHBACK ON
Satu cup es krim rasa coklat akhirnya berhasil digenggamnya setelah mengantri panjang seperti ular.
"Terima kasih ya, Frans." Dara tak henti tersenyum saat berduaan dengan Frans.
"Dara."
"Iya," jawabnya cepat.
"Aku ingin mengatakan suatu hal ke kamu."
Dara langsung mengangguk merasa penasaran sekaligus deg-degan.
"Aku harap kamu jangan salah paham dengan apa yang sudah terjadi hari ini. Aku menyetujui jalan dengan kamu hari ini karna aku tidak enak menolak permintaan nona Nayra. Sebenarnya aku sudah memiliki seorang wanita yang sangat aku cintai. Walaupun saat ini hubungan kita sedang ada suatu problem."
Dara tercengang mendengar pernyataan dari Frans, ia bahkan tak sadar es krim digenggaman tangannya terus meleleh.
"Es krimnya mencair, Dara!" Frans berusaha memberitahu.
Dara langsung berbalik dengan mata yang berlinang. Dengan mata hampir menangis, ia memaksakan untuk memakan es krim itu.
"Dara ....." panggilnya kemudian.
Dara hanya mengangguk dan memakan es krim itu hingga habis dengan posisi membelakangi Frans.
FLASHBACK OFF
TES!
Teringat itu air matanya menetes. Tapi bukan Dara namanya jika dia lemah. Dia harus bangkit dan mengejar cintanya pada Frans. Pria pujaannya itu mengatakan bahwa sedang ada problem dengan wanita itu, jadi ini kesempatan buatnya untuk mengisi hatinya yang sedang gundah.
"Dara!" Saat ia mau masuk ke dalam ruang dapur, tak disangka ia malah berpapasan dengan Frans. Lelaki itu sedang memegang gelas berisi air jeruk dan tepat dibelakangnya ada Nayra yang membawa jus jeruk diatas nampan. Tampaknya jus jerus itu akan diberikan untuk Erland yang memang menyukai jus itu.
"Mau? Ini nona Nayra membuatkan lebih dan ia memberikannya padaku,", tawarnya dan tanpa basa-basi Dara langsung menyerobot minuman itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Frans. Kamu tahu sekali kalau aku sedang haus," ucapnya seraya curi-curi pandang ke arah Frans yang tak henti menatapnya dengan heran.