CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH

CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH
BAB 15 KEMARAHAN NAYRA


__ADS_3

Nayra masih terduduk lemas di atas ranjang milik Dara. Masih shock karna Alvin meninggalkan rumah. Jika begini, berarti ia harus atur waktu untuk datang ke rumahnya sembari melihat Alvin.


Ia mengusap sisa-sisa air matanya dan berjalan keluar. Menutup pintu dan sekilas menoleh ke kanan dan ke kiri. Sebenernya tidak apa-apa, jika ada yang memergokinya di kamar Dara, hanya saja ia malas jika ada yang menanyainya. Malas hanya sekedar menjawab keingintahuan orang lain.


Langkahnya semakin dekat pada kamar, hingga ia bisa melihat Dara sedang berdiri tak jauh dari ambang pintu. Temannya itu menoleh ke arahnya, saat menyadari ada langkah kaki mendekat.


Dara mengedipkan kedua matanya seperti memberi isyarat atau pun pertolongan.


"Kenapa kamu masih disitu?" tanya Nayra dengan mulut tanpa suara. Tapi Dara hanya mampu menggerakkan kepala dan juga matanya.


Nayra masuk, dan mendapati Erland yang baru saja menyelesaikan makanannya. Melihat piring kosong, ia tersadar bahwa dirinya belum makan. Tiba-tiba perutnya berbunyi. Terdengar jelas, karna suasana sedang hening. Keduanya menatap Nayra bergantian. Seperti menyadari akan sesuatu.


"Kamu lapar, Nay?" Suara Dara pelan tapi masih bisa terdengar jelas.


"Kamu keluar!" Belum juga mendapat jawaban dari Nayra, Dara sudah diusir. Saat Dara sudah keluar dari kamar, Nayra cepat-cepat menutup pintu.


"Darimana saja kamu?" tanyanya dengan suara tak ramah. Matanya menatap tajam Nayra yang hanya bisa menunduk. Tidak tahu bahwa istrinya baru saja menangis karna bersedih adiknya memilih pulang ke rumahnya sendiri.


"Maaf, Tuan. Saya habis dari belakang," jawabnya dan refleks memegang perut. Semakin lama ia menahan lapar, semakin perih perutnya dirasa.


"Pergi kamu sekarang!" usirnya.


Nayra mengangkat kepala dan menatap suaminya yang sedang mengayunkan tangan seperti mengusirnya cepat.


"Kenapa saya diusir, Tuan. Apa—"


"Pergi kamu!" bentaknya.


Nayra menghela napasnya, sebelum pergi ia tak lupa membawa piring kosong itu untuk dibawanya ke dapur. Memprediksi mood suaminya memang ia tak bisa. Erland susah ditebak.


"Baiklah, kamu mengusirku ya sudah. Aku makan saja." Lauk-pauk masih tersaji banyak di atas meja makan. Nayra melahap makanan sendirian di sana.

__ADS_1


"Suaminya makan di kamar. Istrinya makan di sini." Nayra mendengar itu, tapi ia pura-pura acuh. Entah seberapa lama mulut-mulut mereka berhenti membicarakan soal dirinya.


"Tidak seperti layaknya pasangan suami istri. Masih mirip seperti majikan dan pembantu," timpal pelayan lain.


Kupingnya serasa panas mendengar kalimat sindiran itu. Hampir setiap hari mereka tak henti membicarakan soal dirinya. Seolah mengejeknya dan merendahkannya.


"Level mereka memang berbeda sampai kapan pun."


BRAKKKK!!!!


"DIAMMMMM!!!!"


Nayra menggebrak meja dengan kemarahan yang luar biasa. Gebrakan tangannya mengenai meja membuat makanan diatasnya bergoyang.


"Kau! Kau! Kau! Bulan ini terakhir kalian bekerja! Setelah mendapatkan gaji bulan depan, masa kerja kalian sudah habis!" tunjuknya pada satu persatu wajah mereka yang shock. Terlihat sekali mereka tak percaya bahwa Nayra seberani itu. Bukankah selama ini Nayra hanya diam.


Nayra mengatur deru napasnya yang tak beraturan. Perasaan emosi menguasai seluruh hatinya. Tak bisa menahan lagi rasa sesak di dada. Perkataan mereka sungguh menyayat hati. Apa yang salah coba? Pernikahan mereka sah dimata agama dan negara. Kenapa mereka masih seperti tak terima?


Pelayan yang ditunjuk oleh Nayra masih terdiam. Mulut mereka kaku tak bisa berkata apa pun. Hanya sorotan mata yang iba menghiasi wajah mereka.


"Nayra, kamu bercanda, kan?" Satu pelayan membuka mulutnya dan bertanya dengan nada pelan walaupun tangannya gemetaran. Mereka bahkan lupa, Nayra juga majikan di sini. Bisa juga Nayra berhak memecat siapa pun.


Nayra mendengus kesal, ia meninggalkan piring yang masih menyisakan makanan banyak sedangkan ia memilih pergi. Menuju halaman belakang, itu tujuannya. Di sana ia duduk di atas kursi sendirian. Ingin rasanya berteriak, tapi ia takut mengganggu penghuni rumah lainnya.


"Nayra ..." Suara lembut dari wanita paruh baya sudah ia tebak siapa. Bi Har duduk di sebelahnya sambil mengusap punggungnya pelan. Beliau seolah tahu bahwa Nayra sedang tidak baik-baik saja.


"Bi Har mendengar semuanya tadi?" tanyanya setelah ia mulai bisa tenang. Debaran jantungnya tak sekencang tadi disaat marah.


Bi Har mengangguk dengan tangan masih mengusap punggungnya. Sentuhan lembut seperti seorang ibu pada putrinya.


"Bibi tahu perasaan kamu, Nayra. Siapa yang kupingnya tidak panas jika hampir setiap hari menerima omongan-omongan yang tidak mengenaki hati." Sentuhan lembut terhenti, kini Bi Har beralih menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Maaf, Bi. Nayra hanya—".


"Bibi tahu. Bibi juga sudah memberitahukan pada mereka juga memberi peringatan."


Masih teringat jelas, perkataan tidak pantas mereka yang ditujukan untuk dirinya. Tapi Nayra berusaha ikhlas.


"Aku tidak bermaksud memecat mereka. Tolong sampaikan maaf ku pada mereka." Sorot matanya melemah, ia mulai menyesal. Walau sebenarnya ini bukan kesalahannya. Tapi memutuskan rejeki orang lain, membuatnya merasa bersalah.


"Iya, Bibi tahu. Sudah ya, kamu habiskan makananmu. Sayang masih banyak." Tadinya Nayra merasa lapar sekali, tapi tiba-tiba ia merasa kenyang dan menolak ajakan Bi Har untuk kembali ke meja makan.


Nayra lebih memilih ke kamar. Menemani suaminya yang hanya bisa duduk-dudukan saja. Tapi ia tebak, pasti suaminya sedang sibuk dengan laptopnya.


Dan benar saja, saat Nayra masuk Erland sedang menghadap laptop. Bahkan sepertinya Erland tak menyadari kehadirannya. Entah terlalu fokus atau mungkin ia tak menghiraukan kehadirannya.


Walaupun Nayra tahu, tadi Erland mengusirnya tapi ia tak peduli. Saat Nayra masih memperhatikan Erland, tiba-tiba pria itu menolehkan kepalanya ke arahnya. Hingga kedua mata mereka bertemu. Tapi Nayra langsung membuang muka.


"Kamu tuli? Aku tadi menyuruhmu apa?" Nayra bangkit dan akan segera keluar kamar hingga akhirnya suara suaminya kembali terdengar. "Tetap di sini dan tutup pintu!"


Hah?


Nayra terkejut, perubahan mood suaminya benar-benar diluar dugaan. Berubah-ubah sekali.


"Aku mau keluar sebentar, Tuan. Mencari angin," kilahnya berusaha menjauh dari suaminya. Nayra tadinya bingung ingin kemana, tapi setelah dipikir-pikir lebih baik ia duduk di depan teras rumah saja. Sepertinya menyenangkan.


"Jangan banyak alasan! Tetap di sini dan kunci pintu!" perintahnya lagi dan akhirnya Nayra nurut.


Masih di atas sofa, dia duduk sembari curi-curi pandang ke arah suaminya yang fokus dengan laptopnya.


Kamar ini sebenarnya luas, hanya saja karna banyaknya perabotan jadi terkesan sempit.


Erland juga sama halnya dengan Nayra yang curi-curi pandang. Selama berminggu-minggu berdekatan dengan Nayra juga satu kamar, membuat Erland sedikit demi sedikit mengetahui karakter Nayra juga kebiasaannya. Nayra ini bisa dibilang lebih ke arah tomboy dibanding feminin. Walaupun sekarang lebih sering pakai dress karna pakaiannya yang telah Rhianna ubah setelah menikah.

__ADS_1


__ADS_2