CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH

CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH
BAB 40 ERLAND PULANG


__ADS_3

Lembaran foto yang menampilkan wajah kedua manusia yang serasi. Senyumnya tak lupa terukir sesaat melihat keduanya bersanding di pelaminan. Rhianna memeluk album foto itu dengan cairan air bening yang menetes. Dia masih tak percaya bahwa putranya telah menikah. Walau putranya sempat merasakan sakit hati akibat tunangannya yang pergi meninggalkannya.


TOK!


TOK!


TOK!


"Nyonya, tuan Erland pulang." Begitu kata seorang pelayan dengan buru-buru. Semuanya langsung berpencar ke kerjaan masing-masing. Juga pelayan yang tugasnya di dapur langsung menyiapkan makanan dengan cepat. Entah nantinya akan disuruh menyajikan makanan atau tidak, tapi mereka inisiatif menyiapkan semua.


Rhianna terkejut dengan kepulangan Erland yang tiba-tiba. Karna yang ia ketahui putranya akan pulang besok. Kenapa cepat sekali pulang dan hari masih tergolong pagi.


"Erland, kenapa kamu pulang hari ini? Katanya besok." Saat ini Erland hanya memakai kaos putih polos dengan celana panjangnya. Dia berpakaian santai hari ini.


"Aku tidak bisa jauh dari istriku, Ma. Seharusnya aku membawa Nayra kemarin untuk menemaniku di sana. Baru sehari tidak melihatnya, rinduku sudah membuncah."


Seluruh mata pelayan terlihat melotot serasa tak percaya dengan ucapan Erland yang terdengar menggelikan. Juga Frans yang berdiri di antara pelayan-pelayan itu. Tak hentinya menatap Erland yang tersenyum terus menerus.


"Erland, kamu ini bikin Mama ingin tertawa." Rhianna bersemu merah saat Erland mengatakan merindukan Nayra. Ia serasa merasakan benih-benih cinta yang sedang dirasakan putranya.


"Nayra di kamar, Ma?"


"Nona, sedang pergi, Tuan. Tadi pagi-pagi sekali nona keluar." Rhianna pun tidak tahu tentang kepergian Nayra, karna sedari pagi ia memilih untuk menghabiskan sarapan di kamar. Ia sebenarnya sedang tidak enak badan, karna itu memilih berdiam di kamar.


"Pergi bersama sopir?"


"Tidak, Tuan. Nona pergi naik taxi," jawab pelayan tersebut.


"Untuk apa ada banyak sopir di rumah ini kalau mereka tidak bekerja?" Matanya langsung menangkap Frans yang berdiri tak jauh darinya.


"Frans, kenapa kamu tidak mengantarkan istriku?" tanyanya langsung pada pria bertubuh tinggi dan tegap itu.


"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu kalau nona mau pergi." Ia menunduk meminta maaf pada Erland yang terus memandangnya.


"Tidak becus kamu kalo kerja!!" serunya membuat seluruh pelayan menatap tak percaya dengan apa yang dikatakan Erland barusan. Menurut mereka ini hanyalah masalah kecil, tapi Erland semarah itu pada Frans.


"Erland, tenanglah. Biar Mama telfon Nayra dulu. Mungkin dia sedang berkunjung ke rumahnya."


Rhianna pun kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya. Sedangkan Erland masih di tempat yang sama dengan tatapan mengarah pada Frans.

__ADS_1


"Saya ingin kalian semua yang di sini harus bersikap baik pada istriku. Tidak boleh kalian sampai membuat istriku marah atau membuatnya tidak nyaman. Jika dari kalian ada yang membuat kesalahan apalagi menyangkut soal istriku, kalian tak segan-segan saya pecat!!!!!!"


DEG.


"Tuan Erland mulai angkuh lagi," bisik seorang pelayan pada teman di sebelahnya. Ia pun mengangguk pertanda setuju karna yang mereka tahu Erland dulu sangat suka marah-marah. Dan kemarin-kemarin mulai jarang mengeluarkan emosinya, tapi sekarang mulai lagi.


.


.


Di halaman belakang, Frans yang kesal meninju udara dengan tangan kosongnya. Ia benar-benar kesal dengan sikap Erland barusan. Bosnya itu memarahinya tepat di hadapan orang banyak. Membuatnya sangat malu sekali.


"Kurang ajar!!!!!!" geramnya dengan emosinya yang menggebu. Ia juga merasa kesal saat dirinya mendengar kata rindu yang terlontar dari mulut bosnya itu. Erland mengatakan bahwa sangat merindukan Nayra, membuatnya ingin rasanya menghabisinya.


"Frans ...." Suara yang familiar membuatnya menoleh. Ternyata Dara datang dengan membawa segelas air dingin berwarna itu. Perlu diakui, Dara memang sangat perhatian berbeda dengan Nayra yang terkesan cuek.


"Terimakasih, Dara." Frans menerima minuman itu dengan senang hati.


Mereka duduk berdua di halaman belakang. Tanpa ada yang tahu bahwa mereka berdua di sana. Tempat duduk mereka kebetulan tertutup oleh jemuran yang ada.


.


.


.


Tapi saat ia sudah di depan pintu, ia berhenti seraya memegangi kepalanya yang kembali berputar. Dengan tangan kanan masih memegang knop pintu, ia seperti meringis kesakitan.


"Kenapa tidak masuk?" Erland seketika langsung membuka pintu membuat Nayra terkejut. "Tidak mau masuk?" Nayra masih terdiam dengan kepalanya yang masih sedikit pusing. Tapi ia mencoba biasa saja dihadapan suaminya.


"Ayo ...." Erland menarik tangan istrinya untuk masuk ke dalam kamar. Nayra disuruh duduk dan Erland langsung mengetikkan sesuatu di ponselnya.


TOK!


TOK!


TOK!


"Masuk ...."

__ADS_1


Pelayan datang dengan membawa sesuatu di tangannya. Jumlahnya ada tiga pelayan. Dengan masing-masing membawa bawaan yang berbeda.


"Silahkan, Tuan, Nona." Pelayan tersebut menyajikan banyak makanan. Terdiri dari makanan pembuka sampai penutup.


Nayra merasa aneh dengan sikap Erland kali ini. Suaminya itu seakan berubah 180 derajat.


"Aku sudah makan. Tadi di—"


"Ssstttt. Makanlah walau sedikit, hargai masakan pelayan," ujarnya kemudian.


"Kesurupan setan apa ini orang?"


Nayra sampai geleng-geleng kepala. Dia tak pernah diperlakukan seperti ini oleh Erland. Bahkan dirinya lah yang sering disuruh-suruh oleh suaminya itu.


Hidangan penutupnya ternyata ada roti bakar. Melihatnya itu membuat air liurnya seakan menetes.


"Aku makan ini saja." Nayra memilih untuk memakan roti bakar tersebut. Karna semua makanan yang dibawa, tidak menggugah seleranya.


Padahal saat tadi pulang, Nayra takut dimarahi karna sudah pergi tanpa ijin. Tapi nyatanya ia pulang malah diratukan seperti ini.


Dan saat mengunyah roti bakar itu, ia teringat akan kartu atm yang ia pakai untuk membayar operasi Paman Leo.


"Apa aku katakan saja kalau aku habis pakai atm ini untuk membayar biaya operasi Paman? Tapi, aku takut kalau ujung-ujungnya suruh ganti."


Nayra kebingungan karna uang yang ia pakai sangat banyak. Jika harus menggantinya, ia tak sanggup.


"20jt untuk apa? Apa yang kamu lakukan untuk uang 20jt itu? Apa alasannya?"


Sama halnya dengan Nayra, ia pun tak berani untuk menanyakan itu.


"Tuan, sebenarnya Anda memberikan atm ini untuk apa? Apa saya boleh menggunakan atm ini untuk apa saja?"


Mendengar pertanyaan dari istrinya membuat dirinya ingin tertawa.


"Apa yang harus kau tanyakan lagi? Jelas-jelas kau sudah menghamburkan uangku. Dasaaaarrrr!!!!"


Entah apa tujuan Nayra menanyakan itu. Itu membuatnya bertambah marah, tapi ia berpura-pura untuk selalu bersikap baik.


"Atm itu untukmu. Setiap bulan selalu aku isi dan kau bebas menghabiskan untuk apa," kata Erland.

__ADS_1


Nayra hanya mengangguk singkat dan menyimpan atm itu lagi. Kini yang jadi pertanyaan kenapa Erland jadi berubah seperti ini? Dia lebih bersikap tenang sekarang.


__ADS_2