
Hingga tiba esok hari. Dimana langit berubah cerah. Pria itu bangun lebih dulu walaupun semalam ia tidur terlambat. Bisa dihitung hanya berapa jam saja ia tertidur.
Dulu saat masih sehat, Erland akan turun dari ranjang lalu berjalan kaki menuju jendela. Membuka tirai gorden dan membuka pintu jendela. Lalu angin pagi yang menyegarkan membuatnya betah berlama-lama disitu.
Tapi, kini ia tak bisa merasakannya lagi. Dinginnya lantai, panasnya jalanan aspal, ia tak bisa merasakannya dengan kaki telanjang. Ini sudah takdirnya, sudah jalan hidupnya. Perlu yang ia syukuri adalah sifat asli Stella yang tak benar-benar tulus mencintainya.
"Tuan, ingin turun?" Suara Nayra mengagetkan Erland yang sedang menatap pada jendela yang masih tertutup. Ia menoleh, dan mendapati Nayra sudah berdiri tegak. Ia membereskan tempat tidurnya dan menarik kursi roda.
Nayra membantu Erland duduk di kursi roda, hingga tubuh pria itu telah nyaman di atas sana.
"Saya siapkan air mandi untuk Tuan dulu."
Erland mendorong kursi rodanya sendiri. Ia berjalan keluar kamar.
"Kamu mau kemana, Erland?" Rhianna kebetulan lewat, beliau sudah memakai pakaian formal. Bunyi sepatu heels terdengar menggema.
"Mama yang mau kemana?" tanyanya balik.
"Sudah pasti Mama mau ke kantor, Erland," jawabnya kemudian.
"Nyonya, mobilnya sudah siap." Frans melirik Erland yang juga ternyata menatapnya sedari tadi. "Pagi, Tuan Erland," sapanya ramah dengan senyuman setulus mungkin.
Rhianna memanggil pelayan untuk mengantarkan Erland ke kamarnya, sedangkan dia buru-buru pergi karna ada meeting pagi.
"Tuan, Anda habis kemana?" Nayra yang baru keluar kamar mandi terkejut melihat Erland diantarkan oleh pelayan.
Wanita itu menghela napasnya, berbicara dengan Erland seperti bicara dengan patung. Tak mau mengajaknya berbicara, ia mulai melakukan tugasnya. Melucuti pakaian suaminya satu persatu. Lalu membawanya masuk ke dalam bath up.
"Tuan, saya tinggal sebentar ya," ucapnya dan berlalu pergi.
KLONTANG!
Belum mencapai pintu, Nayra terkejut mendengar suara barang jatuh.
"Tuan, Anda tidak apa-apa?" Nayra kembali ke sana dan mendapati botol sabun yang sudah berada di lantai. Sepertinya suara tadi berasal dari benda ini.
Erland hanya diam, entah kenapa sedari tadi hanya diam. Biasanya Erland akan menjawab dengan nada tinggi. Tapi sepertinya hari ini tidak.
__ADS_1
Sosok pria remaja pulang ke rumah dengan pakaian kusut. Ia berjalan gontai dan memberhentikan langkahnya tepat di depan Rhianna.
"Hallo, Tante," sapanya dengan wajah tak ramah.
"Alvin! Dari kemarin kamu kemana aja?" tanya Rhianna. Melihat penampilan Alvin kali ini sungguh berbeda dari pertama kalinya Rhianna melihat sosok Alvin.
"Aku mau mengemasi barang-barang ku, Tante. Permisi." Pria remaja itu berjalan melintasi Rhianna begitu saja. Lalu ekor matanya melirik dimana Frans berada.
"Loh memangnya kamu mau kemana, Alvin?" Bukannya menjawab, bocah ingusan itu malah pergi.
Rhianna sebenarnya penasaran ada masalah apa antara adik kakak itu. Pasti ini ada sangkut-pautnya sesama saudara.
"Alvin ...." Ingin rasanya menyusul Alvin tapi Rhianna tak punya banyak waktu. Ia harus segera ke kantor.
Alvin membuka tas besar yang kosong. Ia mulai memasukkan barang-barang bawaannya. Ini sudah keputusan bulat, bahwa Alvin memilih untuk tinggal sendiri saja.
Tak mau membuang banyak waktu, ia memilih menuliskan sebuah surat saja untuk kakaknya.
[Kakak, maaf aku harus pergi sekarang. Aku tidak nyaman tinggal di sini. Aku sudah terbiasa tinggal di rumah mendiang Ayah dan Ibu. Jadi, jika aku rindu bisa mengingat momen kebersamaan kita dulu. Tidak usah khawatirkan aku. Doakan aku tetap baik- baik saja]
"Kenapa, mau pergi? Ga terbiasa tidur di rumah mewah?" sindir seorang pelayan yang tak sengaja lewat di depan pintu.
"Tuan, Anda tidak diperbolehkan pergi. Ini atas perintah Nyonya Rhianna," ujar Pak Satpam.
Alvin pun kebingungan, tapi saat ia sedang memikirkan itu tiba-tiba Pak Satpam menyahut kembali.
"Kecuali jika Tuan Alvin mau diantar sopir, baru bisa keluar."
Alvin akhirnya pasrah saja. Daripada ia tak bisa keluar, mending ia iya-in aja perintah dari Rhianna.
Saat Alvin sudah pergi, Nayra masih berdiri di samping Erland yang sedang mandi. Pria itu terus menyabuni tubuhnya. Lama sekali. Ini adalah mandi terlama selama Nayra menemaninya mandi.
"Tuan, Anda tidak kedinginan?" Sedari tadi Nayra berusaha membujuk, tapi Erland lagi-lagi diam. Nayra sampai menggerutu dalam hati.
Saat Erland mau menyudahi mandinya, Nayra tak tega melihat tangannya yang keriput karna kelamaan di dalam bath up.
"Ambilkan makanan, cepat!"
__ADS_1
Nayra langsung lari tergopoh-gopoh menuju dapur. Ia juga merasa lapar karna belum makan.
"Nayra, tunggu!" teriak Dara sambil membawa sebuah kertas.
Langkahnya terhenti dan menatap sahabatnya itu.
"Ada apa? Ada hal yang perting?" tanyanya. Tiba-tiba tangannya ditarik menuju kamarnya. "Dara! Aku tidak bisa lama-lama. Nanti mas Erland akan marah."
Dara menggenggam erat tangan Nayra, lalu menatap matanya berusaha menembus kornea mata milik dirinya.
"Ini ada surat dari Alvin. Aku menemukan ini saat ingin membersihkan kamar adikmu."
Hati Nayra berdegup cepat. "Adikku mana? Sudah pulang dia?"
"Kata pelayan sudah pergi sambil membawa satu ransel besar. Coba buka apa isinya." Nayra melirik ke arah kanan-kiri. Ia kemudian membuka lipatan kertas itu.
Saat dibuka dan dibaca isinya, membuatnya lemas tak berdaya. Ia terduduk di atas ranjang milik Dara. Dara seketika langsung menenangkan Nayra. Membawanya dalam pelukan.
"Adikku tidak seperti ini. Dia anak yang penurut," kata Nayra yakin tak mau perubahan dari diri adiknya.
Matanya mulai memerah, tangisnya akan pecah. Tapi lalu ia teringat akan suatu hal. Erland meminta makan. Jika ia kembali dengan waktu yang cukup lama, ia pasti akan dimarahi habis-habisan.
"Nayra, adikmu mau mandiri. Biarin aja sih," ucap temenku.
Nayra sedih tak biasa mengawasi gerak gerik adiknya dengan bebas karna tak tinggal satu atap lagi.
"Dara, tolong antarkan makanan ke kamar mas Erland," perintahnya.
Dara sebenarnya tak mau, ia juga takut kena semprot. Tapi daripada tuannya kelaparan, Dara akhirnya mengalah. Ia mulai menyiapkan makanan untuk Erland.
Sebelum melangkah, Dara berkali-kali mengembuskan napasnya dengan kasar. Lalu berdoa dalam hati, semoga Erland tidak bersikap yang menyebalkan.
"Ini, Tuan. Makanannya." Dara kemudian pamit keluar.
"Siapa yang menyuruhmu keluar?" Erland akhirnya mau membuka suara.
"Tidak ada, Tuan," jawabnya seraya menunduk.
__ADS_1
"Tetap disini sampai temanmu itu datang," kata Erland.
Dara bingung, akankah Nayra datang saat ia masih ada di sini. Atau mungkin Nayra di sana menunggu sampai Dara kembali.