CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH

CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH
BAB 21 TENGAH MALAM


__ADS_3

Dara masih menatap temannya itu dengan penuh tanda tanya.


"Apa yang kamu pikirkan? Aku tidak mengenal Frans!" kekeh Nayra.


Memang saat ia melihat sosok pria dan seorang wanita sedang berduaan di halaman belakang terlihat tidak begitu jelas. Bahkan ia tak menyadari bahwa itu adalah Nayra. Tapi ia memutar kembali memorinya dan jelas-jelas ia melihat tangan Frans dan wanita itu saling berpegangan. Tadinya Dara kira Frans sedang bersama seorang pelayan wanita yang bekerja di rumah, ia bahkan sudah siap-siap melabrak pelayan itu yang bisa-bisanya berduaan dengan pria pujaan hatinya.


"Kamu suka dengan Frans, kan? Aku akan membantumu," ucap Nayra kemudian yang membuat sudut bibir Dara terangkat. Wajahnya berubah sumringah dan mengangguk bersemangat.


"Iya, Nayra. Aku butuh bantuan mu," jawabnya girang.


"Karna dia sopir mas Erland, aku memang terkadang ngobrol sedikit dengannya. Jadi, kemungkinan aku bisa menanyakan apakah dia sudah punya kekasih apa belum."


"Ahh kamu memang temanku yang paling baik sedunia," pujinya berlebihan.


Hatinya sedikit lega. Setidaknya membuat Dara tidak curiga sudah membuatnya tenang. Walau ia rasanya menyesal mengatakan ingin membantu Dara agar bisa dekat dengan kekasihnya. Ada sedikit rasa sesak di dalam dadanya.


"Tuan, Anda belum tidur?" Terlihat Erland yang masih duduk di kursi rodanya. Ia pikir pelayan sudah membawanya ke ranjang. Tapi suaminya itu masih betah di atas kursi rodanya.


Nayra membantunya untuk naik ke ranjang. Saat ia berusaha mengangkat tubuhnya, sesuatu yang berada di sakunya terjatuh. Erland langsung mengambil benda itu dan langsung menatap Nayra.


"Itu dari mama. Aku disuruh mencobanya besok pagi. Mungkin karna tadi aku muntah-muntah. Padahal aku memang tidak suka seafood," jelasnya panjang lebar.


"Ya sudah, coba saja besok dan berikan hasilnya pada mama," ucap Erland dan langsung menarik selimutnya.


"Apanya yang dicoba? Hasilnya sudah pasti negatif," kata Nayra. Baginya ini adalah sebuah lelucon.

__ADS_1


"Kamu mau hasilnya jadi positif?" tanya Erland kemudian.


Wajahnya langsung memerah, apalagi melihat Erland yang terus menatapnya tanpa henti. Kedua mata suaminya itu menyelusuri seluruh bagian tubuhnya, Nayra langsung berdiri dan berlari ke dalam kamar mandi.


"Apa yang ia katakan barusan?" Nayra mendekap tubuhnya dengan erat. Ia merasakan jantungnya berdebar dengan kencang.


Sentuhan air yang mengguyur wajahnya sekarang seketika meredam rasa terkejutnya. Ia menatap wajahnya di pantulan cermin. Pipinya yang mendadak merah terlihat jelas. Kedua tangannya yang basah mencoba meraba pipinya.


"Sadar, Nayra!" ucapnya seraya menampar kecil kedua pipinya bergantian.


Tak terhitung berapa lama Nayra di dalam sana, hingga akhirnya ia memberanikan diri keluar setelah ia rasa aman.


"Ya Tuhan!" teriaknya dalam hati saat kedua netranya tak sengaja bertemu dengan kedua netra milik suaminya. Erland ternyata belum tidur, ia pikir sudah.


Nayra terkejut dan langsung memalingkan wajahnya. Ia menghindari kontak mata dan memilih duduk di meja rias. Dengan berdalih memakai krim malam atau pun sejenisnya. Walaupun Nayra bukan type wanita yang sangat telaten dalam mengurus wajah.


Nayra merasa lega sekarang, ia bisa bergerak bebas tanpa ada pengawasan. Sekali lagi ia menengok ke arah suaminya, menatapnya dari jarak yang tak terlalu jauh. Ia mengamati betul wajah yang dimiliki suaminya. Tampan. Bahkan bisa dibilang sangat tampan. Itu pujian dari seorang wanita normal yang apabila melihat sosok pria sepertinya. Bukan hanya pelayan di rumah ini yang merasa kagum dengan ketampanan Erland, Nayra pun tak memungkiri. Mungkin takdir yang ia jalani sekarang menjadi ke-irian untuk semuanya, tapi mereka tidak tahu apa yang terjadi di pernikahan mereka.


Nayra hanyalah seorang istri yang sudah dikontrak. Takkan menjalani hidup bersama selamanya, melainkan hanya satu tahun saja.


Tak mau terus bersedih, Nayra memilih tidur. Masih sama dengan posisi kemarin, ia meletakkan guling di tengah-tengah.


Tengah malam, Nayra merasa ada sesuatu yang menimpa tubuhnya. Dengan rasa kantuk yang berat, ia berusaha membuka mata. Ternyata guling berada di atas tubuhnya dan juga lengan Erland bertengger di atas guling itu. Rasanya berat sekali, Nayra berusaha menjauhkan guling itu dan pergerakan itu membuat Erland terbangun.


Pria itu membuka matanya dan mereka saling bertatapan dengan jarak yang dekat.

__ADS_1


"Ma-maaf, Tuan. Ini .... Berat," ucapnya sembari menjauhkan tangannya. Bukannya menarik tangannya cepat, Erland malah semakin mendekap tubuhnya. Tangan itu memeluknya dan menggesernya lebih dekat.


"Kau mengganggu tidurku," ucapnya serak. Wajah Erland semakin mendekat dan hampir saja mereka berciuman. Tapi belum sempat terjadi, Nayra langsung menjauh.


"Tuan, sadarlah! Jangan melampaui batas. Kita kan akan berpisah setelah satu tahun," ucap Nayra.


"Siapa kamu mengatur-atur saya!" bentaknya kemudian.


Ditengah malam yang sunyi, Nayra tak bisa berkutik. Saat tangan suaminya itu menyelusuri setiap inci tubuhnya. Entah apa yang membuat Erland berbuat seperti itu. Nayra dibuat bungkam oleh ciuman panasnya. Erland sepertinya tak bisa menahan hasratnya saat berdekatan dengan Nayra setiap hari.


"Tu-tuan ...." Nayra hampir menangis, saat Erland menariknya ke atas tubuhnya. Ia tak mau itu terjadi.


Erland dengan cepat mendorongnya menjauh darinya. Piyama Nayra sudah terlepas semua kancingnya. Ia menutupi tubuhnya yang terbuka dengan tangan.


Nayra sekuat tenaga menahan isakannya. Bukannya ia tak mau melayani suami, hanya saja ia tak mau pernikahan yang hanya sebentar ini nantinya akan merugikannya.


Baju tidur milik Erland sudah tergeletak di atas lantai. Ia berusaha menutup matanya kembali agar lekas tidur.


"Tuan, baju Anda tidak dipakai?" tanya Nayra saat ia sudah merapikan bajunya kembali. Ia melihat tubuh bagian atas Erland yang polos, hanya ditutupi selimut. Tubuhnya masih hangat khas dekapan dari Erland yang lama tadi. Suaminya itu mendekapnya seperti penuh rasa, menciumi tengkuk lehernya dan juga meninggalkan tanda di berbagai titik.


Bukan manusia normal jika Nayra tak merasakan kenikmatan barusan, ia juga menikmati sekali. Tapi ia seakan tersadar akan sesuatu yang bisa saja merugikannya esok nanti.


"Tuan, apa yang Anda inginkan dari saya? Kenapa Anda seperti bukan tuan Erland yang saya kenal?"


Hingga pukul 3 pagi, Nayra masih belum terlelap. Ia masih terbayang kejadian tengah malam tadi. Dan sekian lama matanya pun berat, ia akhirnya terlelap dengan mendekap bantal dengan erat.

__ADS_1


Pagi pun datang, membawa takdir yang baru untuk dijalani manusia di bumi. Seluruh pelayan mengerjakan bagiannya masing-masing. Juga Rhianna yang tak pernah absen bangun pagi dan sibuk dengan tanaman bunganya. Ia harus menyelesaikan pekerjaan itu dengan cepat, karna ia buru-buru ingin menemui Nayra. Atas perintahnya semalam pada menantu kesayangannya itu.


__ADS_2