
Disaat Nayra membuka pintu kamar, ada sosok pria bertubuh tegap berdiri di depannya. Mereka terpaku dalam sekian detik. Wajah Nayra berubah pias karna terlalu terkejut.
"Frans ...." lirihnya.
"Tuan Erland sudah bangun, Nona? Apakah hari ini sudah bisa berangkat ke kantor? Kata nyonya Rhianna, hari ini ada pertemuan penting dengan klien," kata Frans membuat Nayra mengerti. Dia menghela napasnya sesaat dan melirik ke arah suaminya yang masih terlelap.
Para pelayan yang kebetulan melintas tak melewatkan momen ini. Mereka memandangi mereka berdua barangkali mendapatkan berita pada pagi hari.
"Suamiku belum bangun. Nanti saya coba tanyakan ke dia," jawab Nayra dan dibalas muka malasnya Frans karna mendengar Nayra menyebut Erland sebagai suami.
"Baik, Nona. Saya permisi." Frans sedikit menghentakkan kakinya kesal dan berjalan menjauh darinya. Nayra belum berpindah posisi, masih menatap punggung kekasihnya yang berlalu pergi meninggalkannya.
"Tuan, bangun ...." ujarnya dengan tepukan pelan di lengannya.
Erland menggeliat, ia mulai membuka kelopak matanya. Dan yang ia lihat pertama kali adalah wajah Nayra yang polos.
"Ada apa?" tanyanya dengan nada jengkel karna sudah mengganggu tidurnya.
"Kata mama hari ini ada pertemuan penting dengan klien. Apa hari ini sudah bisa berangkat ke kantor?" Takut-takut Nayra bertanya, tapi ia coba memberanikan diri.
Erland lekas bangun dan menyibak selimutnya. Nayra langsung tanggap membawanya duduk ke kursi roda.
"Tapi, aku belum menyiapkan air mandi Anda. Sebentar—"
"Tidak usah!" Erland mendorong kursi rodanya sendiri ke kamar mandi. Tapi Nayra tak membiarkannya masuk ke sana sendiri. Ia mengikuti dari belakang, takut jika Erland kesusahan.
Saat hampir mencapai bath up, Erland terdiam. Tapi ia mulai meraba bath up dengan tangan, mencari posisi agar ia jatuh ke dalam sana.
"Tuan, Anda belum buka baju." Tangannya seperti mengusir, tapi Nayra tak gentar. Ia masih mencoba membantu Erland.
"Tuan—"
"Diam lah! Aku tidak perlu dikasihani! Jika aku terjatuh, biarlah! Aku tidak peduli! Bahkan sekalipun aku ma—"
"Tuan! Anda tidak boleh bicara seperti itu." Suara Nayra meninggi, ia benar-benar marah dengan ucapan suaminya barusan.
"Tau apa kamu tentang keadaan orang lumpuh? Kamu takkan pernah merasakan," kata Erland.
BUGHH!!!
Erland terjatuh sangat keras di sisi bath up. Tangannya kepeleset saat akan membawa tubuhnya jatuh ke dalam sana.
"Tuan ...." Nayra merasa sangat kasian melihat Erland kesusahan seperti ini.
__ADS_1
"Kamu tidak akan pernah merasakan, Nayra."
DEG.
Panggilan Nayra baru ia dengar saat ini. Nama itu lolos di bibirnya yang tak pernah memanggilnya dengan sebutan nama.
Nayra bisa melihat mata Erland memerah, seperti menahan tangis. Ia tahu posisi Erland saat ini, pria itu sangat terpukul dengan keadaannya sekarang. Pria gagah, kaya raya dan tampan itu harus mengalami kelumpuhan.
"Tinggalkan aku sendiri," ucap Erland.
Nayra akhirnya mengalah, setelah ia selesai membuka seluruh pakaiannya. Ia melangkah keluar, meninggalkan Erland sendirian di sana.
Entah ada apa dengan Erland, tiba-tiba suasananya menjadi menyebalkan seperti ini. Terkadang terlintas di pikirannya tentang nasibnya ke depan bagaimana.
"Mama ..." Tiba-tiba Rhianna membuka pintu kamar, dan tersenyum ke arahnya.
"Dimana Erland, Nay?"
Matanya mengarah pada pintu kamar mandi yang tertutup dan Rhianna paham.
"Kamu ikut ke kantor ya. Temani Erland, dia harus ada yang menemani takut kalau mau minta sesuatu terus kesulitan."
Sebagai menantu yang baik, ia hanya bisa mengangguk patuh.
"Apa kau tuli???" Erland kembali berteriak.
Nayra semakin kebingungan. "Nay, apa setiap hari Erland seperti ini?" Rhianna menyekal tangannya yang akan mendatangi Erland.
"Hmm tidak, Ma. Mas Erland masih marah kali sama Nayra," jawabnya sambil berjalan.
"Kenapa—" Ucapannya terpotong karna Nayra sudah masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah keduanya selesai mandi, sesuai permintaan Rhianna, Nayra harus ikut ke kantor.
Frans sudah bersiap di pinggir mobil. Saat Nayra sedang berjalan, pria itu tak hentinya memandangi kekasihnya itu. Perlu diakui, Nayra sekarang lebih cantik. Pakaiannya juga bagus-bagus.
Hingga sampai di mobil, Frans membantu Erland masuk ke dalam mobil. Selama perjalanan, semuanya diam. Tapi mata Frans tak hentinya melirik ke arah spion. Tepat dimana Nayra sedang bersender menolehkan kepalanya ke jalanan.
"Tuan, Anda sudah sehat?" Karna serasa canggung, Frans membuka pembicaraan. Nayra melirik ke arah suaminya yang diam. Karna merasa tak enak hati, akhirnya ia yang menjawab.
"Suamiku baik-baik saja," jawabnya.
Langsung berubah wajah Frans. Yang semula biasa aja tampak tegang. Urat-urat kemarahannya tercetak jelas.
__ADS_1
"Awas kamu Nayra!" geramnya.
Sampai juga di depan perusahaan milik Erland. Seperti biasa, kedatangan Erland akan disambut heboh seisi perusahaan.
"Bagaimana Mario apa ada masalah?" Pria yang menjabat sebagai asistennya itu menggeleng.
"Tidak ada, Tuan. Hanya saja ada sebuah perusahaan yang mau bekerjasama dengan kita dan keuntungannya lumayan besar. Tapi tak menutup kemungkinan sekali rugi akan rugi banyak."
"Perusahaan siapa?"
"Tuan Gio, Tuan," jawab Mario.
Cih!
BRAKKKK!!!!
"Jangan sampai pria itu sampai menginjakkan kaki kesini!" teriaknya.
"Baik, Tuan." Walaupun ia sudah menebak adanya penolakan, tapi Mario hanya mau menyampaikan saja.
"Tuan, saya boleh ke belakang? Mau ke dapur."
Tak ada jawaban juga. Sama seperti Frans tadi saat bertanya di dalam mobil. Tak peduli walaupun Erland belum menjawab, ia tetap nekat ke dapur.
Nayra penasaran, seperti apa penampakan di belakang.
"Nona ...." Semuanya serentak berdiri, mereka tak segan menjatuhkan makanan karna terlalu terkejut.
"Tidak apa-apa. Aku tidak akan marah. Lanjutkan saja. Aku hanya ingin membuat teh." Nayra mengambil cangkir dan juga menuangkan teh dan gula.
"Nona biar saya saja."
Berkali-kali Nayra menolak dan pada akhirnya mereka semua diam dan satu persatu meninggalkan kursi.
Tak butuh bantuan Nayra menyeduh teh sendiri. Satu cangkir teh, ia bawa dan duduk di sebuah bangku. Para staf kebersihan sudah mulai kerja kembali. Mereka tak mau bersantai di dapur karna ada Nayra. Takut jika kebiasaan mereka pada saat jam kerja akan diadukan pada suaminya.
Disaat sedang menyesap teh buatannya, ia akhirnya teringat akan suaminya. Ia pun membuatkan lagi satu cangkir untuk suaminya itu.
"Nona, biar saya saja. Ini tugas saya." Tapi Nayra bilang ini tidak apa-apa. Ia tetap membawa nampan berisi teh itu ke lantai atas dimana suami Nayra di sana.
Saat akan menaiki lift, ia ketemu dengan Frans.
"Teh untuk siapa? Suamimu?" sindirnya. Pria itu tertawa singkat. "Sudah mulai jatuh hati?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Apa sih! Jangan bicara omong kosong!" kata Nayra tidak terima dengan fitnahan itu.