CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH

CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH
BAB 23 PERGI SEBENTAR


__ADS_3

Di dalam sebuah ruangan yang khusus, masih berjalan rapat yang sangat penting. Pria bertubuh tegap dan tampan tapi bermata sipit itu berkali-kali tersenyum. Tanpa berpikir dua kali ia menyetujui kerja sama yang diajukan oleh tuan rumah. Ia setuju dan mempercayai pemimpin perusahaan itu. Tak ada keraguan walaupun fisik pemimpin itu tidak sempurna.


"Pembicaraan tentang bisnis sudah selesai, bukan?" Pria bermata sipit itu menutup berkasnya dan menyenderkan punggungnya. Asisten di sebelahnya merapikan berkas itu dan berpamitan untuk keluar, juga disusul oleh Mario-asisten Erland.


"Iya, Jack. Apa ada yang ingin kau bicarakan di luar bisnis kita?" Rupanya mereka adalah teman lama. Sudah tentu Jack tidak meragukan kinerja dari Erland.


"Aku penasaran dengan istrimu. Sayang sekali saat kamu menikah, aku tidak bisa datang. Bisakah kita makan malam bersama? Dengan membawa pasangan masing-masing," ajaknya kemudian dan Erland terdiam sesaat.


Teman lama di depan matanya bukanlah pria sembarangan. Ia tak mempercayai begitu saja dengan ucapan dirinya yang mengatakan hanya penasaran.


"Aku tidak punya banyak waktu," jawabnya singkat.


"Ayolah, Erland," bujuknya lagi. "Hanya makan malam bersama. Jika kamu tidak mau keluar, undang lah aku ke rumahmu."


"Akan aku pikirkan nanti," pasrahnya kemudian.


Sebuah senyuman tercipta di bibirnya, Jack kemudian berpamitan pulang. Saat Jack baru keluar dari ruangan, ia melihat seorang wanita berjalan melintasinya. Wanita itu terlihat tidak seperti seorang karyawan, ia memakai pakaian bebas. Dengan rasa penasaran, ia mengikuti langkah wanita itu.


"Nayra ...." Erland tiba-tiba di belakangnya, membuat Jack sedikit terkejut.


Nayra ternyata datang membawa makanan untuk suaminya, ia berdiri di depan pintu ruangannya. Jack yang melihatnya langsung menyunggingkan senyumnya.


"Perkenalkan aku Jack. Teman dari suamimu." Ia menyodorkan tangan dan memperkenalkan diri. Entah bagaimana Jack bisa tahu kalau wanita itu adalah istri Erland.


Nayra dan Erland langsung saling pandang begitu pun Mario.


"Kalian suami istri, kan?" tunjuknya bergantian pada mereka berdua.


Nayra hanya mengangguk singkat disertai kebingungan. "Rasa penasaran ku sudah lunas sekarang. Aku pulang dulu ya," bisiknya pada telinga Erland.


Kotak bekal yang ia bawa, segera ia letakkan di atas meja. Di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Erland sedari tadi hanya memilih diam, sedangkan Nayra sibuk mempersiapkan semuanya.


"Maaf, Tuan. Jika hari ini saya mengganggu Anda. Ini mama yang menyuruh saya untuk nganterin makan siang." Sudah pasti atas perintah dari Rhianna, tak mungkin ia berani datang tanpa perintah.


Erland masih mengamati istrinya sedari tadi. Tak ada yang berbeda dari istrinya. Ia tampil apa adanya tanpa berlebihan. Tapi untuk hari ini, rambutnya terlihat indah. Ia memakai aksesoris penjepit rambut ukuran kecil yang dipakai untuk menjepit poninya. Mungkin karna rambut poninya sudah agak panjang.

__ADS_1


"Apa kamu sudah coba?"


"Hah?" Nayra reflek merespon disertai bingung


"Yang dikasih mama."


"Oh, itu. Sudah, Tuan. Tadi pagi," jawabnya sedikit malu.


Erland teringat kejadian semalam, jika mengingatnya ia malu sndri. Bisa-bisanya ia tak bisa menahan hasratnya. Bahkan dirinya ditolak mentah-mentah oleh Nayra.


"Tuan, bolehkah saya meminta bantuan Anda?" Ujung dress-nya ia genggam erat-erat. Ia sebenarnya takut untuk mengatakan. Tapi ia tak punya banyak waktu.


"Hem." Erland berdehem singkat.


"Bi-bisakah Anda menyewakan kontrakan untuk paman dan bibi saya? Rumah mereka kebakaran. Dan saat ini mereka sedang menginap di rumah, tapi Alvin tidak suka jika serumah dengan paman dan bibi."


Tanpa basa-basi sebuah kartu Erland lemparkan ke atas meja. "Ambil itu dan gunakan semau mu," ucapnya kemudian. Bukannya membantu mencarikan kontrakan, Erland hanya memberikannya kartu.


Kartu itu telah berada digenggamannya, Nayra sekarang lega. Setidaknya masalah tentang Paman dan Bibinya akan segera selesai.


Setelah mendapat ijin dari Erland, Nayra pergi ke rumahnya. Berniat untuk menemui Paman dan Bibinya. Suasana di depan rumah terlihat sunyi, seperti tidak ada aktivitas. Tapi setelah ia membuka pintu, suara berisik tercipta dari arah belakang.


Ia bergerak cepat ingin mengetahui apa yang sedang terjadi di sana.


"Ya Tuhan, kenapa ini?" Nayra melihat keadaan dapurnya yang berantakan. Beberapa piring pecah berserakan di lantai. Terlihat Bibinya sedang memunguti pecahan itu.


"Nayra, kapan kamu datang?" Bibi terlihat terkejut melihat keponakannya yang tiba-tiba datang. "Maaf, Bibi tidak sengaja menjatuhkannya."


Ia melihat ke sekeliling, tidak ada yang berubah. Semua letak benda di rumahnya masih tetap sama. Hanya saja terlihat kotor seperti belum dibersihkan.


Keadaan halaman belakang rumahnya juga rumputnya sudah tinggi. Alvin pasti tidak sempat memotongnya.


"Nayra, Bibi sekarang tinggal di sini. Karna—"


"Nayra sudah tahu, Bi. Dan Nayra ingin Bibi dan Paman jangan tinggal di rumah ini."

__ADS_1


Kedua matanya berkaca-kaca, sungguh dirinya tidak percaya pada ucapan keponakannya itu. Jari jemarinya bertaut dan menunduk perlahan.


"Kamu mengusir Bibi?" lirihnya kemudian.


"Tidak, Nayra akan carikan kontrakan untuk paman dan Bibi," ucapnya.


"Loh, memangnya kenapa kalau di sini? Bukankah lebih baik karna bisa menemani Alvin juga."


Walaupun mereka pernah jahat dengan dirinya dan Alvin, tapi kehadiran mereka di sini sebenarnya sedikit membuat tenang Nayra. Setidaknya Alvin tidak sendirian tinggal di sini. Tapi adiknya itu tidak nyaman bersama mereka.


"Nayra akan carikan kontrakan yang dekat dengan kedai paman." Nayra tak berubah pikiran, ia tetap akan mencarikan kontrakan.


.


.


Satu piring kentang goreng beserta saos menjadi teman menunggunya. Mulutnya tak berhenti mengunyah berbagai cemilan yang ia pesan. Satu gelas jus melon hampir saja habis.


Sebuah cafe favorit yang ia datangi setiap ke daerah ini. Tak pernah melewatkan untuk berkunjung. Pegawai cafe pun seperti sudah hafal dengan wajahnya.


Cincin yang melingkar di jari manisnya dengan cepat ia lepaskan dan dimasukkan ke dalam tas. Saat seseorang yang ia tunggu akhirnya datang. Hari ini pria bertubuh tegap itu berpenampilan casual. Celana jeans dengan perpaduan kaos polos hitam juga jaket jeans. Rambutnya ia biarkan sedikit berantakan.


"Maaf ya, Sayang. Kamu pasti menunggu lama," ucap Frans lalu membelai pipinya halus. Entah reflek atau memang tidak suka, Nayra menghindar cepat. Dia menepis tangan kekasihnya itu.


"Tempat umum!" serunya kemudian. Dia menatapnya dengan pandangan tak suka.


"Baiklah." Frans kemudian merogoh saku jaketnya dan memberikan sebuah bukti pembayaran. "Hari ini tempatnya sudah bisa ditempati."


Nayra meminta tolong ke Frans untuk mencarikan kontrakan disekitar kedai milik pamannya. Frans pun sengaja meminta libur hari ini agar bisa bertemu dengan Nayra sepanjang waktu.


"Untuk imbalannya, aku ingin pergi jalan-jalan berdua denganmu." Tentu saja Nayra terkejut, karna tak ada pembicaraan dari awal kalau setelah ini mereka akan pergi jalan berdua.


"Aku gak bisa, Frans. Aku ijin ke Erland sebentar saja."


Frans meletakkan cangkir kopinya dengan kasar setelah menyesapnya sedikit. "Kamu menolak aku? Demi pria lumpuh itu?"

__ADS_1


__ADS_2