CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH

CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH
BAB 29 BERDUA


__ADS_3

Tubuhnya langsung berbalik, tak mau menghadap ke suaminya. Seketika pipinya langsung merah merona. Tampak panas disekitar wajahnya.


"Ayo mandi ...." Tangannya tiba-tiba ditarik oleh Erland, membuat Nayra akhirnya ikut masuk ke dalam kamar mandi. Ia lantas membantu Erland untuk duduk di bath up.


"Jangan, Tuan ...." Nayra menolak untuk ikut masuk di bath up yang bisa digunakan dua orang itu.


Mendapat penolakan dari Nayra, Erland langsung terdiam. Dia memilih membersihkan tubuhnya sendiri. Melihat Erland yang sepertinya mendiamkannya, Nayra secara tiba-tiba bertindak di luar dugaan.


"Ayo mandi bersama, Tuan." Nayra melucuti pakaiannya hingga tersisa pakaian dalam. Ia masuk ke dalam kubangan air berisikan sabun itu.


Erland tak mengedipkan mata melihat tubuh Nayra yang ternyata indah. Walaupun tak seutuhnya polos, tapi itu sudah membuat kejantanannya bangkit.


Ia menelan salivanya sendiri. Tak melewatkan satu momen pun gerak gerik Nayra. Tangannya yang putih terpampang jelas di depan matanya. Kulit tubuhnya juga seputih susu. Rambutnya setengah basah karna terkena cipratan air.


Tak kuat dengan sensasi panas yang diciptakan Nayra, Erland perlahan meraba dinding bath up dan mulai merambat mengenai tubuh Nayra.


Dan ....


KLONTANG !!!!


Botol sampo yang ingin ia raih malah terjatuh tepat di depan kaki Nayra.


Nayra langsung tersadar dan melihat botol sampo menggelinding hampir mengenai kakinya. Lamunannya langsung buyar seketika.


"Bawa sini!" teriak Erland.


Nayra langsung menyodorkan botol sampo itu dan kembali berdiri ke tempat semula.


"Ya Tuhan, Nayra. Apa yang kamu pikirkan?"


Setelah Erland selesai mandi, ia pun memakaikan pakaian untuknya.


"Hey ...." Erland menyentuh dagunya dan membuat wajah Nayra menghadap dekat padanya. "Cepat mandi!" usirnya seraya menunjuk kamar mandi.


Nayra langsung terbangun dan masuk ke dalam kamar mandi. Dibalik pintu, ia memegang dadanya yang berdebar-debar.


"Apa maksudnya? Kenapa dia menyuruhku mandi? Apa malam ini?" Nayra menepis pikiran kotornya, ia menggelengkan kepalanya. Tak mungkin hal itu akan terjadi.


.


.


Sebuah hidangan lezat sudah tersaji di meja kecil dalam kamar. Mereka duduk bersama saling berdekatan. Nayra lebih dulu menyantap makanannya karna merasa lapar.


"Tuan, Anda tidak makan?"

__ADS_1


"Tidak nafsu, aku mau tidur saja." Nayra langsung bangkit dan membantu Erland untuk naik ke atas ranjang.


Tapi saat ingin kembali makan, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Sebuah panggilan dari nomer ia kenali mengejutkannya.


"Frans ...."


Erland memperhatikan Nayra saat istrinya itu tak kunjung mengangkat panggilan itu hingga bunyinya membuat dirinya terganggu.


"Siapa?" tanya Erland saat deringnya sudah berhenti.


Nayra langsung gelagapan dan memutar otaknya untuk segera berpikir.


"Hmm, i-ini tadi bibiku," jawabnya agak terbata.


Erland tak serta-merta percaya dan meminta Nayra untuk memberikan ponselnya padanya. Jelas saja Nayra menolak dan itu termasuk pelanggaran.


"Tuan, bukankah kita akan berpisah setelah satu tahun pernikahan? Tentu hubungan kita juga ada jarak, kan?"


"Kau mulai menentangku?" Suaranya meninggi dan wajahnya merah padam. Terlihat sangat marah dan membuat Nayra ketakutan. "Kau siapa, berani mengaturku?"


Seketika nyali Nayra menciut, ia lantas terdiam dan menunduk.


Erland tiba-tiba melemparkan bantal ke lantai. "Tidur di bawah!" perintahnya kemudian.


Nayra yang paham akhirnya mengambil bantal itu dan memilih menyelesaikan makannya lebih dulu. Satu suap demi suap mendarat di mulutnya. Ia makan banyak malam ini karna jatah dari Erland, ia habiskan juga.


"Nayra!!!!!!" teriaknya menggema di dalam kamar. Nayra pikir, suaminya itu sudah tidur malah ternyata belum tidur.


"Iya, Tuan. Ada apa?"


"Aku mau makan!"


DEG.


Seketika dadanya langsung mencelos. Ia menelan salivanya yang masih beraromakan makanan lezat.


"Maaf, Tuan. Makanannya sudah habis." Nayra menunduk takut tak berani menatap Erland.


"Ganti bajumu dan temani aku makan di luar."


Nayra langsung mengangkat kepalanya dan menatap Erland yang tampaknya berbicara dengan mode serius.


"Cepat pakai baju yang bagus!" perintahnya lagi karna tak melihat Nayra bergerak.


Dengan rasa malas dan sedikit mengantuk, Nayra akhirnya menuruti permintaan suaminya. Ia yang sudah kenyang dan bersiap untuk tidur dengan terpaksa keluar dari kamar.

__ADS_1


Ia memakai dress warna merah maroon lengan pendek dengan panjang selutut kaki. Sedangkan Erland hanya memakai kaos santai dengan celana pendek.


"Tuan, mau makan dimana?" Nayra menguap sambil mendorong kursi roda suaminya menuju lift.


Erland mengarahkan untuk mencari tempat makan di luar penginapan. Tapi dengan keadaan Erland yang memakai kursi roda tentu sangat menyulitkan baginya. Apalagi jalanan yang mereka lalui tidak selalu datar.


Di sini tidak ada pelayan atau pun sopir yang membantu mereka. Mereka benar-benar bulan madu hanya berdua.


Peluh keringat yang menetes terus disembunyikan Nayra. Ia tidak mau suaminya mengetahuinya. Mereka menyelusuri jalanan melalui trotoar. Di bawah langit yang gelap mereka jalan berdua. Tentu banyak pasang mata yang memperhatikan keduanya. Mereka berpikir bahwa mereka adalah pasangan yang saling mencintai dan menerima kekurangan masing-masing.


"Berhenti!" Kepalanya menoleh pada sebuah kedai makanan kecil yang sepi pengunjung. Terlihat dari luar bahwa hanya ada dua pelanggan yang sedang makan.


"Mau makan di sini, Tuan?"


Suaminya mengangguk dan Nayra langsung membelokkan kursi rodanya. Tangannya mendadak kram saat ia tak lagi menggenggam pegangan kursi roda itu. Kini mereka sudah duduk di sebuah meja di pojok ruangan.


Satu pelayan mendatangi mereka dan memberikan buku menu. Pelayan wanita yang berpenampilan rapi itu sudah siap siaga dengan buku dan pulpen di tangannya.


"Masih sisa berapa stok makanan di sini?" tanya Erland membuat kedua wanita itu saling memandang tak mengerti.


"Stok makanan, Tuan? Masih banyak," jawab pelayan itu.


"Bungkuskan semua dan berapa totalnya."


DEG.


DEG.


"Tuan?" Nayra kebingungan tapi tidak dengan pelayan itu yang malah sudah pergi entah kemana. "Anda mau membeli semuanya? Siapa yang mau menghabiskan?" tanyanya kemudian.


Melihat tatapan Erland, Nayra langsung menutup mulut saat dirinya ingin berbicara kembali.


"Diamlah," kata Erland.


Cukup lama mereka menunggu, hingga beberapa pelayan datang membawa beberapa plastik besar. Terlihat raut wajah mereka yang sangat bahagia.


"Terimakasih, Tuan. Saya pemilik kedai ini, dari lubuk hati yang paling dalam saya mengucapkan terimakasih atas kebaikan Tuan dan Nona." Pria tua yang rambutnya sudah memutih itu menunduk dengan rasa hormat serta mengucapkan banyak terimakasih.


"Saya ambil satu bungkus makanan. Sisanya kalian bagikan ke orang-orang."


Nayra tak berhenti menatap suaminya itu, dia tidak menyangka bahwa pria yang berada di sebelahnya ini ternyata punya hati yang tulus.


"Baik, Tuan."


Erland bukan hanya kaya harta tapi juga kaya hati.

__ADS_1


"Dia benar-benar pria yang baik."


__ADS_2