CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH

CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH
BAB 52 JATUH SAKIT LAGI


__ADS_3

Di rumah sakit ternama Erland dan Mario dirawat. Setelah ditemukan hampir meninggal karna kelaparan. Tubuhnya sudah lemas tak bertenaga. Juga Erland yang sebenarnya fisiknya masih belum sembuh total dari kemarin sakit.


Tak ada yang bisa Rhianna lakukan selain menangis. Melihat putranya seperti ini. Hatinya hancur dan sakit saat melihat putranya terbaring di rumah sakit berkali-kali.


Fisiknya pun ikutan drop dan dadanya sering merasa sesak. Tapi ia sebisa mungkin harus sehat untuk menemani putranya.


"Nyonya, di luar ada—" Bi Har memotong perkataannya karna ragu untuk mengatakan. Juga ia takut jika Rhianna akan marah.


"Siapa?" tanyanya. Melihat Bi Har yang hanya menunduk, ia pun bangkit dan menghampiri sendiri seseorang yang ada di depan.


"Ma ... Eh maksud aku Bibi Rhianna." Stella datang sembari membawa bingkisan, ia mendengar bahwa mantan kekasihnya itu sedang dirawat.


Sudah lama mereka tidak bertemu, Rhianna memandangi mantan calon menantu yang tidak jadi itu.


"Hanya mau memberikan ini, Bi. Jika Stella tidak dibolehkan masuk tidak apa-apa," ujar Stella lagi. Stella bingung karena Rhianna tak mengeluarkan suaranya. Tapi tiba-tiba Rhianna membuka pintu lebar seperti menyuruhnya masuk.


"Stella boleh masuk?" tanyanya memastikan.


"Masuklah. Tapi Erland belum sadar."


Wanita itu tersenyum senang dan langsung melangkah masuk. Dilihatnya Erland memang masih terbaring lemah. Wajah dari sang mantan yang sebenernya susah untuk ia lupakan.


"Kamu sudah ijin suamimu mau kesini?"


Wanita cantik itu menaruh bingkisan di atas meja dan kini menatap Rhianna seraya tersenyum singkat. "Kita sudah berpisah, Bi."


DEG.


Sudah lama tak mendengar berita apa pun dari Stella. Soal perpisahannya pun juga tak sampai di telinganya.


Rhianna melihat keduanya bergantian. Sebenarnya mereka adalah pasangan yang sangat serasi. Mungkin saja kalau takdir mereka berjodoh, mungkin Erland tak kan mengalami semua ini. Dia hidup bahagia dengan Stella yang merupakan cinta pertamanya.


.


.


Sebuah cincin yang ia taruh di sebuah kotak perhiasan, selalu ia pandang setiap saat. Tak lagi ia pakai tapi selalu ia lihat. Cincin pernikahan antara dirinya dan Erland sengaja tidak ia kembalikan. Ia menyimpannya sendiri entah untuk tujuan apa.


"Nayra ...." Suara lembut dari Bibi Ranny menyudahi dirinya yang sedang menatap cincin itu tak henti. Ia meletakkan kotak itu ke tempat semula dan menghampiri Bibi Ranny. Beliau ternyata selesai pulang kerja dan membawa sebuah makanan.

__ADS_1


"Makanlah. Bibi membelikan ini hanya untukmu." Beberapa waktu yang lalu Nayra sempat berucap menginginkan sebuah makanan dan Bibi Ranny lah yang mengetahui.


"Tidak ada yang suka makanan ini selain kamu. Jadi, habiskan ya," ucap Bibi Ranny lagi.


Nayra mengatakan terimakasih dengan wajah bahagia. Dia bersyukur memiliki keluarga yang sangat perhatian terhadapnya.


Satu suap demi suap ia nikmati sendirian. Merasakan enaknya makanan itu sembari mengelus-elus perutnya.


"Ini, Kak. Jus jeruknya." Alvin datang membawa minuman yang ia inginkan. Entah mengapa akhir-akhir ini ia suka meminum jus jeruk. Padahal dulu ia tak terlalu suka.


"Ini kesukaan tuan Erland," ucapnya lirih. Dia mengingat saat dulu baru bekerja di rumah itu dan Erland menyuruhnya untuk membuatkan jus jeruk. Minuman berwarna oren itu selalu menjadi minuman favoritnya hampir setiap hari.


Ia mengingat saat Erland marah saat dirinya terlalu lama membuat jus jeruknya. Dirinya yang tak suka sesuatu yang berbau lama, akhirnya membanting gelas itu dengan kesal.


.


.


.


Beberapa bulan kemudian .....


"Tuan, saya bingung." Mario lah yang kini menghandle semua urusan perusahaan. Dirinya yang tak se-ambisius Erland dan juga tak sepintar Rhianna menjadi sangat kewalahan. Kelangsungan perusahaan kini berada di tangannya.


Erland menatap Mario-asistennya yang kini menundukkan wajahnya. Wajahnya terlihat lesu dengan lingkaran mata yang hitam.


"Kau lelah?" Kini ia sadar akan satu hal bahwa keadaan sekitar telah berubah.


"Tidak, Tuan." Mario menahan air matanya, bukan karna lelah tapi ia juga merasa iba dengan keadaan Erland dan Rhianna. Dia adalah pengabdi setia keluarga itu, tak pernah ada rencana licik yang ia susun. Mungkin jika seseorang berada di posisinya saat ini mungkin saja mereka bisa bertindak jahat dengan menguasai semua aset perusahaan.


"Aku ingin bertemu dengan Frans untuk yang terakhir kalinya," ujar Erland. Permintaan Erland yang tak disangkanya. Untuk apa bosnya itu ingin menemui Frans kembali yang kini sudah mendekam di sel penjara lagi.


"Baiklah, besok akan saya antar Anda ke kantor polisi."


Sudah beberapa hari ini Erland bertemu dengan Nayra di alam mimpi. Hampir di setiap malamnya wajah polos wanita itu selalu hadir.


Dan keesokan harinya, sesuai janji Mario. Ia mengantarkan Erland ke kantor polisi.


Frans datang tanpa berani menatap keduanya.

__ADS_1


"Katakan yang jujur. Aku ingin mendengar kejujuran darimu."


Frans sudah menebak tentang apa yang ditanyakan Erland.


FLASHBACK ON


Nayra menangis tersedu-sedu di belakang rumah sakit. Saat Rhianna memergokinya berdua dengan Frans, Rhianna langsung marah dan menampar pipi keduanya.


"Baguslah, nyonya sudah tahu. Kamu dan pria lumpuh itu akan segera berpi—"


"Tidak bisa! Tidak bisa!" Nayra terus menangis. Dia sampai membekap mulutnya sendiri karna malu suara tangisnya kedengaran orang lain.


"Kenapa?" Frans mengguncang tubuhnya.


"A-a-ku ...." Nayra tergagap rasanya sulit sekali untuk mengatakan. "A-aku hamil!" Suara lantang terdengar, ia kembali menangis tersedu-sedu. Dia tak bisa bersama dengan Frans lagi, ia telah hamil. Hamil anak dari Erland.


Bagai kejatuhan meteor di siang hari, ia benar-benar terkejut. Ia terduduk di kursi dengan hati yang benar-benar hancur.


"Aku hamil, aku tak bisa bersama mu lagi," ujarnya dengan tangis belum reda.


"Kau—" Frans tak sanggup bicara. Wanita yang telah ia cintai bertahun-tahun kini telah ingkar janji. Wanitanya itu telah tidur dengan pria lain dan kini sedang hamil.


"Maafkan aku." Frans yang kecewa langsung pergi. Ia juga membawa hatinya yang penuh luka.


FLASHBACK OFF


"Anak yang dikandung Nayra adalah anakmu. Nayra gadis yang baik, kami tak pernah berhubungan sampai jauh seperti itu. Kamu harus mencari Nayra, dia tak boleh menghadapi kehamilan seorang diri."


Tanpa menunggu jawaban dari Erland, ia langsung pergi meninggalkan ruang besuk. Hatinya masih hancur dan mendekam di penjara lebih baik daripada hidup berkelana di luar.


"Mario, kemari lah." Erland langsung menelepon Mario yang menunggu di luar.


"Kok sebentar, Tuan. Mana Frans-nya?"


"Cari Nayra sampai ketemu!" Erland ingin sekali bertemu dengan Nayra, ia ingin melihat sendiri calon bayinya. Setidaknya ia harus tanggung jawab atas apa yang sudah ia perbuat.


"Baik, Tuan. Saya akan lebih berusaha kembali."


Jejak Nayra memang tak bisa dibaca, karna tak ada seorang pun yang tahu soal silsilah keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2