CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH

CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH
BAB 38 TERBONGKAR


__ADS_3

Sebuah pesan singkat masuk menggetarkan ponselnya yang ia letakkan di atas meja rias. Sementara dirinya tengah menyisir rambutnya yang setengah basah.


[Ayo keluar. Aku rindu jalan-jalan malam denganmu.]


Bukannya cepat membalas, rasanya ia enggan untuk sekedar membaca tuntas pesan masuk itu.


Drrttt Drrttt ....


Sebuah panggilan masuk tentu dengan nomer yang sama mengirimkan pesan untuknya.


"Jangan buat masalah. Besok saja kita pergi ke tempat biasa!" Ia lekas menutup telepon bahkan sebelum orang disebrang sana menjawabnya.


"Menyebalkan! Tidak tahu waktu!" gerutunya.


TOK!


TOK!


TOK!


Bunyi ketokan pintu seketika membuat jantungnya berdebar.


"Tidak mungkin dia senekat itu, kan?"


KLEK.


Nayra membuka pintu dengan hati-hati. Dan ternyata Bi Har yang berada di depan pintu kamar. Pelayan senior itu tersenyum dan memberikan sesuatu yang ia bawa. Sebuah kantong kresek berwarna putih entah berisikan apa.


"Ini ada sedikit oleh-oleh untukmu, Nayra." Ia baru ingat bahwa Bi Har baru saja pulang kampung dan ternyata pelayan senior itu masih menyempatkan memberikan oleh-oleh untuknya.


"Terimakasih, Bi." Ia menerima dengan senang hati. Kalau memandang Bi Har, ia jadi teringat mendiang ibunya sendiri.


"Wajahmu kelihatan pucat, Nay. Apa kamu sedang tidak enak badan?" tanyanya dengan penuh rasa khawatir.


Ia tak menyadari bahwa wajahnya pucat karena yang ia rasakan hanyalah kelelahan biasa. Mungkin karna tadi siang baru saja berpergian bersama Rhianna.


"Kecapekan aja, Bi. Tadi siang habis pergi dengan mama Rhianna."

__ADS_1


Bi Har mengangguk singkat lalu menyuruh Nayra untuk kembali masuk dan beristirahat.


"Kamu sedang apa di sini, Frans?" Bi Har memergoki Frans yang sedang berdiri di antara lorong tembok antar dua ruangan itu. Menurutnya sangat aneh jika Frans berada di sekitar ruangan itu, karna ia tidak punya andil untuk jalan-jalan ke area itu.


"Cari angin saja. Saya jenuh," jawabnya asal.


"Lebih baik kalau mau cari angin ke depan atau ke halaman belakang. Jangan jalan-jalan ke area kamar nona dan nyonya." Bi Har memberitahu pada Frans untuk menjaga sikapnya.


"Iya. Saya kembali ke kamar saja." Frans berlalu pergi, ia pun tak terlalu memikirkan apa yang sudah Bi Har katakan barusan.


.


.


Di tempat lain, Erland yang sedang membersihkan dirinya di bath up berkali-kali menahan kesal pada Mario-asistennya. Mungkin karna belum terbiasa membantu dirinya untuk melakukan segala sesuatu, Mario sedikit kesulitan. Apalagi untuk membantu dirinya mandi.


"Hey! Apa kau ingin aku mati kedinginan di sini?"


Erland sudah selesai membersihkan tubuhnya, tapi Mario tak terdengar suaranya. Entah berada di mana manusia itu. Mario asal pergi saat sudah berhasil mendudukkan Erland di bath up. Entah sudah berapa menit Erland menahan kedinginan.


"Mariooooo!!!!!" teriaknya menggema. Entah kedengaran sampai ke luar atau tidak. Karna pintu kamar mandinya, Mario tutup rapat.


"Maaf, Tuan." Tiba-tiba Mario datang setelah ia berhenti mengumpat. Asistennya itu langsung mengangkat tubuh bosnya ke atas kursi roda. Ia juga cekatan memakaikan pakaian bosnya.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Erland langsung menebak perubahan wajah Mario yang seringkali ceria kini berubah muram. "Darimana saja tadi? Apa kau pura-pura tidak dengar saat aku memanggilmu?"


Mario masih terdiam dengan mimik wajahnya yang masih muram. Dia membantu membaringkan tubuh bosnya ke atas ranjang, lalu memakaikan selimut karna hari sudah malam.


"Mario!" panggilnya dengan nada keras.


"Saya sudah dapat info, Tuan. Dari seseorang yang telah aku perintahkan untuk mencari tau identitas pria yang Anda curigai."


Erland langsung terduduk dengan perubahan ekspresi penuh penasaran.


"Mana? Apa saja yang kau dapat?" tanyanya tak sabar.


Mario lekas menatap bosnya itu dengan tatapan sendu. Dia tak berani untuk mengungkapkan semuanya. Ini terasa tidak masuk akal.

__ADS_1


"Mario! Mana cepat? Aku akan beri bonus nanti," ucapnya dengan janji.


Ia kemudian memberikan laptop miliknya. Sebuah layar yang telah menampilkan seluruh identitas pria itu beserta dengan latar belakangnya.


Seketika Erland meremas sprei dengan kuat. Ia begitu marah setelah membaca history pria tersebut.


"Penipu," lirihnya dan tiba-tiba Erland terjatuh. Dia kehilangan kesadaran. Mario sangat panik dan langsung menelepon seorang dokter.


****


Di sebuah rumah sakit ternama, langkahnya tergesa-gesa untuk segera sampai di ruang perawatan. Ia baru saja mendapat kabar bahwa Pamannya masuk rumah sakit karna kecelakaan. Tapi baru saja masuk pada lorong rumah sakit, tiba-tiba kepalanya berputar. Ia sampai memegangi tembok untuk menjaga keseimbangannya.


"Nona, Anda tidak apa-apa?" Seorang perawat yang kebetulan lewat langsung sigap dan menuntun Nayra untuk duduk.


Wanita itu menggelengkan kepala dan mengatakan tidak apa-apa. "Tidak apa-apa. Saya hanya kelelahan," ujarnya dengan senyum sumringah.


Alvin yang melihat kakaknya dari kejauhan langsung datang menghampiri.


"Kakak sudah ditunggu bibi Ranny di dalam," ucap Alvin yang tidak menyadari bahwa kakaknya sedang menahan sakit.


"Iya. Ayo ke sana," ajak Nayra kemudian.


Di dalam ruang perawatan yang luasnya standar, di sana sudah ada Bibi Ranny sedang duduk dengan matanya yang berlinang. Ia menggenggam erat jari jemari suaminya yang terbaring lemah dengan banyak luka di sekujur tubuhnya.


"Nayra, tolong Bibi." Bibi Ranny tiba-tiba berlutut sesaat Nayra baru saja masuk. Ia bahkan tak segan memegangi kakinya seraya terisak-isak.


"Bibi jangan seperti ini." Nayra mengangkat tubuh Bibinya agar tidak berlutut padanya. Ia tidak nyaman dengan perlakuan seperti itu.


"Nayra, Paman mu harus dioperasi secepatnya. Tapi biayanya sangat mahal, uang dari kedai tidak cukup. Bibi bingung harus minta tolong siapa lagi." Akibat kecelakaan tunggal yang terjadi pagi tadi, Paman Leo harus mendapat penanganan intensif. Lalu dokter menyarankan untuk segera dilakukan tindak operasi karna ada beberapa tulangnya yang bergeser atau pun patah.


Nayra juga sangat sedih melihat keadaan pamannya saat ini. Mudah baginya untuk menolong mereka. Tapi kartu atm yang ia miliki bukanlah kebebasan untuknya. Ia masih merasa canggung untuk sekedar menggunakan untuk hal pribadinya. Dan tentu biaya operasi tidaklah satu juta dua juta, pasti puluhan juta.


"Baiklah. Nayra akan membiayai biaya operasi Paman." Ia lantas ke ruang pembayaran. Ia melunasi semuanya walaupun nanti ada biaya susulan seperti biaya ruang rawat.


Ia menggunakan atm yang diberikan Erland, entah isinya ada berapa tapi saat ia membayar biaya operasi yang mahal itu nyatanya saldonya tidak kurang. Hanya dalam hitungan detik, semua biaya terbayar dengan lunas.


Erland yang masih mengunyah sisa roti bakar di dalam mulutnya langsung terkagetkan dengan bunyi notifikasi dana keluar yang berasal dari atm istrinya.

__ADS_1


"Apa????? 20jt???" Erland hampir saja melemparkan ponselnya karna terlalu terkejut. Bukan nominalnya yang terlalu besar baginya, tapi ia terkejut karna selama ini Nayra tak pernah membelanjakan atmnya sampai sebanyak itu.


"Kurang ajar!" geramnya kemudian.


__ADS_2